Bojonegoro-(satujurnal.com)
Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) bergerak cepat menyalurkan bantuan stimulan senilai Rp 25 juta serta paket logistik kepada Arieyoko (72), seniman senior sekaligus Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pertama Bojonegoro. Bantuan ini diserahkan langsung di kediamannya, Kelurahan Ledokkulon, Kecamatan Bojonegoro, Sabtu (20/6/2026), setelah rumah tokoh pers tersebut hangus terbakar.
Peristiwa kebakaran melanda kediaman Arieyoko di Jalan Anggrek 21B, Perumahan Wisma Indah Timur, Bojonegoro pada Kamis (11/6/2026). Amukan si jago merah diduga kuat dipicu korsleting listrik pada panel utama di bagian atap rumah hingga menghanguskan hampir seluruh harta benda Arieyoko, termasuk laptop, televisi, kulkas, pakaian, ijazah, serta dokumen penting.
Penyaluran bantuan dilakukan oleh Abdul Halim dari Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Kemensos RI. Penyerahan bantuan turut disaksikan Kepala Bidang Penanganan Bencana Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro Junaedi, perwakilan Dinas Sosial Jawa Timur, Pemerintah Kelurahan Ledokkulon, staf Kecamatan Bojonegoro.
Kemensos RI menyerahkan paket lengkap meliputi beras 20 kilogram, kasur lipat, matras, pakaian, perlengkapan mandi, peralatan dapur, dan selimut. Dana stimulan Rp 25 juta dialokasikan khusus untuk percepatan perbaikan fisik rumah yang terdampak kerusakan parah.
“Ini bantuan stimulan dari Kemensos RI,” ujar Abdul Halim di sela-sela penyerahan bantuan kepada korban.
Abdul Halim menjelaskan, bantuan tersebut merupakan bentuk kehadiran negara bagi masyarakat yang terdampak bencana. Pemerintah berkomitmen terus berupaya memberikan respons cepat terhadap warga yang mengalami musibah darurat di berbagai wilayah kerja.
“Usai dari Bojonegoro ini, kami langsung menuju Probolinggo untuk menangani kasus kebakaran rumah yang serupa,” imbuh Abdul Halim.
Kemensos RI turut mengimbau masyarakat luas agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Cuaca panas dan kering berpotensi meningkatkan risiko kebakaran yang dipicu gangguan atau kelalaian instalasi listrik.
Musibah besar ini menyisakan duka mendalam bagi Arieyoko yang kehilangan rekam jejak literasi dan karya-karyanya. Mantan jurnalis senior yang pernah berkiprah di Suara Merdeka, Berita Buana Baru, dan Republika ini mengekspresikan kepedihan mendalam atas hilangnya seluruh dokumen hidupnya.
“Saya dimiskinkan Tuhan,” ujar Arieyoko mengenang musibah hebat yang menimpanya.
Kondisi bangunan kini hanya menyisakan ruang terbatas yang bisa diselamatkan dari api. Arieyoko mengaku saat ini terpaksa menempati sebagian kecil bangunan tersisa yakni dua kamar di area belakang yang masih bisa digunakan untuk tempat beristirahat sementara.(one/sst)



