Tuesday, October 6, 2026
spot_img
HomeCatatan dari TepiKota Mojokerto: Warisan H. Abdul Gani Soehartono dan Cita-cita yang Berlanjut

Kota Mojokerto: Warisan H. Abdul Gani Soehartono dan Cita-cita yang Berlanjut

Di kota, ingatan tidak tinggal di monumen. Ia bersembunyi di tikungan jalan, di kios yang tutup lebih awal, di bau kopi yang mengendap pada jam yang sama setiap hari. Dari sanalah kisah ini berangkat, ketika kota mulai bicara, dan ingatan memilih satu nama untuk pulang.

Ada tanggal-tanggal yang tidak meminta dirayakan, hanya ingin diingat. Juli termasuk salah satunya. Setiap Juli, kenangan tentang H. Abdul Gani Soehartono datang pelan, seperti angin sore yang menyapu kota tanpa suara. Ia lahir pada 10 Juli 1952. Tahun ini, seandainya waktu berbaik hati, usianya genap 73. Tak ada lilin, tak ada doa bersama. Yang tersisa hanya ruang sunyi untuk mengingat dan bertanya.

Ia hadir lebih dari nama dalam arsip pemerintahan. Sosok itu menjelma peristiwa yang menetap di ingatan warga: cara memimpin, cara mendengar, dan cara pergi. Kota ini mengingatnya bukan karena jabatan, melainkan karena jejak. Bukan karena pidato, melainkan karena kehadiran.

“Kota ini bukan milik kita, tapi milik anak cucu kita. Kita hanya meminjamnya untuk sementara waktu.” Kalimat itu sering meluncur. Ringkas, tanpa nada tinggi. Kini kalimat itu seperti berbalik arah, menagih jawaban: apa yang telah kita lakukan selama meminjam kota ini?

Pertanyaan itu membuka ruang gema. Gema visi, kerja nyata, dan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Jika ia memandang Kota Mojokerto hari ini, barangkali suaranya tetap berat dan bersahaja: banyak yang berubah, dan aku bersyukur… tapi jangan cepat puas. Kota ini belum selesai.

Ia mencintai kota bukan dari balik meja. Ia mengenal gang-gang sempit, aroma pagi di Sumolepen, dan titik-titik rawan banjir yang tak pernah muncul di peta presentasi. Penurunan angka kemiskinan mungkin membuatnya tersenyum.

Namun kawasan barat yang tertinggal akan menghidupkan kembali mimpi lamanya, tentang dua sisi kota yang tumbuh seimbang, tidak saling menunggu.

“Puas itu untuk orang yang berhenti bermimpi,” katanya suatu kali. “Aku ingin kota ini tak hanya berkembang, tapi tumbuh dengan hati.”

Sosok itu akan masuk ke lorong-lorong kecil, mendengar keluhan tentang harga sembako yang merangkak naik, menyelipkan senyum tipis, lalu mencatat dalam diam. Pesannya sederhana dan keras kepala: jangan pernah berhenti mendengarkan suara rakyat.

Di titik inilah ingatan personal dan ingatan kolektif bertemu. Dialog yang tak pernah benar-benar selesai. Ia hadir sebagai bagian dari sejarah kota sekaligus bagian dari hati yang terus bertanya: sudahkah janji-janji pembangunan yang dulu ia mulai benar-benar ditepati?

Hadiah ulang tahun paling berarti baginya bukan karangan bunga, melainkan keberanian untuk melanjutkan kerja-kerja sunyi.

Jejak itu nyata. Benpas (jalan Benteng Pancasila) pernah hanya jalan setapak di tengah sawah. Ia menjadikannya sentra perdagangan. Relokasi PKL dari Alun-alun dan Jalan Joko Sambang berjalan tertatih, penuh penolakan, namun perlahan mengembalikan ruang publik kepada warga.

“Kita harus berani mengambil keputusan yang sulit, demi kebaikan bersama,” katanya ketika kritik datang bertubi.

RSUD Dr. Wahidin Sudiro Husodo yang mangkrak disentilnya dengan kalimat khas: iki koyo kandang doro. Kalimat sederhana, niatnya keras.

“Rumah sakit bukan hanya bangunan, tapi tempat harapan tumbuh.”

Pasar-pasar tradisional yang mati suri ia respons bukan dengan konferensi pers, melainkan kunjungan lapangan. Kritik jurnalis dibalas secangkir kopi kotok di kantin Bu Bambang, simbol kehangatan sekaligus penghargaan pada suara yang berani. “Kritik yang membangun adalah aset,” katanya.

Di tengah maraknya bank titil, ia mendirikan lembaga keuangan syariah agar akses keuangan lebih adil. Di ranah budaya, ia menghidupkan kembali Dewan Kesenian dan menggagas monumen Mbah Surip. Baginya, seni adalah napas kota, tanpanya, pembangunan tinggal rangka.

Di bidang kesehatan, program PSN digerakkan masif. Angka DBD turun tajam. Program kesehatan gratis dan cakupan UHC nyaris menyentuh seratus persen, jauh sebelum istilah itu menjadi jargon nasional.

Ia bukan tipe pemimpin yang menyukai panggung. Ketika diminta mengulang adegan demi kamera, ia menolak.

Obsesi terbesarnya tetap satu: menyeimbangkan pembangunan barat dan timur kota, sebuah mimpi yang belum sepenuhnya rampung.

Kini, 10 Juli tinggal tanggal. Namun sosok itu hidup dalam kerja-kerja yang ia tinggalkan. Lima tahun terakhir, kota bergerak di bawah kepemimpinan Ning Ita. Prestasi datang, penghargaan berdatangan, inovasi tumbuh. Ia mungkin akan mengangguk pelan, tersenyum tipis di balik gelas kopi kotok yang mulai dingin.

Namun kota tidak cukup diukur oleh tumpukan piagam. Kota adalah tempat mimpi dipijak. Pesannya tetap sama: langkah sudah jauh, tapi kota ini belum selesai. Masih ada ruang yang belum disapa. Masih ada suara yang belum terdengar.

Branding dan capaian patut dirayakan. Tetapi kesetaraan wilayah, terutama di kawasan barat, dan semangat Majapahit yang hidup dalam keseharian warga, masih menunggu dirawat. Warisan terbesar lahir dari keberlanjutan niat baik.

“Lanjutkan kerja-kerja kecil yang penuh makna,” seolah pesannya berulang. “Jangan biarkan kota ini tumbuh tanpa hati. Kota yang baik adalah kota yang mau mendengar bahkan suara yang paling sunyi.”

Di titik ini, ingatan tak lagi meminta kita menoleh ke belakang. Ia mendorong kita melangkah, menilai kepemimpinan hari ini sebagai kelanjutan, bukan pengganti. Sebab kota, seperti ingatan, hidup dari kesinambungan.

Selamat ulang tahun, Pak Gani.
Kami mendengar pesanmu, dalam diam yang tetap lantang. Kota ini belum selesai menulis tentangmu.(ridwan)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular