Mojokerto-(satujurnal.com)
Wakil Wali Kota Mojokerto, Rachmad Sidharta Arisandi, meresmikan Difabis Coffee and Tea di halaman kantor Baznas Kota Mojokerto, Jalan Benteng Pancasila, Kamis (2/10/2025). Peresmian ini menjadi langkah strategis dalam menghadirkan ekosistem kewirausahaan yang inklusif dan berkelanjutan di tengah kota.
Acara turut dihadiri Sekda Kota Mojokerto Gaguk Tri Prasetyo dan Kepala Dinas Sosial P3A Kota Mojokerto, Choirul Anwar. Kehadiran kedai ini diharapkan bukan hanya sebagai ruang usaha, tetapi juga simbol kolaborasi berbagai pihak dalam menciptakan ruang publik yang ramah difabel.
Ketua Baznas Kota Mojokerto, Dwi Hariadi, menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang mendukung. Menurutnya, Difabis Coffee and Tea bukan sekadar kedai minuman, melainkan manifestasi nyata dari semangat kemandirian dan inklusi sosial.
“Kami berharap semangat pemberdayaan ini bisa menular lebih luas, menginspirasi banyak pihak, dan membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga punya potensi untuk mandiri,” ujarnya.
Kedai ini digawangi sembilan siswa SLB Pertiwi Kota Mojokerto, penyandang disabilitas rungu yang tengah belajar menjadi barista. “Target pelatihan ini enam hari. Tapi baru tiga hari saja, anak-anak sudah mampu membuat enam sampai tujuh varian minuman kopi,” kata Dwi dengan nada haru dan bangga. Baznas menyiapkan paket pelatihan senilai Rp25 juta, lengkap dengan peralatan dan pendamping barista dari DKI Jakarta yang berkolaborasi dengan Baznas Indonesia.
Selama masa pelatihan, produk minuman dibagikan gratis kepada pengunjung. Di salah satu sudut tenda kedai, sebuah papan sederhana bertuliskan Menu Difabil yang berisi tujuh varian: Kopi Susu Gula Aren, Creamy Latte, Buther Scotch, Dark Coklat, Coklat Butter, Matcha, dan Americano.
Pengunjung tidak hanya bisa mencicipi, tapi juga diajak mengisi kuesioner. Pertanyaannya beragam: seberapa sering minum kopi dalam seminggu, jenis kopi yang disuka, apakah pantas menyandingkan Difabil Coffee and Tea dengan brand populer seperti Kopi Kenangan, berapa harga yang layak, hingga kritik dan saran untuk perbaikan. Semua itu menjadi bahan evaluasi untuk membuat usaha ini benar-benar berdaya saing.
Lebih dari sekadar kedai, inisiatif ini juga menghadirkan pengalaman unik dengan edukasi bahasa isyarat. Para barista difabel tidak hanya menyajikan kopi, tetapi juga mengajarkan bahasa isyarat dasar kepada pengunjung. Hal ini membuat setiap kunjungan lebih berkesan, sekaligus menumbuhkan kesadaran tentang budaya tuna rungu dan inklusi sosial.
Visual branding kedai pun menarik. Spanduk utama menampilkan abjad Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) untuk kata Disabil, dipadu slogan “Sambil Berbagi & Belajar Bahasa Isyarat”. Kolase foto peragaan cara pesan kopi dengan gerak tubuh makin menegaskan keterampilan mereka, sekaligus menjadi promosi inklusi yang kuat.
Wakil Wali Kota Rachmad Sidharta Arisandi mengaku kagum. “Saya sangat terkesan dengan kualitas kopi yang dihasilkan para barista difabel. Mereka membuktikan bahwa dengan kesempatan dan dukungan yang tepat, mereka mampu menghasilkan karya luar biasa. Pemerintah daerah akan terus mendukung inisiatif Baznas ini melalui promosi produk, penyediaan lokasi strategis, dan kemitraan dengan sektor swasta. Kami ingin menjadikan Kota Mojokerto sebagai kota yang inklusif dan ramah bagi semua warganya,” tegas pria yang akrab disapa Cak Sandi tersebut.
Sekda Kota Mojokerto, Gaguk Tri Prasetyo, menambahkan, inisiatif ini sejalan dengan visi pemerintah dalam pemberdayaan ekonomi. “Kami akan memastikan program ini terintegrasi dengan pelatihan keterampilan, bantuan modal, dan promosi UMKM. Kami juga mendorong seluruh instansi pemerintah untuk menggunakan jasa kedai kopi barista difabel dalam kegiatan resmi. Ini bentuk dukungan nyata untuk inklusi sosial dan ekonomi,” jelasnya.
Kepala Dinas Sosial P3A Kota Mojokerto Choirul Anwar, juga menyampaikan rasa bangga. “Saya sangat terharu melihat semangat dan kemampuan luar biasa para barista difabel ini. Inisiatif Baznas sangat visioner, memberi kesempatan nyata bagi penyandang disabilitas untuk mandiri. Kami akan terus mendukung melalui pelatihan lanjutan, pendampingan, dan fasilitasi akses bantuan sosial. Disabilitas bukan penghalang untuk meraih mimpi,” ujarnya.
Kehadiran Difabis Coffee and Tea di Kota Mojokerto akhirnya bukan hanya menghadirkan kopi berkualitas, tetapi juga ruang belajar, ruang interaksi, dan ruang inklusi. Kedai ini menjadi bukti bahwa zakat bisa dikelola secara produktif, transparan, dan bermanfaat nyata bagi mustahik, sekaligus mengajak masyarakat bersama-sama meruntuhkan stigma terhadap disabilitas.(one)



