Di LAYAR DEPAN, profesi Public Relations (PR) kerap dilihat sebagai dunia yang glamor, dekat dengan panggung cahaya dan komunikasi elegan. Namun di balik panggung itulah sesungguhnya cerita yang lebih panjang hidup: tentang strategi meredam isu, seni mengelola persepsi, dan tensi batin yang tak tertulis dalam buku ajar.
Wajah manusiawi PR itulah yang mencuat dalam talkshow sekaligus peluncuran buku Untold Stories: Strategi Public Relations di Industri Kreatif yang digelar Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie bersama Satkaara Academy, Kamis (27/11/2025), di Jakarta.
Hampir 250 peserta hadir memenuhi ruang acara, dari praktisi PR, akademisi, mahasiswa, hingga organisasi profesi seperti KPI, ISKI, APPRI, Perhumas, Ipranahumas, dan ASPIKOM. Pertemuan lintas generasi dan sektor komunikasi ini seolah menjadi cermin kebutuhan baru: membaca ulang dinamika komunikasi strategis di era digital yang sensitif, cepat berubah, dan menuntut transparansi tinggi.
Dalam pemaparannya, Nugroho Agung Prasetyo, praktisi PR senior sekaligus penulis buku, menegaskan bahwa PR di industri kreatif bergerak di medan yang jauh dari kata rutin.
“PR bukan hanya tentang menulis siaran pers atau mengundang media. PR adalah seni membaca isu dan emosi publik, mengelola pesan, serta menjaga kredibilitas ketika sorotan datang tanpa peringatan,” ujarnya.
Ia mengisahkan perjalanan 15 tahun di industri kreatif: bagaimana meredam kontroversi produk, memitigasi opini publik yang terbelah, hingga menjaga hubungan media ketika isu meledak dalam hitungan jam. Cerita-cerita lapangan itu menjadi roh utama dalam Untold Stories—membawa pembaca masuk ke ruang kerja PR yang jarang tampak di mata publik.
Diskusi dipandu oleh Bayu Sutiyono, presenter dan jurnalis senior yang kini aktif mengembangkan jurnalisme digital melalui Siber.id. Talkshow ini mengalir dalam perspektif yang lebih mendalam: tidak hanya teknis komunikasi, tetapi juga dimensi moralitas dan tantangan etis di lapangan.
Pandangan Tokoh Profesi: Membuka ‘Dapur’ PR yang Sesungguhnya
Ketua ISKI Pusat, Prof. Atwar Bajari, menyebut buku Untold Stories sebagai penanda penting.
“Buku ini jujur—membuka dapur kerja PR di industri kreatif. Setiap bab membawa pembaca ke balik layar: bagaimana konten disiapkan, bagaimana krisis muncul tiba-tiba, dan bagaimana seorang PR harus siap menjaga kredibilitas korporasi kapan saja,” ujarnya.
Prof Atwar menegaskan, bagi generasi muda PR, buku ini dapat menjadi panduan untuk membangun praktisi yang “kreatif, peka data, melek teknologi, dan tetap berpegang pada etika.”
Ruang Pertemuan Akademik dan Industri
Tidak sekadar peluncuran buku, kegiatan ini menjadi momentum sinergi antara kampus dan industri. Mahasiswa menyaksikan dunia kerja PR secara konkret—penuh tekanan, menuntut intuisi, dan membutuhkan ketahanan mental. Sementara bagi praktisi senior, acara menjadi ruang refleksi: teori akademik ternyata masih relevan menjadi fondasi merespons isu lapangan.
“PR hari ini tidak hanya bicara citra, tapi mengelola kepercayaan di tengah derasnya opini publik. Di era banjir informasi digital, integritas menjadi fondasi utama,” tegas Nugroho Agung.
Literasi Komunikasi Strategis yang Diperlukan Zaman
Untold Stories dipandang sebagai kontribusi penting bagi literasi komunikasi strategis di Indonesia—memberi ruang refleksi bagi kampus, industri, dan generasi baru praktisi PR. Di tengah turbulensi informasi dan risiko persepsi publik, buku ini hadir sebagai panduan sekaligus arsip perjalanan profesi PR di industri kreatif modern.
Acara didukung oleh Satkaara Academy Community (SAC), Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie, serta Miracle (Gramedia).(one/sst)



