Besok pagi, suasana Car Free Day Meri Kota Mojokerto akan berbeda. Bukan karena spanduk atau pengeras suara, melainkan karena niat yang berjalan pelan di antara langkah-langkah warga.
Di hari bebas kendaraan bermotor,, Reog akan hadir. Tidak untuk memamerkan tenaga, tidak pula sekadar mengisi keramaian. Ia datang sebagai isyarat, bahwa seni masih punya urusan dengan empati.
Judul itu tertulis jelas di poster: Reog Ponorogo Shatrio Tunas Mudho. Di bawahnya, tema yang tak mencoba puitis: Galang Dana untuk Sumatra. Masuk gratis. Seolah sejak awal ingin menegaskan bahwa pagi besok bukan tentang siapa memberi apa, melainkan tentang bagaimana kebersamaan dimulai.
Shatrio Tunas Mudho memilih pagi. Waktu ketika kota belum sepenuhnya terjaga, dan orang-orang masih terbuka untuk disentuh. Nama mereka berarti prajurit muda yang bersemi kembali. Dalam pengertian ini, prajurit bukan mereka yang membawa senjata, melainkan mereka yang bersedia menari sambil mengajak.
Reog yang akan ditampilkan membawa wajah-wajah lama: Dadak Merak dengan beban berat di kepala, Bujang Ganong yang lincah dan jenaka, Warok yang tegak dan sunyi. Semua itu bukan kostum belaka. Ia adalah cerita tentang disiplin, keberanian, dan ketahanan, nilai-nilai yang besok pagi dipinjam untuk satu tujuan kemanusiaan.
Bencana di Sumatra terasa jauh jika dilihat dari peta. Tapi seni punya cara sendiri untuk memendekkan jarak. Di antara langkah pelari pagi dan keluarga yang membawa anak kecil, kotak donasi akan diletakkan. Tanpa teriakan. Tanpa paksaan. Reog dibiarkan bekerja dengan caranya sendiri, menggugah tanpa menunjuk, mengajak tanpa menggurui.
Car Free Day dipilih karena ia adalah ruang bersama. Di sana, status sosial melebur. Seniman dan penonton berdiri sejajar. Gotong royong menemukan bentuk paling sederhana: berhenti sejenak, menoleh, lalu memberi semampunya.
Catatan ini ditulis sebelum segalanya terjadi. Sebelum tabuhan dimulai, sebelum uang terkumpul, sebelum orang-orang pulang dengan cerita masing-masing. Namun menunggu peristiwa sering kali lebih jujur daripada merayakannya. Di titik menunggu itu, niat diuji.
Dan niat itu bukan barang baru.
Shatrio Tunas Mudho bukan nama yang tiba-tiba muncul. Ia tidak singgah. Ia menetap. Sepanjang 2025, Reog mereka berulang kali hadir di ruang-ruang yang sama: Car Free Day Meri, pasar rakyat, hajatan kampung, acara keagamaan. Tidak sebagai kejutan, melainkan sebagai kebiasaan yang dirawat.
Basis mereka sederhana di lingkungan Kuwung, Kelurahan Meri. Di sanalah latihan berlangsung, generasi muda dibina, dan Reog dijaga agar tidak terputus. Afiliasi dengan Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda memberi fondasi disiplin: bahwa seni bukan hanya ekspresi, tetapi tanggung jawab.
Siswanto, akrab disapa Siro, mengasuh sanggar ini dengan dua kepekaan sekaligus: jurnalis dan penggiat budaya. Ia terbiasa mendengar sebelum berbicara. Bersama para pengurus, Shatrio Tunas Mudho bergerak tanpa slogan besar. Yang mereka rawat justru kontinuitas.
Jejak itu bisa dilihat dari tempat-tempat yang mereka datangi. Di Car Free Day Meri, Reog mereka tidak hanya mengundang kerumunan, tetapi ikut menggerakkan ekonomi kecil. Di pasar-pasar rakyat, mereka datang bukan sebagai latar, melainkan sebagai pengikat. Bahkan atraksi-atraksi khas dari Ganong yang meloncat hingga sembur naga api, bukan sebatas sensasi, melainkan cara menjaga ingatan.
Nama mereka menyimpan filosofi yang tidak ringan. Shatrio: prajurit pilih tanding yang berjalan pada nilai. Tunas Mudo: generasi yang bersemi kembali. Regenerasi. Kata itulah yang menjelaskan mengapa ada anak-anak kecil menari Ganong, mengapa tubuh-tubuh muda belajar menanggung beban Dadak Merak, dan mengapa latihan berulang dilakukan jauh dari sorotan.
Media sosial hanya merekam sebagian. Video menampilkan tabuhan dan sorak. Yang luput adalah disiplin, lelah, dan kesetiaan untuk terus hadir. Karena itulah poster untuk besok pagi terasa wajar bahkan nyaris pasti. Bukan agenda dadakan, melainkan lanjutan dari kebiasaan.
Besok, mereka akan kembali ke tempat yang sama. Kali ini dengan niat tambahan, menggalang dana kemanusiaan. Reog dipanggil untuk fungsi yang lebih tua dari panggung, mengetuk empati.
Di tengah zaman yang mudah tergoda budaya pamer, Shatrio Tunas Mudho memilih jalan yang lebih sunyi. Menjadi ada tanpa perlu mengumumkan keberadaan. Menjadi penting tanpa harus terlihat penting.
Barangkali di situlah Reog menemukan bentuknya yang paling jujur: tidak sedang membuktikan apa pun, selain kesediaan untuk terus hadir, bagi kota, bagi budaya, dan bagi sesama.(ridwan)



