SENI WAYANG KULIT kembali menyalakan denyut kebudayaan Kota Mojokerto dalam balutan Mojo Festival 2025. Di balik kelir putih dan alunan gamelan Jawa Timuran, kota ini seakan mengingatkan dirinya sendiri bahwa zaman boleh bergerak, tetapi akar budaya tak boleh tercerabut. Di era ketika jempol lebih cepat dari ingatan, panggung tradisi mencoba berbicara kepada generasi yang hidup di meja Diskominfo, generasi yang menonton lakon lewat feed, bukan lewat sabetan wayang secara langsung.
Kamis malam, 20 November 2025, saya tidak sedang mencermati Instagram, melainkan berada di Taman Bahari Majapahit, menyaksikan langsung lakon Pandawa Syukur, meski tidak bertahan hingga dini hari.
Suasana yang saya temui dalam pentas wayang kulit dengan dalang RM Akbar Syahalam, dalang muda asal Nganjuk, tidak hanya dipenuhi para sepuh. Justru, ada irisan baru yang muncul, anak-anak muda yang memilih berdiri dekat panggung, tertawa, dan merekam potongan adegan dengan ponsel mereka. Mungkin ini sebabnya beberapa tahun terakhir pertunjukan wayang kerap dipadukan dengan campursari dan lawakan, bukan sebagai pengalih pakem, melainkan sebagai magnet yang menurunkan jarak psikologis penonton muda terhadap tradisi. Humor menjadi pintu, gamelan menjadi lantai, dan wayang kembali mendapat panggung sebagai rumah bersama lintas generasi.
Wayang Menyapa Gen Z
Tepat sehari setelah pentas, akun resmi @humaskotamojokerto mengunggah reel yang terasa seperti perpanjangan napas panggung ke dunia digital. Visualnya menggoda: close-up kelir dan bayangan Arjuna membakar hutan, guyonan
sinden Proborini dan pelawak tradisional Andik TB diambil dari sudut yang lebih intim, penonton tertangkap kamera, dan tak semuanya beruban.
Video itu lebih dari sekedar dokumentasi. Ia menjadi pernyataan bahwa tradisi ini masih hidup dan tak ingin hidup sendiri.
Caption-nya pun blak-blakan: “Wayang Kulit
Waktunya menyenangkan orang tua.
Alhamdulillah, setelah sekian lama tidak ada pertunjukkan wayang, para penikmat wayang banyak yang merasa seneng banget nih..
Masih ada 3 hari loh rek Mojo Festival, ayo ramaikan.”
Mungkin ada nada usil, tetapi juga ada isyarat bahwa agar budaya tidak hilang, ia harus punya bahasa baru untuk berbicara. Tradisi yang tak berubah menjadi simbol, tetapi tradisi yang berani menyesuaikan diri hingga punya kesempatan menjadi peristiwa.
AI dalam Kelir Majapahit
Animasi 2D/3D berdurasi dua menit tujuh detik pun muncul sebagai bentuk lain dari penyegaran. Bukan tanpa risiko, sebab aroma digital bisa saja mengaburkan napas asli gamelan. Tapi saya melihatnya bukan sebagai pengganti panggung, melainkan kilas balik visual bagi mereka yang tak sempat menyaksikan langsung. Penanda bahwa multimedia AI bisa jadi cara zaman membaca cerita.
Captionnya ringan, relatable, “Ada yang nonton wayang ga nih semalem?? Udah pasti yang lebih banyak nonton orang tua sih ya.. Tapi tenang buat kalian yang penasaran… tim kreatif humas sudah mengemasnya dengan versi AI… Yuk simak sampai selesai.”
Cerita dipadatkan, sabetan dilambatkan, dan Jarasandha tumbang dengan efek visual ala film epik. Tetapi kalimat penutupnya menarik: “Bersatu padu menjaga perdamaian.”
Di titik inilah layar dan kelir bertemu, bukan saling meniadakan, tetapi saling menerjemahkan.
Spirit of Majapahit: Antara Kelir dan Algoritma
Kota Mojokerto seolah menempatkan dua meja berdampingan. Meja tradisi, tempat dalang menanam metafora, dan meja digital, tempat anak muda menyunting masa lalu agar bisa dibagikan kembali.
Jika keduanya mau saling mendengar, mungkin inilah bentuk baru dari Spirit of Majapahit, ketika kebudayaan tak hanya dipamerkan, tetapi dihidupkan melalui partisipasi. Wayang bukan benda museum; ia adalah cara sebuah kota menafsirkan dirinya sendiri.
Siapa Penonton Sebenarnya?
Saya menyadari satu hal saat meninggalkan Taman Bahari Majapahit. Wayang tidak menunggu tepuk tangan terakhir. Ia menunggu apakah esok hari masih ada yang mengingat ceritanya. Dan jika anak-anak muda tertawa karena guyonan dalang, sinden, pelawak atau menonton ulang lewat reel Instagram, mungkin itu bukan kemunduran, barangkali itulah cara tradisi bertahan di era serba cepat.
Kelir boleh bergerak, kamera boleh berputar, algoritma boleh menentukan takdir penayangan. Tapi selama ada yang datang, baik dengan sandal jepit, kamera HP, atau sekedar rasa ingin tahu, tradisi masih punya hak untuk hidup.
Catatan dari Tepi ini ditulis bukan dari layar IG, tetapi dari kerumunan yang menyimak wayang yang masih mencari generasi pewarisnya. (Ridwan)



