Wawancara di Hotel D’Resort Mojokerto, sesaat setelah Musda XI Partai Golkar Kota Mojokerto usai.
Sore 23 Oktober 2025, suasana Hotel D’Resort Mojokerto mulai lengang. Para kader Partai Golkar yang sejak pagi memenuhi aula berangsur pulang. Spanduk kuning masih tergantung di dinding, dan beberapa panitia sibuk membereskan meja registrasi. Di salah satu sudut lobi, Agus Wahjudi Utomo duduk dengan tenang, mengenakan kemeja kuning cerah, bercakap santai dengan beberapa kader muda yang datang menyalaminya.
Baru saja ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Mojokerto periode 2025–2030. Tapi wajahnya tidak menunjukkan euforia berlebihan. Ia justru tampak reflektif, seolah kemenangan ini bukan puncak perjalanan, melainkan awal dari pekerjaan panjang yang menantinya.
Kami berbincang singkat sebelum ia beranjak meninggalkan hotel. Berikut petikan wawancaranya.
Bagaimana perasaan Anda setelah terpilih secara aklamasi dalam Musda XI kali ini?
Jujur saja, saya lebih merasa lega daripada bangga. Musda ini bukan sekadar soal terpilih atau tidak, tapi soal bagaimana kita bisa menyatukan semangat kader yang sempat menurun.
Bagi saya, aklamasi itu bukan kemenangan pribadi, tapi kemenangan komunikasi. Artinya, kita sudah bisa duduk satu meja, saling bicara tanpa prasangka. Itu yang paling mahal dalam politik.
Anda bilang ini kemenangan komunikasi. Apa yang Anda maksud?
Golkar ini partai besar, punya sejarah panjang, dan tentu punya banyak kepentingan di dalamnya. Tapi politik yang sehat itu bukan soal siapa paling keras bicara, melainkan siapa paling mau mendengar.
Saya banyak belajar dari proses panjang sebelum Musda ini. Tidak mudah menyatukan pemilik suara yang punya pandangan berbeda-beda. Tapi ketika kita bicara dari hati ke hati, ternyata yang muncul bukan ambisi, melainkan kerinduan. Semua ingin Golkar Kota Mojokerto kembali solid dan dipercaya rakyat.
Musda berlangsung tenang dan aklamatif. Apakah itu sudah direncanakan dari awal?
Tidak ada yang direncanakan sedemikian rupa. Kita hanya menyiapkan forum yang terbuka dan demokratis. Mekanismenya jelas, siapa yang punya dukungan 30 persen bisa maju. Tapi ternyata dukungan mengerucut ke satu nama, dan itu terjadi secara alami.
Saya anggap itu mandat moral yang besar. Karena saat dukungan datang tanpa paksaan, berarti harapan juga datang bersamanya.
Apa refleksi pribadi Anda setelah perjalanan panjang menuju Musda ini?
Yang saya pelajari, politik itu maraton, bukan sprint. Ada banyak tikungan, banyak persimpangan, tapi yang penting jangan kehilangan arah.
Saya sudah cukup lama di Golkar, mengalami fase-fase ketika partai ini berjaya dan juga ketika semangat kader melemah. Jadi Musda ini bagi saya bukan pesta politik, melainkan titik balik. Saya ingin memastikan bahwa Golkar Kota Mojokerto kembali punya denyut, punya arah, dan punya energi baru.
Apa yang akan menjadi langkah pertama setelah Musda ini?
Konsolidasi. Itu prioritas utama. Kita akan membentuk struktur yang solid dan berkapasitas, bukan hanya berdasarkan kedekatan.
Saya ingin pengurus diisi oleh orang-orang yang mau bekerja, bukan hanya hadir di foto. Partai ini butuh tenaga, bukan tepuk tangan.
Anda menyinggung soal regenerasi. Seberapa penting peran kader muda bagi Golkar ke depan?
Sangat penting. DPP sudah menegaskan, komposisi pengurus minimal 60 persen harus dari kalangan muda. Tapi lebih dari sekadar angka, saya ingin regenerasi ini menjadi gerakan nilai.
Anak muda hari ini butuh ruang untuk tumbuh, bukan sekadar disuruh ikut rapat. Mereka punya cara pandang baru, cara berpolitik yang berbeda. Lebih cair, lebih terbuka, dan sering kali lebih jujur.
Kalau kita tidak memberi ruang pada mereka, partai ini akan kehilangan masa depan.
Beberapa orang mengatakan Golkar sudah kehilangan kedekatan dengan rakyat. Apa tanggapan Anda?
Saya kira itu kritik yang sangat jujur dan perlu kita akui. Golkar, dan mungkin partai lain juga, pernah terlalu sibuk mengurus diri sendiri. Padahal rakyat menilai bukan dari jargon, tapi dari kehadiran.
Itu sebabnya saya setuju dengan pesan Ketua DPD Golkar Jatim, Pak Ali Mufthi: partai harus inten turun ke kelurahan dan kecamatan. Dengarkan apa yang dirasakan masyarakat. Politik itu soal empati, bukan hanya elektabilitas.
Anda tampak cukup reflektif dalam bicara. Apakah Anda merasa politik hari ini terlalu kaku?
Bisa dibilang begitu. Politik sering kali kehilangan sisi manusianya. Semua diukur dengan kalkulasi, padahal yang membuat politik hidup adalah rasa.
Saya ingin Golkar Kota Mojokerto menjadi partai yang hangat lagi, yang mau datang ke rumah warga tanpa kamera, yang mau mendengar keluhan tanpa menunggu tahun pemilu.
Kalau kita bisa kembali ke situ, saya yakin Golkar akan dicintai lagi.
Bagaimana Anda memaknai amanah lima tahun ke depan?
Sebagai pengabdian. Tidak ada kata lain. Ini bukan tentang posisi, tapi tentang tanggung jawab untuk menata kembali fondasi partai.
Saya sadar, jabatan ketua itu bukan hak istimewa, tapi ruang ujian. Orang akan menilai bukan dari pidato, tapi dari langkah-langkah kecil yang kita ambil setiap hari.
Apa pesan Anda untuk kader Golkar Kota Mojokerto setelah Musda XI ini?
Saya hanya ingin mengingatkan satu hal: partai ini tidak akan besar karena satu orang, tapi karena semua mau berjalan bersama.
Kita tidak sedang memperebutkan posisi, tapi sedang menjemput kembali kepercayaan rakyat. Mari kita rawat Golkar ini seperti rumah kita sendiri. Kadang butuh dibersihkan, kadang harus diperbaiki, tapi jangan pernah kita tinggalkan.
Wawancara sore ini berakhir dengan jabat tangan hangat. Agus Wahjudi kemudian berdiri, menyalami satu per satu panitia, lalu berjalan menuju mobil yang menunggunya di halaman hotel. Langit Mojokerto mulai jingga, dan di balik senyumnya yang tenang, tampak jelas kesadaran seorang politisi yang paham: kemenangan sejati baru dimulai ketika semua euforia berhenti.(ridwan)



