Jombang-(satujurnal.com)
Warga Dusun Guwo, Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, masih kesulitan mendapatkan air bersih akibat sumur permukiman yang mengering setelah proyek irigasi perpompaan (Irpom) dioperasikan. Hingga Selasa (6/10/2026), warga terpaksa mengambil air dari saluran irigasi untuk kebutuhan mandi, mencuci, hingga dibawa pulang menggunakan galon.
Sejak pagi, sejumlah warga terlihat bergantian mendatangi ujung selang pompa irigasi yang berada di saluran air di pinggir sawah. Sebagian mencuci pakaian dan mandi di saluran tersebut, sementara warga lain mengisi galon dengan air untuk memenuhi kebutuhan di rumah.
Siti Nur Amnik, 55, warga Dusun Guwo, mengaku terpaksa mengambil air dari irigasi karena sumurnya tidak lagi mengeluarkan air. Ia harus bolak-balik membawa galon kosong dari rumah menuju saluran irigasi.
“Iya terpaksa ambil air karena sumurnya tidak ada airnya,” terang Siti.
Kondisi tersebut, menurut Siti, telah berlangsung hampir sebulan sejak sumur Irpom difungsikan untuk mengairi sawah. Kekeringan sumur membuat aktivitas sehari-hari warga ikut terganggu.
“Sumur di rumah kering, saya sampai jatuh juga ini tadi gara-gara air itu. Lagian ini kan musim kemarau kok ya masih nanam padi saja, sudah begitu nyedot air segini banyak, kan ya kita yang jadi susah,” lontarnya.
Siti berharap pengoperasian sumur pompa dihentikan agar sumber air di permukiman kembali tersedia. Ia meminta penggunaan pompa tidak dilakukan di lokasi yang berdekatan dengan sumur warga.
“Maunya ya tidak pakai bor-boran, supaya air aman,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Sutani, 66, warga RT 6 RW 2 Dusun Guwo. Sumur di rumahnya juga mengalami kekeringan sehingga keluarganya harus mencari air dari saluran irigasi.
“Sampai tadi malam suami saya masih harus cari air bolak balik tujuh kali untuk kebutuhan mandi mencuci juga, karena sumur kering,” lontarnya.
Menurut Sutani, pembatasan jam operasional pompa yang sebelumnya disepakati tidak menyelesaikan persoalan. Sumur miliknya yang memiliki kedalaman lebih dari 15 meter tetap tidak menghasilkan air secara maksimal.
“Padahal kebutuhan air ini bukan cuma untuk rumah tangga saja, kan ya untuk masak, untuk jualan juga,” lanjutnya.
Dampak kekeringan itu disebut dirasakan warga di tiga RT yang berada di sekitar lokasi pompa. Warga yang tinggal paling dekat dengan titik pompa disebut paling merasakan berkurangnya debit air sumur.
“Kalau yang terdampak yang di RT 5,6,7, yang terdekat sama pompa itu, semuanya merasakan,” tambahnya.
Bagi warga, persoalan tersebut kini menyentuh kebutuhan paling dasar. Ketika sumur rumah tidak lagi bisa diandalkan, mereka harus mengalokasikan waktu dan tenaga untuk mencari air ke saluran irigasi.
Sutani berharap pemerintah segera mencari solusi agar kebutuhan pengairan sawah tetap berjalan tanpa mengurangi ketersediaan air bersih bagi warga. Ia mengusulkan lokasi pompa dipindahkan lebih jauh dari permukiman.
“Boleh saja dikasih pompa, tapi ya yang jauh, di tengah sawah saja sana, biar tidak menganggu air kita,” pungkasnya.(rial)



