Oleh : Doddy ‘Mr D’ Hernanto
JIKA tidak terjadi perang Iran-Israel yang mengguncang dunia, barangkali perayaan Hari Musik Sedunia 2025 yang jatuh pada tanggal 21 Juni akan dirayakan gegap gempita oleh seluruh insan musik di seluruh dunia.
Di Indonesia, hampir tidak bergaung perayaan tersebut, kecuali acara musik yang digelar secara lokal di beberapa kota besar. Misalnya di Pusat Kebudayaan Perancis Surabaya, Jl. Ratna No.14 Ngagel Surabaya, tepat pada tanggal 21 Juni 2025 digelar pentas musik dengan menghadirkan beberapa musisi dari Perancis dan musisi Surabaya.
Hari Musik Sedunia, yang dikenal juga sebagai Fête de la Musique atau Make Music Day, merupakan perayaan musik global tahunan. Konsep perayaan ini pertama kali dicetuskan di Prancis pada tahun 1982 oleh Kementerian Kebudayaan, dengan inspirasi awal yang berasal dari gagasan musisi Amerika, Joel Cohen.
Tujuan utama dari Hari Musik Sedunia adalah untuk mendemokratisasi musik, mendorong pertunjukan musik publik gratis di berbagai lokasi, dan merayakan semua gaya musik tanpa adanya hierarki, baik yang dibawakan oleh musisi amatir maupun profesional tanpa adanya protes alias kritik.
Tema Hari Musik Sedunia 2025 adalah “Healing Through Harmony” (Penyembuhan Melalui Harmoni). Khusus menekankan kekuatan intrinsik musik untuk menenangkan emosi, mengurangi stres, dan menyatukan komunitas global.
Tema ini menyoroti peran musik sebagai bahasa universal yang mampu mengatasi tantangan pribadi dan sosial, serta mempromosikan persatuan tanpa memandang latar belakang, budaya, atau perbedaan menjadi semakin relevan dengan kemajuan teknologi AI.
Analisis menunjukkan bahwa AI memiliki kemampuan untuk menciptakan musik yang dipersonalisasi, yang dapat berfungsi sebagai alat untuk relaksasi dan mengurangi stres.
Jika AI mampu menghasilkan musik dengan efek terapeutik yang disesuaikan dengan preferensi individu, maka teknologi ini dapat menjadi instrumen yang sangat kuat untuk mewujudkan tema “Healing Through Harmony” secara lebih luas dan personal pada Hari Musik Sedunia 2025. Hal ini mengubah peran AI dari sekadar alat produksi menjadi fasilitator kesejahteraan emosional yang mendalam melalui musik, memungkinkan pengalaman penyembuhan yang disesuaikan untuk setiap individu.
Ketergantungan pasar AI musik pada personalisasi menunjukkan bahwa konsumen semakin menghargai pengalaman musik yang disesuaikan dengan selera individu mereka.
Ini berarti model bisnis di masa depan mungkin lebih bergeser dari konsumsi massal ke pengalaman yang sangat personal, di mana AI berfungsi sebagai “DJ pribadi” atau “komposer sesuai permintaan” untuk setiap pendengar.
Hal ini juga dapat memengaruhi cara artis membangun basis penggemar, bergeser dari daya tarik massal ke koneksi yang lebih dalam dengan segmen audiens tertentu melalui penawaran musik yang disesuaikan.
Platform streaming akan terus berinvestasi besar-besaran dalam sistem rekomendasi AI yang semakin canggih.
Selain itu, hal ini dapat memicu pengembangan alat AI yang memungkinkan seniman untuk membuat versi musik yang disesuaikan untuk penggemar individu, membuka aliran pendapatan baru melalui pengalaman premium yang dipersonalisasi, seperti lagu yang dibuat khusus untuk acara pribadi atau pengalaman mendengarkan yang unik.
AI memperluas batas-batas pertunjukan musik, menciptakan pengalaman yang lebih imersif dan bahkan menghidupkan kembali ikon musik.
Salah satu contoh paling mencolok adalah kemampuan AI untuk membawa kembali seniman yang telah meninggal ke panggung melalui hologram. Computer-Generated Imagery (CGI) guna menciptakan kembali sosoknya di atas panggung. Dan AI juga dapat menciptakan pertunjukan yang dinamis dan tidak dapat diprediksi dengan berkolaborasi secara real-time dengan seniman nyata, baik ide, harmoni, atau ritme.
Perkembangan teknologi Augmented Reality (AR) dan perangkat AR yang dapat dikenakan (wearable AR devices) akan membuat akses konten AR melalui QR Art atau Codeisme menjadi lebih nyaman dan terintegrasi ke dalam kehidupan sehari-hari.
Teknologi 5G juga akan secara signifikan meningkatkan pengalaman AR dengan kecepatan transfer data yang lebih cepat dan latensi yang lebih rendah, memungkinkan interaksi yang lebih mulus dan imersif.
Meskipun teknologi hologram yang didukung AI dapat membangkitkan kembali pengalaman pertunjukan seniman yang telah meninggal, hal ini memunculkan pertanyaan kritis tentang otentisitas dan “jiwa” pertunjukan langsung. Apakah penonton benar-benar merasakan koneksi emosional yang sama dengan hologram yang dihasilkan AI dibandingkan dengan seniman manusia yang hidup, dengan segala spontanitas dan ketidaksempurnaannya? Ini menyentuh inti dari apa yang membuat seni pertunjukan begitu kuat, interaksi langsung, energi yang tak terduga, dan kehadiran emosional yang tak tergantikan.
Ada kekhawatiran tentang “deepfake” dan apakah ini merusak warisan seniman atau menciptakan eksploitasi pasca-kematian. Hari Musik Sedunia 2025 dapat menjadi platform untuk mengeksplorasi diskusi ini, mungkin melalui panel diskusi atau pertunjukan yang secara eksplisit membahas kolaborasi manusia-AI.
Penyelenggara mungkin perlu mempertimbangkan bagaimana menyeimbangkan inovasi teknologi dengan menjaga nilai inti dari seni pertunjukan manusia, serta menetapkan pedoman etika untuk penggunaan AI dalam representasi seniman. Hal ini juga dapat mendorong seniman yang hidup untuk lebih menekankan keunikan dan ketidaksempurnaan pertunjukan manusia sebagai kontras terhadap kesempurnaan yang dihasilkan AI.
Intinya AI hanyalah alat alias tool, tentang rasa kembali ke human. “A fool with a tool is still a fool”, Pepatah “Orang bodoh dengan alat masih bodoh” menekankan bahwa memiliki alat tidak secara otomatis memberikan kompetensi atau keterampilan.
Ini menyoroti bahwa tanpa pengetahuan dan pemahaman yang tepat, bahkan alat yang paling canggih pun dapat disalahgunakan atau tidak efektif.
Menurut insinyur perangkat lunak Grady Booch, alat ini hanya memperkuat batasan pengguna yang ada, baik positif maupun negatif.
AI memungkinkan pengalaman musik yang sangat personal, baik dalam konsumsi sehari-hari maupun di acara langsung, secara signifikan meningkatkan keterlibatan audiens. AI dapat menganalisis kebiasaan mendengarkan dan preferensi pengguna untuk merekomendasikan musik baru yang sesuai dengan selera mereka. Sistem AI juga dapat menyesuaikan daftar putar secara real-time agar sesuai dengan suasana hati pengguna, menciptakan pengalaman mendengarkan yang dinamis.
Di acara langsung, AI dapat mempersonalisasi interaksi dengan audiens, seperti memberikan sapaan yang dipersonalisasi, menawarkan pilihan lagu berdasarkan selera musik individu, atau bahkan menciptakan permainan adaptif yang berubah berdasarkan kinerja pemain.
AI juga memiliki potensi untuk menciptakan pengalaman multisensori yang melibatkan tidak hanya penglihatan dan suara, tetapi juga sentuhan, rasa, dan bau, yang dapat semakin memperdalam imersi. Teknologi ini memungkinkan penyelenggara acara untuk menciptakan pengalaman yang lebih imersif dan menarik, di mana audiens tidak hanya menjadi penonton pasif tetapi juga partisipan aktif yang memengaruhi jalannya acara. AI tidak hanya menyarankan musik, tetapi juga secara aktif membentuk pengalaman mendengarkan itu sendiri
Hal ini berarti acara dapat dirancang untuk merespons audiens secara real-time, mengubah visual, audio, atau bahkan alur pertunjukan berdasarkan energi atau preferensi kerumunan. Hal ini menciptakan hubungan yang lebih dalam antara musik, seniman, dan pendengar, mengubah penonton menjadi partisipan aktif dalam pengalaman artistik.
Penyelenggara acara dapat memanfaatkan AI untuk menciptakan “pengalaman yang disesuaikan” yang melampaui sekadar daftar putar, seperti instalasi musik interaktif yang merespons gerakan atau emosi penonton. Ini juga membuka peluang baru untuk monetisasi melalui pengalaman premium yang dipersonalisasi, di mana nilai ditawarkan melalui keunikan interaksi dan imersi.
Hari Musik Sedunia 2025, rekomendasi utama adalah mendorong Kolaborasi Manusia-AI yang Etis dimana penyelenggara dan seniman harus secara aktif mengeksplorasi bagaimana AI dapat menjadi alat yang memperkaya kreativitas manusia, bukan menggantikannya. Ini termasuk eksperimen dengan pertunjukan hibrida dan instalasi interaktif.
Mengangkat Isu Etika dan Hak Cipta: Hari Musik Sedunia dapat menjadi platform untuk diskusi terbuka tentang hak cipta AI, kompensasi yang adil, dan cara melindungi otentisitas artistik di era digital serta memanfaatkan Personalisasi untuk Keterlibatan Audiens menerapkan teknologi AI untuk menciptakan pengalaman musik yang lebih personal dan imersif, baik dalam rekomendasi maupun interaksi langsung di acara.***
Mr D adalah seorang inovator musik dan seniman digital yang menciptakan aliran seni lukis codeisme.



