Catatan dari Tepi
ADA LORONG yang hanya menghubungkan satu bangunan dengan bangunan lain. Ada pula lorong yang menghubungkan ingatan dengan kebudayaan. Lorong di antara Sunrise Mall I dan II Mojokerto, sejak awal Juli, terasa menjadi yang kedua. Di tempat orang-orang biasanya berjalan tergesa menuju toko atau sekadar melintas, dinding-dindingnya kini dipenuhi lukisan dan fotografi. Peristiwa yang semula lahir sebagai berita perlahan berubah menjadi karya visual yang mengajak orang berhenti, memandang lebih lama, lalu menemukan makna.
Sebanyak 29 lukisan karya Diak Eko Purwoto berdiri berdampingan dengan 24 foto Sofanka dan Prayogi Waluyo. Di antaranya, belasan karya anggota Pewarta Foto Indonesia (PFI) Surabaya dan Malang turut memperkaya ruang pamer. Keseluruhannya berhimpun dalam Pameran Lukisan dan Fotografi bertajuk “Merekam Realitas, Merawat Budaya”, gagasan Media Centre – Ruang Jurnalis Mojokerto yang mempertemukan jurnalisme, seni rupa, dan fotografi dalam satu ruang dialog kebudayaan.
Saya datang ketika lampu-lampu mal mulai meredup menuju malam. Cahaya temaram yang jatuh di atas kanvas dan foto justru membuat karya-karya itu seperti menemukan napasnya sendiri. Di ruang seperti ini, seni tidak terasa berjarak dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir di tengah langkah orang-orang yang datang untuk berbelanja, bertemu, atau sekadar melewati lorong, lalu – tanpa disadari – diajak membaca kembali peristiwa yang telah menjelma menjadi ingatan budaya.
Pilihan menjadikan pusat perbelanjaan sebagai ruang pamer mungkin terdengar tidak lazim bagi sebagian orang. Namun justru di situlah letak keberaniannya. Seni tidak menunggu orang datang ke galeri. Sebaliknya, ia menyapa masyarakat di tengah rutinitasnya.
Media Centre – Ruang Jurnalis Mojokerto tampaknya sengaja memilih jalan itu. Pameran ini tidak berhenti pada pemindahan karya ke ruang publik. Yang dihadirkannya adalah percakapan tentang budaya di tengah denyut kehidupan masyarakat.
Diak Eko kembali ke tempat yang sama setelah pameran tunggalnya pada penghujung 2025. Kali ini jurnalis televisi SCTV/ Indosiar itu tidak berjalan sendiri. Lukisan-lukisannya berdialog dengan fotografi. Kanvas bertemu lensa. Sapuan kuas bersisian dengan bidikan kamera. Semuanya lahir dari profesi yang sama: jurnalis.
Barangkali memang di situlah benang merahnya. Seorang jurnalis bekerja merekam peristiwa. Bedanya, berita hidup dalam hitungan jam, sementara lukisan dan fotografi sering kali bertahan jauh lebih lama. Apa yang hari ini menjadi headline, esok bisa terlupakan. Sebaliknya, sebuah gambar kadang tetap tinggal dalam ingatan bertahun-tahun sesudahnya.
Koordinator Media Centre – Ruang Jurnalis Mojokerto, Moh. Saifuddin, menyebut pameran ini sebagai perjumpaan berbagai disiplin visual. Pelukis, fotografer, pewarta foto, dan jurnalis dari beragam media melebur dalam satu ruang yang sama. Yang mereka bawa bukan semata karya, melainkan cara memandang kehidupan.
Di antara puluhan karya itu, saya berhenti lebih lama di depan beberapa kanvas. Bukan karena paling besar atau paling mencolok, melainkan karena masing-masing seperti mewakili lapisan-lapisan ingatan yang berbeda.
Seorang penari tradisional membuka percakapan. Gerak tangannya yang halus, busana yang anggun, dan hiasan kepala yang ditorehkan dengan ketelitian realistik menghadirkan tubuh manusia sebagai ruang kebudayaan. Latar pepohonan yang nyaris gersang justru membuat sosok penari semakin hidup. Ia seperti sedang menari melawan lupa. Tari tidak lagi hadir sebagai pertunjukan, melainkan sebagai penanda bahwa tradisi selalu menemukan cara untuk bertahan.
Beberapa langkah kemudian, lorong membawa saya pada ruang yang begitu akrab bagi Mojokerto: Majapahit. Obor, tombak, mahkota, dan wajah-wajah para tokohnya tidak diperlakukan sebagai romantisme sejarah. Lukisan itu lebih menyerupai jendela yang menghubungkan masa silam dengan ruang yang kini kita tempati. Majapahit hadir sebagai ingatan yang terus diajak berdialog dengan masa kini. Dari sana kita belajar bahwa kebudayaan tidak diwariskan hanya melalui naskah dan prasasti, tetapi juga melalui tafsir yang terus diperbarui oleh setiap generasi.
Kanvas berikutnya mengubah ritme. Senja membentang di atas permukaan air yang tenang. Sebatang pohon, gugusan batu, dan siluet manusia yang berjalan perlahan menghadirkan lanskap yang nyaris tanpa suara. Di sini, Diak Eko tidak sedang melukis alam semata. Ia sedang melukis kesabaran. Cahaya senja dan pantulan air menjadi metafora tentang waktu yang terus bergerak, sementara manusia hanyalah pejalan yang singgah sebentar di dalam bentang kehidupan.
Nuansa serupa kembali hadir pada lanskap lain yang mempertemukan pohon, batu, air, serta sosok manusia bersama hewan ternaknya. Komposisinya sederhana, tetapi menyimpan pandangan yang akrab dalam kebudayaan agraris Nusantara: manusia tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Alam selalu menjadi pasangan dialognya. Di tengah arus modern yang bergerak semakin cepat, lukisan ini mengingatkan bahwa harmoni dengan alam adalah bagian dari identitas budaya yang perlahan mulai menjauh dari keseharian kita.
Keempat karya itu memang berbeda tema. Namun benang merahnya terasa jelas. Diak Eko memungut fragmen-fragmen kehidupan—tari, sejarah, alam, dan manusia—lalu merangkainya menjadi arsip kebudayaan yang dapat dibaca siapa saja. Di tangan seorang jurnalis, realisme tidak berhenti sebagai upaya menghadirkan kemiripan bentuk, tetapi menjadi cara menyimpan ingatan sebelum waktu menghapusnya.
Di antara deretan foto itu, saya juga melihat jejak-jejak budaya Nusantara. Gandrung Sewu. Topeng Malangan. Perang Obor. Kasada. Ada pula bentang alam, benda-benda sederhana, dan wajah-wajah manusia yang seolah berbicara tanpa suara. Tidak semua karya meminta penjelasan. Sebagian memilih membiarkan pengunjung menemukan tafsirnya sendiri.
Sofanka menyebut foto sebagai interupsi visual. Saya menyukai istilah itu. Di tengah ritme pusat perbelanjaan yang serba cepat, foto-foto tersebut memang bekerja sebagai jeda. Orang berhenti beberapa detik lebih lama. Mata bergerak dari satu bingkai ke bingkai lain. Tanpa terasa, mereka sedang membaca kebudayaan.
Yang menarik, pengunjung paling antusias justru datang dari kalangan remaja. Mereka bergantian berfoto di depan karya-karya berukuran besar. Sebagian mungkin hanya ingin mengabadikan momen. Namun bukankah setiap perjumpaan dengan karya seni selalu berawal dari rasa ingin tahu?
Di ujung lorong itu saya kembali teringat pada pekerjaan jurnalis. Selama ini kita mengenalnya sebagai pencatat peristiwa. Padahal ada pekerjaan lain yang sering luput disebut: merawat ingatan bersama. Ketika berita telah berganti, halaman koran menjadi arsip, dan unggahan media sosial tenggelam oleh algoritma, lukisan serta fotografi tetap menyimpan jejak sebuah zaman.
Barangkali itulah yang sedang dikerjakan pameran ini. Ia tidak berlomba menjadi yang paling megah atau paling ramai. Ia mengajak orang berhenti sejenak, menatap lebih lama, lalu menyadari bahwa kebudayaan tidak selalu hidup di museum atau panggung pertunjukan. Ia juga tumbuh di lorong pusat perbelanjaan, di antara langkah kaki yang terburu-buru, di bawah cahaya lampu yang temaram, dan di dalam karya-karya yang lahir dari mata para jurnalis.
Di penghujung lorong, saya tidak membawa kesimpulan apa pun. Hanya satu keyakinan kecil: ketika jurnalisme bertemu seni, yang tertinggal bukan dokumentasi peristiwa semata. Ada ingatan yang terus dipelihara, ada kebudayaan yang terus menemukan pembacanya, dari satu generasi kepada generasi berikutnya.(ridwan)



