Surabaya-(satujurnal.com)
ArtSubs mencoba mempertemukan karakter biennale, art fair, dan ruang pamer seni kontemporer dalam satu perhelatan di Balai Pemuda Surabaya. Format tersebut dirancang untuk menghadirkan pengalaman estetik yang inklusif sekaligus membuka ruang kontemplasi, edukasi publik dan perenungan bagi berbagai lapisan masyarakat.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Wicara Kurator yang digelar manajemen ArtSubs di Selasar Lantai 2 Balai Budaya, kompleks Balai Pemuda Surabaya, Minggu (27/9/2026). Diskusi menghadirkan dua kurator ArtSubs, Asmudjo Jono Irianto dan Nirwan Dewanto, dengan Kenny Hartanto dari Universitas Surabaya (Ubaya) sebagai moderator.
ArtSubs berlangsung di Balai Pemuda sejak 19 September hingga 8 November 2026. Perhelatan tersebut sekaligus menjadi upaya membaca potensi sosial dan ekonomi Surabaya yang dinilai belum sepenuhnya tergarap dalam ekosistem seni rupa.
Di tengah keterbatasan infrastruktur seni, seperti belum kuatnya keberadaan museum seni dan masih terbatasnya tenaga profesional art handler, ArtSubs diharapkan dapat menjadi katalisator bagi tumbuhnya kesadaran seni dan meluasnya jejaring pelaku seni.
Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan persoalan keberlanjutan. Meski ArtSubs telah menarik puluhan ribu pengunjung dan mempertemukan seniman, publik serta kolektor dari beragam spektrum, penyelenggaraannya tetap membutuhkan dukungan ekosistem yang lebih luas.
Kerja sama lintas pihak menjadi salah satu kebutuhan agar perkembangan kehidupan seni rupa di Surabaya tidak hanya bergantung pada inisiatif privat. Keberadaan infrastruktur seni permanen dan tenaga profesional menjadi bagian dari tantangan yang masih perlu dijawab.
Asmudjo memetakan posisi ArtSubs dengan membandingkannya dengan ARTJOG dan format biennale. Menurut dia, ARTJOG telah berkembang dari format art fair menuju institusi seni yang dalam penyelenggaraannya menyerupai museum temporer.
Sementara ArtSubs mencoba membangun bentuk hibrida dengan menggabungkan karakter art fair dan biennale. Format tersebut memungkinkan ArtSubs menampung eksperimentasi artistik, tontonan visual sekaligus transaksi komersial.
Sebagai inisiatif privat yang independen, ArtSubs juga menghadapi persoalan kemandirian finansial dan keberlanjutan operasional. Model penyelenggaraannya tidak bertumpu pada dukungan dana negara maupun semata-mata pada penyewaan booth seperti format art fair pada umumnya.
Pemilihan Surabaya turut berkaitan dengan potensi ekonomi kota. Namun, potensi tersebut berhadapan dengan persoalan struktural berupa belum tersedianya infrastruktur seni permanen yang memadai, termasuk museum seni dan ruang pamer berskala representatif.
Di sisi kuratorial, pameran di Balai Pemuda mempertemukan pertimbangan objektif dan subjektif dalam memilih seniman. Seniman yang telah mapan dan memiliki daya jual, seperti Eko Nugroho, dapat tampil berdampingan dengan seniman pendatang baru yang mendapatkan kesempatan melalui mekanisme open call.
ArtSubs juga membuka ruang bagi praktik lintas disiplin di luar seni rupa murni. Arsitek, desainer, fotografer dan praktisi kreatif dari berbagai bidang dilibatkan untuk memperluas kemungkinan artistik sekaligus menghadirkan pengalaman yang lebih beragam bagi pengunjung.
Format tersebut menempatkan ArtSubs pada persimpangan antara ruang apresiasi, edukasi, eksperimentasi dan pasar. Di tengah pertumbuhan aktivitas seni rupa di Surabaya, perhelatan ini sekaligus memperlihatkan kebutuhan akan ekosistem yang mampu menopang kehidupan seni secara lebih panjang.(one/hms)



