Friday, October 9, 2026
spot_img
HomeSosial BudayaBupati Mojokerto Angkat Potensi Majapahit sebagai Arah City Branding

Bupati Mojokerto Angkat Potensi Majapahit sebagai Arah City Branding

Surabaya-(satujurnal.com)
Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra mengemukakan gagasan city branding berbasis sejarah dan warisan budaya Majapahit sebagai identitas utama Kabupaten Mojokerto. Gagasan ini ia sampaikan saat hadir dalam forum strategis bertema Branding Kota: Komunitas Sebagai Arsitek Citra Provinsi Jawa Timur yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada Jumat (25/7/2025), di Kantor Gubernur Jatim, Surabaya.

Bupati yang akrab disapa Gus Bupati itu menyebut bahwa Kabupaten Mojokerto memiliki potensi unik dan lengkap untuk dijadikan model city branding yang kuat.

“Mojokerto ini salah satu kota paling lengkap di Jawa Timur. Ada wisata alam, religi, dan tentu saja sejarah. Kita punya Majapahit, kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara,” ujar Gus Bupati, dikutip dari laman mojokertokab.go.id.

Menurutnya, sejarah Majapahit bukan sekadar kebanggaan masa lalu, tetapi juga bisa menjadi motor penggerak citra dan ekonomi daerah ke depan. Ia mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah pusat sudah mendukung langkah-langkah strategis seperti ekskavasi besar-besaran di kawasan Trowulan dan beberapa titik candi lainnya.

“Kalau mau bicara city branding, saya kira Kabupaten Mojokerto sangat layak dikenal sebagai Kota Sejarah atau Kota Para Raja. Ini bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang bagaimana kita mengemas sejarah jadi nilai tambah bagi identitas dan ekonomi kreatif daerah,” tambahnya.

Forum yang dihadiri para kepala daerah se-Jawa Timur ini menjadi ruang diskusi terbuka tentang cara membangun citra daerah yang otentik, inklusif, dan berkelanjutan.

Pakar pemasaran nasional Hermawan Kartajaya turut hadir sebagai narasumber utama. Ia menekankan pentingnya pendekatan branding yang berbasis komunitas dan menggali karakter lokal agar tidak terjebak pada pencitraan sesaat.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak membuka forum dengan ajakan agar para kepala daerah tak sekadar mengikuti tren, melainkan menyusun strategi branding yang menjaga kontinuitas identitas.

“Kita tidak hanya bicara soal menyegarkan brand, tapi juga bagaimana menjaga keberlanjutan yang punya makna dan akar budaya,” kata Emil.

Ia mencontohkan konsep communal branding seperti batik Terang Galih dari Trenggalek dan kolaborasi Lingkar Wilis sebagai bentuk identitas kolektif yang bisa dikembangkan lintas wilayah.

Diskusi berlangsung dinamis. Para kepala daerah berbagi pengalaman dan rencana aksi konkret dalam memperkuat narasi daerah masing-masing. Semangat kolaborasi dan keberagaman menjadi benang merah forum ini menegaskan bahwa Jawa Timur bukan satu warna, melainkan mosaik cerita yang semuanya layak ditampilkan.(one/hms)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular