Mojokerto-(satujurnal.com)
Wakil Wali Kota Mojokerto Rachman Sidharta Arisandi memandang Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) bukan semata organisasi para pejuang, melainkan penyangga ingatan kolektif bangsa, penjaga jejak perjuangan sekaligus guru kehidupan bagi generasi penerus.
Pandangan itu ia sampaikan dalam suasana khidmat peringatan HUT ke-69 LVRI dan HUT ke-45 Pemuda Panca Marga (PPM) di Markas Cabang LVRI Kota Mojokerto, Jalan Hayam Wuruk No. 92, Selasa (13/1/2026).
“LVRI bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah ruang tempat bangsa belajar mengingat dirinya sendiri. Dari para veteran, kita belajar arti pengorbanan, persatuan, dan cinta tanah air yang tidak retoris, tetapi hidup dalam laku,” tutur Wawali yang biasa disapa Cak Sandi tersebut.
Di hadapan para veteran dan kader muda PPM, orang nomor dua di lingkup Pemkot Mojokerto tersebut menegaskan, estafet nilai juang tidak boleh terputus oleh zaman. Pemuda Panca Marga, menurutnya, lahir dari denyut yang sama, menjaga nyala Pancasila dan merawat keutuhan Republik.
“PPM adalah energi muda yang diberi arah oleh sejarah. Mereka dibutuhkan bukan hanya untuk hadir, tetapi untuk menggerakkan, menjahit kembali solidaritas sosial, menumbuhkan kepekaan, dan mematangkan generasi muda secara kemanusiaan,” ujarnya.
Cak Sandi mengakui, medan perjuangan hari ini telah berubah rupa. Tidak lagi berwujud senapan dan barikade, melainkan tarikan gagasan, banjir informasi, dan kaburnya batas identitas sosial.
“Kita sedang menghadapi perang yang sunyi: perang makna, perang perhatian, perang atas ingatan kebangsaan. Di sinilah peran veteran dan pemuda menjadi fondasi yang menahan bangsa agar tidak tercerabut dari akarnya,” katanya.
Ia menambahkan, Pemerintah Kota Mojokerto berupaya merajut sinergi dengan LVRI dan PPM agar pembangunan tidak kehilangan orientasi nilai.
Baginya, kemajuan tidak cukup diukur oleh grafik ekonomi dan bangunan fisik, tetapi oleh watak manusia yang tumbuh di dalamnya: berakhlak, bergotong royong, dan setia pada tanah air.
“Itulah arah yang ingin kami tuju, masyarakat yang sejahtera, maju, berdaya saing, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila,” ucapnya.
Menutup sambutan, ia mengajak menjaga persatuan sebagai warisan paling berharga dari sejarah panjang bangsa.
Peringatan HUT LVRI ke-69 dan HUT PPM ke-45 tahun ini berlangsung sederhana, diisi istigasah dan doa bersama. Doa-doa dipanjatkan sebagai tanda duka dan solidaritas nasional atas bencana yang melanda sejumlah daerah, dari Aceh hingga Sumatra, seolah mengingatkan bahwa penderitaan di satu sudut negeri selalu menjadi urusan seluruh bangsa.(one/hms)



