Mojokerto-(satujurnal.com)
Suvenir hortikultura berupa bibit cabai dan tomat menjadi daya tarik tersendiri dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-108 Kota Mojokerto, Sabtu (20/6/2026). Selain dibawa pulang para tamu undangan, perayaan tahun ini juga dihiasi karangan bunga berbentuk tanaman hidup, termasuk bibit jeruk yang dapat ditanam kembali.
Konsep tersebut dihadirkan Pemerintah Kota Mojokerto sebagai bagian dari kampanye ketahanan pangan dan kepedulian lingkungan. Berbeda dengan suvenir maupun karangan bunga konvensional, tanaman hidup memiliki manfaat jangka panjang karena dapat terus tumbuh dan menghasilkan.
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mengatakan penggunaan tanaman hidup dalam peringatan Hari Jadi ke-108 Kota Mojokerto merupakan simbol semangat pembangunan berkelanjutan yang terus didorong pemerintah daerah.
“Kami ingin peringatan hari jadi ke-108 tidak hanya meriah, tetapi juga manfaat. Tanaman hidup yang diberikan dapat terus tumbuh, menghijaukan lingkungan, dan menjadi pengingat untuk menjaga kelestarian alam,” ujar Ning Ita.
Menurutnya, pembagian bibit cabai dan tomat juga sejalan dengan gerakan cabenisasi yang selama ini digalakkan di seluruh kelurahan di Kota Mojokerto.
“Melalui bibit yang dibagikan, kami mengajak masyarakat memanfaatkan lahan yang ada untuk menanam tanaman produktif. Selain memperkuat ketahanan pangan keluarga, langkah sederhana ini juga dapat menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan produktif,” tambahnya.
Bibit cabai dan tomat dibagikan kepada tamu undangan yang menghadiri upacara peringatan Hari Jadi ke-108 Kota Mojokerto di Alun-Alun Wiraraja. Sementara berbagai instansi, lembaga, dan mitra yang mengirimkan ucapan selamat turut menghadirkan tanaman hidup sebagai pengganti karangan bunga potong.
Melalui konsep tersebut, Pemerintah Kota Mojokerto ingin menghadirkan perayaan yang tidak hanya meninggalkan kesan seremonial, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam memanfaatkan pekarangan rumah untuk bercocok tanam.
Momentum Hari Jadi ke-108 Kota Mojokerto pun menjadi ajang untuk memperkuat kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan keluarga, pelestarian lingkungan, serta budaya menanam yang produktif dan berkelanjutan. (one/hms)



