Mojokerto-(satujurnal.com)
Perputaran uang mencapai ratusan juta rupiah per hari dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang bagi perekonomian lokal. Lantaran itu, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mendorong Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) untuk segera mengambil peran strategis dalam rantai pasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Langkah ini perlu diambil untuk memastikan aliran dana program pusat tetap berputar di tingkat akar rumput demi penguatan ekonomi kerakyatan.
Hal tersebut disampaikan Ning Ita, sapaan akrab wali kota, saat menjadi narasumber sosialisasi “Wujudkan Kesejahteraan Bersama, Memahami Peran dan Manfaat KKMP” di Kelurahan Gedongan, Kota Mojokerto, Kamis (9/4/2026). Di hadapan para pengurus koperasi, camat, dan lurah, ia membeberkan hitungan matematis yang menunjukkan besarnya potensi pasar yang selama ini belum tergarap optimal oleh koperasi lokal.
“SPPG ini kebutuhannya sangat besar. Kalau satu dapur melayani 2.000 porsi per hari, dengan belanja Rp 8.000 per porsi, berarti SPPG mengeluarkan Rp 160 juta per hari untuk belanja bahan makanan. Kalau KKMP bisa mengambil 10–15 persen saja, itu sudah menjadi peluang omzet yang sangat besar,” jelas Ning Ita di hadapan peserta sosialisasi.
Sinergi antara KKMP dan SPPG bukan semata program tambahan, melainkan implementasi langsung amanah pemerintah pusat untuk membangun ekosistem ekonomi sirkuler. Konsep ini menuntut perputaran uang terjadi di wilayah yang sama, sehingga manfaatnya langsung dirasakan masyarakat setempat. Untuk mewujudkan hal itu, Ning Ita memerintahkan jajaran camat dan lurah di seluruh Kota Mojokerto untuk aktif memfasilitasi pertemuan dan pembagian peran antar-KKMP agar tidak terjadi tumpang tindih dan seluruh wilayah mendapat bagian merata.
“Tujuan utama program ini adalah membangun ekonomi kerakyatan yang kuat. Koperasi harus menjadi penggerak utama, bukan hanya ramai di awal, tetapi berkelanjutan dan terus berkembang,” tegasnya.
Lebih jauh, wali kota dua periode itu menekankan perubahan paradigma bisnis koperasi di era digital. Ia menepis anggapan bahwa keberhasilan usaha ditentukan oleh besarnya aset fisik atau luasnya gerai. Menurut dia, kunci kemenangan terletak pada pemanfaatan sistem dan teknologi yang mampu memangkas biaya operasional sekaligus memperluas jangkauan pasar.
“Urat nadi koperasi itu bukan dari besar kecilnya gerai, tapi bagaimana sistemnya berjalan. Hari ini, dengan teknologi dan sistem perdagangan online, peluang meraih keuntungan terbuka lebar,” terangnya memberikan motivasi.
Optimisme tersebut didukung data riil di lapangan. Ning Ita mengapresiasi kinerja KKMP Gedongan yang mencatatkan lonjakan omzet drastis. Jika sepanjang tahun 2025 koperasi ini hanya membukukan Rp 8 juta dalam beberapa bulan, maka pada triwulan pertama 2026 saja omzetnya telah menyentuh angka Rp 24 juta. Pencapaian ini membuktikan bahwa model pengelolaan yang tepat mampu mendongkrak performa keuangan secara signifikan.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Wali kota mengingatkan pentingnya menjaga harga tetap kompetitif agar produk koperasi mampu bersaing dengan toko modern. Partisipasi masyarakat, baik sebagai anggota maupun konsumen loyal, juga menjadi faktor penentu keberlangsungan usaha. Di akhir sesi, Ning Ita membuka ruang dialog intensif untuk menggali potensi lain di Kelurahan Gedongan yang dapat dikembangkan guna memperkuat unit usaha koperasi dan menopang UMKM sekitar.
Melalui sinergi solid antara KKMP dan SPPG, Pemerintah Kota Mojokerto menargetkan ekonomi sirkuler di tingkat kelurahan berjalan optimal. Dampak akhirnya diharapkan berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat yang merata dan berkelanjutan, menjadikan koperasi sebagai tulang punggung ekonomi daerah yang tangguh menghadapi dinamika zaman.(one/hms)



