Sunday, October 11, 2026
spot_img
HomeRegionalKabupaten JombangAroma Polo Pendem dan Irama Gedruk: Jombang Rayakan 115 Tahun dengan Semangat...

Aroma Polo Pendem dan Irama Gedruk: Jombang Rayakan 115 Tahun dengan Semangat Kebersamaan

Selasa (21/10/2025) pagi, udara Alun-Alun Jombang dipenuhi aroma manis talas kukus, singkong goreng, dan pandan wangi yang menyeruak dari puluhan stan peserta.

Suara alat musik gedruk berpadu dengan tawa warga, menciptakan harmoni yang sulit ditemukan di tengah hiruk pikuk kota. Di bawah langit cerah Oktober, semangat kebersamaan tumbuh seperti benih yang disiram harapan baru. Jombang sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-115.

Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Jombang, Pemerintah Kabupaten bersama Forum Komunikasi Masyarakat Jombang (FKMJ) menggandeng lintas etnis, lintas agama, dan lintas budaya untuk menggelar dua acara yang menyatu dalam semangat kebangsaan: Lomba Kreasi Jajanan Polo Pendem dan Flash Mob Gedruk Jombangan.

Namun, ini bukan sekadar lomba. Ini adalah perayaan identitas dan gotong royong, di mana umbi-umbian yang dulu hanya dianggap makanan kampung, kini naik panggung sebagai simbol kreativitas dan ketahanan pangan lokal.

Sebanyak 42 peserta ikut ambil bagian, terdiri dari 21 perwakilan kecamatan dan 21 pelaku UMKM menampilkan kreasi unik dari bahan sederhana seperti talas, bote, ubi jalar, singkong, dan ganyong. Setiap stan bercerita: tentang resep turun-temurun, tentang inovasi rasa, dan tentang cinta mereka pada Jombang.

Suasana semakin hidup ketika Bupati Jombang, Warsubi, S.H., M.Si., dan Ketua Tim Penggerak PKK, Yuliati Nugrahani Warsubi, hadir berkeliling menyapa peserta. Turut mendampingi Wakil Bupati Salmanuddin, S.Ag., M.Pd., Kapolres AKBP Ardi Kurniawan, Sekdakab Agus Purnomo, serta jajaran kepala OPD.

Wajah-wajah ceria, aroma kuliner tradisional, dan hentakan musik gedruk menjadikan alun-alun pagi itu seperti panggung besar yang menampilkan semangat Jombang dalam wujud paling sederhana , dan paling tulus.

Dalam sambutannya, Bupati Warsubi menegaskan makna penting kegiatan ini.

“Hari ini kita saksikan bersama betapa luar biasanya produk olahan dari bahan lokal seperti talas, bote, singkong, ubi jalar, dan ganyong atau yang kita sebut polo pendem,” ujarnya.
“Tujuannya jelas mengenalkan kembali kepada masyarakat, terutama anak-anak muda, bahwa bahan pangan lokal bisa menjadi kebanggaan sekaligus sumber ekonomi,” katanya.

Ia mencontohkan, banyak produk olahan dari polo pendem kini mulai dikenal luas di pasaran.

“Kita punya pia jombangan, chiffon kaspe, dan banyak lagi. Semua ini bukti bahwa Jombang bisa mandiri dari tanahnya sendiri. Apalagi kalau dinikmati dengan kopi excelsa Wonosalam yang khas — lengkap sudah cita rasa lokal kita,” tambahnya sambil tersenyum.

Senada dengan itu, Yuliati Nugrahani Warsubi, Ketua TP PKK Kabupaten Jombang, mengajak masyarakat untuk terus mencintai dan mengembangkan kuliner tradisional.

“Melestarikan kuliner tradisional bukan hanya menjaga rasa, tapi juga menjaga akar budaya dan membuka peluang ekonomi bagi warga. Kami ingin polo pendem menjadi ikon kuliner nasional dari Jombang,” tegasnya.

Dari tangan-tangan kreatif itu, lahirlah juara-juara terbaik:

Juara I: Pandan Cassava Roll — Kecamatan Ngusikan
Juara II: Kauje Brule — Tanecang Kauje
Juara III: Pastel Tutup Singkong — APKM

Harapan I: Chiffon Kaspe — Aisyiyah
Harapan II: Getuk Silung Ubi Coklat — Kecamatan Jombang
Harapan III: Bote-Bote — Talisha

Selain juara utama, panitia juga memberikan penghargaan khusus untuk kategori Sajian Terfavorit, Penampil Terbaik, Muatan Kearifan Lokal, Terinovatif, Terkomunikatif, dan Terunik.

Sebagai penutup yang menggugah semangat, Flash Mob Gedruk Jombangan mengguncang panggung utama. Ratusan peserta dari berbagai sekolah dan organisasi tampil kompak — dari SMK Negeri 2, SMA Negeri 1, SMP Negeri 2, hingga komunitas seperti Persit Kartika Chandra Kirana, Bhayangkari, TP PKK, dan Paguyuban Nusa Tenggara.

Langkah-langkah ritmis mereka menggema di seluruh alun-alun, seolah menggetarkan tanah yang telah menjadi saksi sejarah panjang Jombang. Gedruk bukan sekadar tarian, tapi simbol kehidupan: kuat, dinamis, dan penuh harmoni.

Dan di antara aroma jajanan yang masih mengepul hangat, tepuk tangan penonton yang tak kunjung berhenti, serta wajah-wajah yang tersenyum lebar, terasa benar , Jombang sedang merayakan dirinya sendiri. (Safrial)

RELATED ARTICLES

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular