Jombang-(satujurnal.com)
Polres Jombang, Jawa Timur, Jumat (19/12/2025) pagi, menyalurkan bantuan sembako dan uang tunai kepada puluhan mahasiswa asal Aceh dan Sumatra yang keluarganya menjadi korban banjir dan tanah longsor di daerah asal. Bantuan tersebut diberikan untuk meringankan kebutuhan harian mahasiswa perantauan yang kehilangan kiriman bulanan akibat komunikasi dengan keluarga terputus pascabencana.
Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan menjelaskan, bantuan yang diberikan merupakan bentuk kepedulian agar mahasiswa rantau tetap bisa bertahan hidup dan fokus berkuliah di tengah kondisi psikologis yang terguncang.
“Tali asih ini memang tidak seberapa, tetapi kami berharap dapat meringankan beban mereka agar tetap bertahan hidup dan fokus menempuh pendidikan,” ujarnya.
Polres menilai, krisis ekonomi dan psikologis akibat bencana membuat mahasiswa perantauan berada dalam tekanan berlapis, mulai dari terhentinya kiriman bulanan, rasa cemas, hingga terputusnya kabar keluarga.
“Kami siap menjadi keluarga kedua bagi mereka. Tali asih ini adalah bentuk kepedulian masyarakat Jombang,” kata Kapolres.
Penyerahan bantuan berlangsung di Mapolres Jombang dan melibatkan jajaran Polsek. Polres berharap mahasiswa terdampak dapat kembali berkonsentrasi mengikuti kuliah, meski dengan beban mental yang tidak ringan.
Rendi Adi Putra, mahasiswa asal Aceh Singkil, mengaku sempat syok saat mengetahui keluarganya terdampak bencana. Ia hanya bisa memantau kondisi keluarga melalui kabar terbatas dari kerabat.
“Sebagai perantau, kabar seperti itu membuat tidak tenang. Kita satu–dua tahun sekali pulang. Ketika banjir besar datang dan komunikasi terputus, rasanya syok sekali,” tuturnya.
Ia menyebut kondisi komunikasi kini mulai membaik di Aceh Singkil. Namun, di beberapa wilayah seperti Aceh Tamiang, jaringan masih hilang timbul dan akses sejumlah jembatan masih terputus.
Rendi juga berharap pemerintah daerah bertindak tegas terhadap pihak yang memperparah dampak bencana.
“Semoga bencana seperti ini tidak terjadi lagi. Dan PT perkebunan sawit yang ilegal tolong segera dieksekusi pemerintah, terutama pemerintah daerah Aceh,” katanya.
Kisah berbeda datang dari Rosita, mahasiswa asal Aceh Gayo Luwes. Ia sempat kehilangan kontak dengan keluarga hampir sepekan karena kabel listrik terputus dan jaringan telekomunikasi padam.
“Terakhir bisa berkomunikasi sekitar tanggal 1 atau 2 Desember. Setelah itu menunggu. Rasanya bingung, apakah keluarga selamat atau tidak. Banyak rumah warga terbawa arus,” ujarnya dengan suara berat.
Keluarga Rosita kini tinggal di dataran tinggi karena khawatir terjadi banjir susulan. Komunikasi hanya dapat dilakukan pada titik tertentu, bahkan terkadang menggunakan Starlink.
Rosita mengaku kiriman uang bulanan terhenti sejak bencana. Untuk bertahan hidup di rantau, ia mengandalkan bantuan teman dan senior yang bekerja sambil kuliah.(rial)



