Friday, October 9, 2026
spot_img
HomeCatatan dari TepiObrolan Tanpa Jarak di TPS Pasar Tanjung Anyar, Erry Purwanti dan Banyu...

Obrolan Tanpa Jarak di TPS Pasar Tanjung Anyar, Erry Purwanti dan Banyu Biru Dengarkan Aspirasi Tukang Sampah

Di jantung Kota Mojokerto, di antara riuhnya aktivitas Pasar Tanjung Anyar yang tak pernah lekang, terukir sebuah kisah tentang kepedulian dan kebersamaan. Senin malam, 13 Oktober 2025, pukul 21:35 WIB , di sebuah sudut sederhana, berbatasan langsung dengan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang menyimpan aroma kehidupan dan perjuangan, dua politisi PDI Perjuangan hadir membawa harapan. Erry Purwanti, nahkoda DPRD Kota Mojokerto, dan Banyu Biru Djarot, wakil rakyat dari Komisi VII DPR RI, memilih untuk merajut dialog dengan para pahlawan kebersihan.

Malam itu, bukan agenda formal yang mengikat, melainkan keinginan tulus untuk menyapa dan mendengarkan. Di atas tikar plastik yang sederhana, mereka berbagi cerita, kudapan, dan secangkir kopi hitam yang menghangatkan suasana. Truk-truk sampah yang setia berjajar menjadi saksi bisu percakapan yang mengalir apa adanya, tanpa sekat dan formalitas.

Erry Purwanti, melalui untaian kata di media sosialnya, menggambarkan pertemuan itu. “Semalam saya duduk bareng para tukang sampah di TPS Pasar Tanjung – Makan bareng, ngobrol santai, sambil dengerin langsung cerita dan aspirasi mereka di tengah aktivitas sehari-hari,” tulisnya.

Ia menambahkan, “Nggak ada jarak, nggak ada formalitas. Semua duduk sama rata, saling berbagi cerita tentang kerja keras, tantangan di lapangan, dan harapan biar pengelolaan sampah di Mojokerto bisa lebih baik lagi.”

Banyu Biru, dengan nada apresiatif, menyampaikan kekagumannya atas semangat gotong royong yang menjadi fondasi kerja mereka. “Kesadaran kolektif panjenengan semua untuk menjaga lingkungan dengan satu kata aja, kebersihan!, itu sudah luar biasa khok,” ujarnya.

Lebih dari sekadar kata-kata, ia memberikan sumbangan berupa televisi untuk menemani waktu istirahat mereka di “base camp” TPS.

Pertemuan yang berlangsung di sela-sela kegiatan reses Banyu Biru ini, menjadi simbol sinergi antara legislatif daerah dan pusat. Keduanya hadir bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang peduli. Mereka membuktikan bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu terpancar dari ruang sidang yang megah, tetapi juga dari kehangatan obrolan di belakang pasar yang tak pernah sepi.

Erry Purwanti mengungkapkan dari pertemuan sederhana itu memberinya pelajaran berharga.

“Saya belajar banyak – tentang ketulusan, semangat, dari keikhlasan para pejuang kebersihan yang tanpa lelah jaga kota tetap bersih,” akunya.

“Kadang perubahan besar memang berawal dari obrolan kecil di tempat sederhana, asal niatnya tulus dan dilakukan bareng-bareng. Salam hormat untuk semua pejuang kebersihan Mojokerto,” ucapnya.

Di balik gemerlap lampu neon dan aroma sampah yang menyengat, malam itu nilai-nilai kemanusiaan menemukan ruangnya. Erry Purwanti dan Banyu Biru, dengan duduk bersama para tukang sampah yang seringkali terlupakan, telah memberikan contoh nyata bahwa empati tidak mengenal batasan status sosial, dan bahwa mendengarkan adalah bentuk kepedulian yang paling otentik. (ridwan)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular