Wednesday, October 7, 2026
spot_img
HomeCatatan dari TepiCatatan dari Tepi: Baznas Mendampingi, Difabis Meracik

Catatan dari Tepi: Baznas Mendampingi, Difabis Meracik

DI HALAMAN depan kantor Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Mojokerto, jalan Benteng Pancasila, Selasa (30/9/2025), aroma kopi menyeruak, seolah menyingkirkan kaku udara siang.

Kopi tak lagi sekadar kopi, ia menjelma menjadi bahasa baru bagi sembilan remaja, siswa SLB Pertiwi Kota Mojokerto, penyandang disabilitas rungu yang tengah belajar menjadi barista.

Tak ada riuh suara. Yang terdengar hanya denting sendok kecil, aliran air panas yang dituangkan perlahan, dan desah semilir angin. Namun dalam sunyi itu, gestur tangan dan tatapan mata menjelma dalam kosakata yang lengkap. Apron yang mereka kenakan terasa bukan sekedar kain pelindung, melainkan simbol bahwa ada dunia lain yang siap mereka masuki.

Saya melihat seorang remaja perempuan menakar bubuk kopi dengan penuh keseriusan. Tangannya agak kaku, tetapi matanya menyala. Di sebelahnya, seorang teman laki-laki mengamati dengan seksama, seolah setiap butir bubuk kopi yang jatuh adalah pelajaran hidup yang berharga.

Mereka menyebut program ini Difabis, singkatan dari Difabel Bisa. Sebuah nama sederhana, tetapi dibaliknya tersimpan tekad agar keterbatasan tak lagi jadi sekat.
“Target pelatihan ini enam hari. Tapi baru dua hari saja, anak-anak sudah mampu membuat enam sampai tujuh varian minuman kopi,” ujar Ketua Baznas Kota Mojokerto, Dwi Hariadi. Ada nada haru sekaligus bangga dalam ucapannya.

Bukan hanya teknik yang mereka pelajari. Lebih jauh, pelatihan ini adalah pelajaran tentang percaya diri, tentang kepercayaan masyarakat, tentang pintu-pintu yang selama ini mungkin tertutup rapat.

Baznas Kota Mojokerto menyiapkan peralatan lengkap dan dana Rp 25 juta. Namun yang lebih penting dari semua itu adalah keberanian untuk percaya bahwa sembilan remaja ini bisa berdiri sejajar, bukan di pinggiran.

Barista: Sebuah Kata, Sebuah Jalan

Di tengah percakapan tentang kopi, ada satu kata yang kini semakin akrab di telinga: barista. Kata ini berasal dari bahasa Italia, artinya sederhana, pelayan bar atau orang yang bekerja di balik bar. Namun seiring perjalanan, barista mendapatkan makna yang lebih khusus, seseorang yang meracik kopi dengan keterampilan dan jiwa seni.

Istilah itu baru populer di Indonesia belakangan ini, seiring menjamurnya kedai-kedai kopi modern di kota-kota. Jika dulu kita hanya mengenal warung kopi, kini anak muda akrab dengan istilah barista. Sebuah profesi yang tak lagi sekadar menyeduh, tetapi juga menciptakan pengalaman. Ada filosofi kecil dibaliknya, bahwa setiap cangkir kopi adalah karya, setiap racikan adalah perjumpaan antara teknik dan rasa.

Maka, ketika sembilan remaja difabel di Kota Mojokerto ini belajar menjadi barista, sesungguhnya mereka sedang belajar masuk ke dalam arus zaman. Dari kata yang lahir jauh di Italia, kini tiba di sebuah kota kecil di Jawa Timur dan menemukan makna barunya, bukan sekadar profesi, melainkan simbol kesempatan.

Jejak Kopi di Tanah Majapahit

Dalam catatan De Kroniek Van Koetai yang ditulis Constantinus Alting Mees tahun 1935, disebutkan bahwa ketika Maharaja Kutai berkunjung ke istana Majapahit, minuman bernama kahwa disajikan dalam jamuan malam kerajaan. Kopi dikenal dengan sebutan kawa atau kahwa di masa Jawa Klasik dan Majapahit, menunjukkan bahwa kopi sudah menjadi bagian dari budaya jamuan istana pada masa itu.

Sejak masa kolonial, daerah pegunungan sekitar Mojokerto, Trawas, Pacet, hingga lereng-lereng Arjuno menjadi lahan subur bagi perkebunan kopi. Belanda menanam arabika, lalu mengekspornya ke Eropa. Dari situlah kopi Jawa terkenal di mancanegara, bahkan menjadi ikon: A cup of Java.

Jejak itu masih terasa hingga kini. Di pasar-pasar tradisional Mojokerto, kopi bubuk lokal dengan aroma khas masih dijual. Sementara di warung pinggir sawah, kopi dalam cangkir seng mungil setia menemani petani selepas kerja.

Budaya kopi di Mojokerto sesungguhnya sudah tua, jauh sebelum kata barista masuk lewat pintu kafe modern. Namun hari ini, dua dunia itu bertemu, kopi rakyat yang penuh keakraban dan kopi modern yang mengedepankan keterampilan serta seni penyajian. Pertemuan itu kini dihidupi pula oleh remaja difabel Kota Mojokerto, yang belajar menyeduh masa depan mereka sendiri.

Kopi sebagai Medium Inklusi

Saya percaya, kopi punya cara unik untuk mempertemukan orang. Ia menjadi medium percakapan di warung kecil maupun kafe modern. Dan kini, kopi juga menjadi jembatan bagi remaja difabel untuk masuk ke dalam percakapan sosial yang lebih luas, tentang kesempatan, penerimaan, dan masa depan.

Namun saya juga tahu, enam hari pelatihan tak cukup. Pertanyaan sesungguhnya ada pada kita, apakah kita siap memberi mereka ruang nyata setelah ini? Apakah pemerintah kota berani membuka panggung di event resmi, menyediakan sudut khusus di ruang publik, agar kopi yang mereka racik tak berhenti di halaman kantor Baznas Kota Mojokerto semata?

“Mereka belajar dengan hati, bukan sekadar mengikuti instruksi. Itu sebabnya racikan mereka punya sentuhan berbeda,” ucap Dwi Hariadi.

Kalimat itu membekas. Sebab bukankah pada akhirnya, hidup yang lebih manusiawi memang selalu dimulai dari hati?

Menyeduh Masa Depan

Pelatihan ini kecil, tetapi penuh makna. Ia mengajarkan bahwa inklusi sosial tidak pernah lahir dari pidato panjang atau dokumen kebijakan. Ia tumbuh dari hal sederhana, secangkir kopi yang diseduh dengan tulus, lalu diterima tanpa prasangka.

“Kami sudah melakukan pelatihan di semua wilayah DKI Jakarta, dan yang ke sembilan kali ada di Kota Mojokerto. Jadi boleh dibilang Difabis ini perdana di Jawa Timur,” terang Kiki, barista pendamping dari DKI Jakarta yang berkolaborasi dengan Baznas Indonesia.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kita duduk di sebuah kafe kecil di Kota Mojokerto dan memesan secangkir kopi dari tangan mereka, kita akan sadar, bahwa keterbatasan tak pernah benar-benar ada. Yang ada hanyalah keberanian untuk mencoba, dan keberanian kita untuk menerima.

Di tepi meja itulah inklusi menemukan bentuk paling sederhana sekaligus paling indah. (ridwan)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular