PADA HARI JUMAT di penghujung Januari 2026, Choirul Anwar menutup pintu ruang kerjanya untuk terakhir kali. Ia tahu, pintu itu tidak hanya menutup sebuah ruangan, tetapi juga satu musim panjang dalam hidupnya.
Ia tidak pernah membayangkan hari terakhirnya di kantor akan diberi penanda apa pun. Dalam benaknya, purnatugas akan lewat seperti hari kerja biasa: menutup berkas, menyalami beberapa orang, lalu pulang. Karena itu, ketika ia melangkah masuk dan mendapati seluruh karyawan berkumpul – bersama para pilar sosial yang selama ini bekerja bersisian dengannya – ia terdiam, seperti orang yang tersesat sejenak di antara kenyataan dan mimpi. Seolah waktu menyisipkan catatan kaki yang tak pernah ia tulis.
Kejutan itu datang berlapis. Dua cucunya, Mbak Acha dan Adik Attar, tiba-tiba muncul di tengah acara, didampingi ibunya. Di tangan mereka ada balon ucapan dan cokelat silver – tanda kasih yang sederhana, tetapi jatuh tepat di ruang paling rapuh di dadanya. “Kok bisa tiba-tiba datang ke sini?” tanyanya lirih, setengah tak percaya. Mbak Acha mendekat, berbisik pelan sambil tertawa manja, “Rahasia, Kung.”
Saat itu, yang runtuh bukan jarak, melainkan ketegangan yang lama disimpan. Dunia kerja yang tertib dan berlapis mendadak menyempit, menyisakan satu rasa yang hangat dan akrab.
Ketika diminta memberi sambutan, suaranya sempat tertahan. Ia berusaha menguasai diri, menahan getar yang naik perlahan ke kelopak mata. Namun rasa haru tetap menemukan jalannya sendiri : mengalir, turun, lalu seperti menetes dingin ke kerongkongan, menyusup ke relung yang paling sunyi. Kerinduan belum hadir sepenuhnya, tetapi bayangannya sudah cukup terasa. Dalam hati, ia hanya menyebut satu kalimat pendek, tak untuk didengar siapa pun: Ya Allah, kuatkan saya. Kalimat itu seperti penanda sunyi, bukan penutup, melainkan tarikan nafas sebelum menoleh ke belakang, ke jalan panjang yang telah ditempuhnya tanpa banyak jeda.
Dari kantor kecamatan hingga ruang-ruang layanan sosial yang sarat harapan, dari masa pandemi yang mencekam hingga skor 794 yang hampir membawa Kota Mojokerto ke puncak Kota Layak Anak, hidupnya teranyam dari benang kerja yang panjang dan pertemuan dengan banyak orang. Kini, ketika langkahnya melambat menuju purnabakti, yang ia bawa pulang bukanlah kegemilangan, melainkan keyakinan sederhana: setiap kerja meninggalkan arti, setiap upaya – meski kecil dan pelan – akan tumbuh hidup di luar dirinya.
Di Kota Mojokerto, nama Choirul Anwar lebih sering hadir di antara baris-baris notula rapat, laporan pelayanan sosial, atau percakapan lorong kantor. Ia bukan figur panggung. Kehadirannya justru nyata di ruang aduan masyarakat, di kursi plastik tempat ia mendengarkan keluhan warga dalam kesabaran yang tak banyak bersuara.
Di kota kecil ini, pengabdian sering tumbuh seperti doa yang dilirihkan. Tak selalu terdengar tetapi terus diucapkan.
Jalan Sunyi dari Jombang
Choirul Anwar lahir di Jombang, 4 Januari 1966. Ia tumbuh dalam keluarga Nahdliyin yang menjadikan kesederhanaan sebagai laku dan ketekunan sebagai napas. Dari sanalah pribadi yang kelak menapaki hidup panjang di birokrasi itu belajar menahan diri, menghargai waktu, dan memikul tanggung jawab tanpa gemuruh.
Pendidikan formal membawanya meraih gelar Magister Ilmu Ekonomi dari Universitas Darul Ulum Jombang. Namun jauh sebelum itu, arah hidupnya telah mengarah ke koridor pemerintahan. Tahun 1986 ia diterima sebagai CPNS, dua tahun kemudian resmi menjadi PNS.
“Saya tidak pernah menyusun mimpi besar tentang jabatan,” kata pria berpenampilan rapi itu suatu ketika. “Hanya niat untuk bekerja dengan tertib, datang tepat waktu, dan menyelesaikan apa yang dipercayakan.” Selebihnya, ia serahkan pada hari yang berjalan pelan, seperti air.
Karier pria yang kerap disapa Pak Anwar itu bermula di Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek. Ia bekerja sebagai staf, mengurus surat-menyurat, data kependudukan, dan pelayanan administrasi warga, sebuah awal yang jauh dari jabatan tinggi.
Tahun 1993, ia mendapat penugasan baru sebagai staf di Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Dari sinilah kisah panjangnya di kota ini bertaut. Jabatan datang selangkah demi selangkah: dari kepala seksi, Camat Magersari, Kepala Bagian Humas dan Protokol, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra), hingga pada 11 Juni 2021 dipercaya memimpin Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kota Mojokerto.
Jika ditarik garis, grafiknya menanjak. Namun bagi sosok dengan gaya komunikasi sederhana itu, semua fase terasa serupa: tanggung jawab yang berpindah tempat.
Sebagai camat, lelaki yang lebih sering mendengar daripada berbicara itu belajar menerima warga dengan urusan yang jarang rapi: bantuan tertunda, konflik keluarga, anak putus sekolah. Ada suara tinggi, air mata, juga diam panjang.
Di sana ia mengerti: pemimpin yang berjalan sendirian boleh jadi cepat sampai, tetapi juga cepat lelah.
Ujian di Balik Sorot Kamera
Salah satu masa paling membekas datang saat ia menjabat Kepala Bagian Humas dan Protokol. Kala itu Pemerintah Kota Mojokerto diguncang operasi tangkap tangan KPK. Kantor pemerintahan berubah menjadi ruang tunggu panjang yang dipenuhi pertanyaan. Wartawan berdatangan. Kamera menyala. Telepon berdering tanpa jeda. Sosok yang dikenal ramah dan komunikatif itu kemudian ditunjuk sebagai juru bicara.
Sejak hari itu, telepon genggamnya seperti jantung tambahan. Setiap kalimat harus ditimbang. Setiap jawaban harus dijaga. Ia berdiri di antara tuntutan keterbukaan dan keharusan menjaga ketenangan. “Saya seperti jadi ‘seksi’ di hadapan wartawan,” kenangnya dengan senyum getir.
Dari hari-hari penuh sorot itulah figur yang gemar menyelipkan humor tipis itu belajar arti amanah yang tidak tertulis di SK jabatan.
Usai menuntaskan tugas di Humas, ia menempati posisi Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra). Di sinilah ia bersentuhan langsung dengan kebijakan sosial dalam skala kota: bantuan keagamaan, hibah lembaga sosial, pendidikan keagamaan, hingga persoalan sosial yang bersinggungan dengan keyakinan.
“Kesra itu tidak bisa tergesa,” katanya. “Harus adil, harus tertib, harus transparan. Dan itu tidak mungkin dilakukan sendirian.”
Fase ini memperkuat keyakinannya bahwa sistem lebih penting daripada figur. Ia terbiasa membangun tim verifikator, berdiskusi dengan berbagai pihak, dan menahan diri dari keputusan impulsif.
Memimpin dengan Nurani di Masa Pandemi
Ketika kemudian dipercaya memimpin Dinsos P3A Kota Mojokerto, semua potongan pengalaman itu seolah menemukan tempatnya: kepemimpinan lapangan dari kecamatan, kecermatan komunikasi dari Humas, serta kepekaan kebijakan dari Kesra.
Namun saat sosok religius itu mulai bekerja pada Juni 2021, Kota Mojokerto masih berada dalam bayang pandemi Covid-19. Permohonan bantuan menumpuk hingga ribuan. Dinsos menjadi OPD yang pintunya paling sering diketuk.
Ia dan tim menyalurkan bantuan sosial pusat, provinsi, dan daerah; melakukan kunjungan rumah; memilah data PMKS / PPKS; mengajukan sebagian ke pemerintah pusat dan provinsi; serta menganggarkan sisanya lewat APBD.
Kerja itu bergerak melampaui batas meja, melintasi jenjang kewenangan, dan perlahan menjelma menjadi deretan pengakuan yang datang bertahun-tahun kemudian. Ia tidak lahir sekaligus, melainkan tumbuh seperti garis waktu yang dirajut oleh kesabaran.
Angka yang Berbicara Pelan
Sebagai OPD dengan spektrum masalah luas, selain isu anak dan perempuan, Dinsos P3A bersama Dinas Kesehatan PPKB, Dinas P dan K, Dinas Perhubungan, Disporapar, Dinas PUPR, DiskopUKMPerindag, DKPP, DPMPTSP (Naker), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), PDAM, Kecamatan dan Kelurahan hingga Baznas bergandengan dalam penanggulangan kemiskinan.
Hasilnya, capaian Pemerintah Kota Mojokerto menunjukkan tren penurunan angka kemiskinan dan jumlah penduduk miskin dalam beberapa tahun terakhir.
Strateginya bertumpu pada tiga pilar: mengurangi beban pengeluaran masyarakat, meningkatkan pendapatan, dan mengurangi kantong-kantong kemiskinan.
Dari angka kemiskinan yang pada 2021 berada di kisaran 6,39 persen turun menjadi 5,98 persen pada 2022, kemudian turun menjadi 5,77 persen pada 2023, dan 5,57 persen pada 2024, hingga pada 2025 tercatat 5,05 persen.
Dalam kurun yang sama, jumlah penduduk miskin menyusut dari sekitar 8.670 jiwa menjadi sekitar 6.770 jiwa.
Pada tahun 2023, kemiskinan ekstrem Kota Mojokerto dicatat 0,00 persen. Sebuah garis datar di grafik, yang di baliknya tersimpan cerita tentang dapur yang kembali berasap tipis, anak-anak yang bisa kembali ke ruang kelas, dan keluarga yang perlahan berdiri di atas kaki sendiri. Data disisir, nama diverifikasi, bantuan diarahkan melalui basis data sosial yang terus diperbarui, seolah setiap angka adalah amanah yang tak boleh keliru ditulis. Sejak 2022, bantuan modal usaha disalurkan kepada kelompok-kelompok di pinggir statistik: para janda, perempuan kepala keluarga (PEKKA), dan kelompok rentan lainnya yang masih potensial dan mempunyai embrio usaha, mereka didorong dan difasilitasi untuk membentuk kelompok usaha bersama (KUBE). Tidak semuanya berakhir dengan keberhasilan. Ada yang jatuh, ada yang berhenti di tengah jalan. Tetapi baginya, ikhtiar tetap harus ditanam, sebab tugas manusia adalah menabur, sementara hasil sepenuhnya berada dalam kuasa Yang Maha Mengatur.
Bagi Choirul Anwar, statistik itu tidak pernah berdiri sebagai lambang kemenangan, melainkan isyarat halus: di balik setiap angka yang bergerak turun selalu ada tungku yang kembali hangat, anak yang tetap berangkat sekolah, dan keluarga yang bisa merebahkan badan dengan sedikit lebih tenteram dari hari sebelumnya.
Dalam banyak kesempatan, ia lebih sering mengulang satu kalimat sederhana: capaian ini hasil kerja tim. Kalimat itu terdengar klise, tetapi dalam perjalanan kariernya, justru menjadi prinsip yang nyata dijalankan.
Di internal dinas, ia menanamkan nilai ASN BerAKHLAK: berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif, sebagai kebiasaan kerja, bukan slogan yang dipajang di dinding kantor.
Baginya, ‘jabatan’ hanya alamat sementara bagi sebuah tanggung jawab, dan ‘kerja’ adalah titipan yang kelak akan dimintai jawab, bukan hanya oleh atasan tetapi oleh hati nurani dan oleh Tuhan.
Target perjanjian kinerja dengan wali kota ia baca sebagai ukuran tanggung jawab institusional, ia penuhi dengan disiplin. Namun ia menyimpan janji lain yang tak tercatat di lembar evaluasi: memperlakukan setiap tamu dengan hormat, tidak meninggikan suara di hadapan yang lemah, tidak memendekkan sabar ketika antrean panjang dan keluhan berulang.
Ia percaya, doa orang yang datang dalam kesempitan sering melesat lebih cepat daripada laporan resmi mana pun.
Rekognisi atas Kerja Panjang
Kerja itu perlahan membuahkan rekognisi. Pada 2021, ketika pandemi Covid-19 masih memberi jarak di banyak ruang publik, Forum Anak Kota Mojokerto meraih Juara II Lomba TikTok Challenge Arek Jatim tingkat Provinsi Jawa Timur. Dalam pandangannya, itu pertanda suara anak-anak mulai menemukan panggungnya sendiri, bahkan lewat layar kecil gawai.
Setahun berikutnya, 2022, Kota Mojokerto meraih predikat Kota Layak Anak (KLA) tingkat Madya dan Anugerah Parahita Ekapraya tingkat Madya dari Kementerian PPPA.
Tahun 2023, kota ini naik ke level ke tingkat Nindya dalam penilaian KLA dan kembali memperoleh APE tingkat Madya.
Tahun 2024, penghargaan datang atas pendampingan Dinas Lingkungan Hidup hingga mencapai standar RBRA kawasan Alun-alun, disusul predikat Zona Hijau kepatuhan pelayanan publik dari Ombudsman RI.
Di tahun yang sama. UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Timur.
Bagi Choirul Anwar, UPTD PPA bukan struktur birokrasi belaka, melainkan pintu pertama bagi mereka yang datang dengan suara gemetar. “Unit ini
merupakan fondasi agar negara benar-benar hadir ketika ‘luka’ terjadi.” ujarnya.
Yang paling membekas baginya adalah kasus-kasus kekerasan terhadap anak. Wajah-wajah kecil yang duduk kaku di ruang konseling sering hadir kembali di ingatannya.
Melalui UPTD PPA, laporan kekerasan tidak lagi terombang-ambing dari satu meja ke meja lain, tetapi ditangani secara cepat, terpadu, dan berpihak pada korban.
Baginya, capaian standarisasi PUSPAGA (Pusat Pembelajaran Keluarga) Balai Konseling tingkat Nindya pada 2025 adalah tonggak penting. Layanan itu belum ada pada 2023, baru dirintis di 2024, ketika ia memberi ruang kepada timnya belajar ke daerah lain. Setahun kemudian, Kota Mojokerto langsung lolos ke kategori Nindya dalam penilaian nasional.
Ia menyebutnya sebagai tanda kesungguhan, pencapaian yang luar biasa. Sebuah ikhtiar menghadirkan layanan keluarga yang layak, agar anak-anak tumbuh dalam lingkungan lebih sehat menuju generasi emas 2045.
Tahun 2025, target KLA dinaikkan ke predikat Utama. Namun Kota Mojokerto kembali berada di level Nindya dengan skor 794, terpaut enam poin dari kategori tertinggi.
“Tinggal selangkah,” ujarnya, suaranya pelan penuh arti.
Angka itu menjadi penanda batin: batas tipis antara puas dan terus berusaha, agar tidak lupa bahwa amanah selalu menyisakan ruang untuk diperbaiki.
Di luar penghargaan, kerja Dinsos P3A menyentuh rumah-rumah kecil: bantuan modal usaha, bersih-bersih rumah lansia sebatang kara, rehabilitasi ringan bersama TAGANA, KSB, dan Baznas, santunan kematian dan kebencanaan, layanan SLRT, hingga counter pelayanan di MPP Gajah Mada.
Sebagian program masih berjalan tertatih. Ia mencatat sebagai pekerjaan rumah: digitalisasi bantuan sosial, penguatan UPTD PPA dan PUSPAGA, peningkatan capaian KLA, hingga ikhtiar menyiapkan Sekolah Rakyat.
Cara memimpinnya tumbuh dari keyakinan sederhana: jaga integritas dan jangan tinggalkan tim. Ia mengedepankan musyawarah, pembagian peran yang jernih, dan dialog terbuka.
“Pelayanan publik adalah perjumpaan manusia dengan manusia lain yang sedang membutuhkan pertolongan,” katanya.
Di antara laporan, rapat, dan angka-angka kinerja, ada ruang batin yang ia jaga tetap hening. Di sanalah ia menyimpan satu ingatan tentang Wali Kota Ika Puspitasari yang suatu hari menyapa dan menyalami para lansia di Rumah Peduli Lansia Tribuwana Tungga Dewi, Kota Mojokerto, membagi roti dan susu, berbincang sejenak, lalu menunduk hingga air mata jatuh tanpa direncanakan
Choirul Anwar – saat itu Kepala Bagian Humas dan Protokol, mengabadikan peristiwa Maret 2019 tersebut dalam blog pribadinya, CATATAN CHOIRUL, melalui esai berjudul AIR MATA (Dalam Kasih Sayang & Kelembutan), Tulisan itu dapat dibaca di laman https://choirulanwarch.blogspot.com/2019/03/air-mata-dalam-kasih-sayang-kelembutan_46.html?m=1 dan juga dimuat media daring Bangsaonline http://m.bangsaonline.com/berita/55154/air-mata-dalam-kasih-sayang-dan-kelembutan
Kepada wali kota perempuan pertama di Kota Mojokerto itu, ia menyimpan rasa terima kasih yang dalam. “Beliau memberi saya ruang menunaikan amanah sampai selesai,” katanya lirih, seperti seseorang yang menata syukur, bukan menghitung jasa.
Menutup Buku, Membuka Halaman
Kesadaran akan purna tugas datang bersama proses administrasi. Perasaannya tenang, bercampur haru. Yang akan dirindukan adalah kebersamaan tim. Yang tidak terlalu: rapat panjang.
Kini, saat purnatugas tiba, pria yang suka menutup kalimat serius dengan senyum hangat itu bersiap kembali ke naskah utama hidupnya. Kembali sepenuhnya pada keluarga. Duduk tanpa terburu waktu. Mendengar cerita yang dulu sering terpotong panggilan tugas.
Ia tetap ingin terlibat dalam kegiatan sosial.
“Ya, pokoknya amar ma’ruf nahi munkar,” katanya, ringkas.
Penyuka kopi itu ingin membaca buku lebih banyak dan berkebun. Jika ada yang mengetuk pintu, figur yang menautkan kesalehan dengan keramahan itu akan membukanya.
Untuk Dinsos P3A, sosok yang dikenal sederhana itu berharap soliditas tetap terjaga. Untuk penggantinya, berpesan agar sistem yang telah dibangun dirawat dan dilanjutkan.
Untuk ASN muda, pesannya sederhana: “Bekerjalah dengan orientasi melayani, bukan mengejar jabatan. Jaga diri dari ujub, bekerjalah dengan syukur.”
Untuk anak dan perempuan di Kota Mojokerto, ia berharap hari-hari mereka lebih aman dan terlindungi.
Tentang karier panjangnya, ia berkata pelan, “Itu bukan tujuan. Saya hanya mencoba bekerja dengan tulus, terus belajar.”
Tentang pengabdian, jawabannya singkat: menjalankan tanggung jawab secara konsisten, meski tidak selalu terlihat.
Dan di balik semua angka, penghargaan, dan jabatan, tersimpan satu hal yang paling ia Junjung : bahwa setiap amanah akan kembali ditimbang, bukan di meja manusia, melainkan di hadapan Yang Maha Melihat.
Kalimat itu mengalir tenang, sebagaimana hidupnya di birokrasi. Panjang, sunyi, penuh jejak yang jarang terlihat, tetapi terus dirasakan. Seperti kerja yang tidak pernah benar-benar selesai, hanya berpindah tangan. (Ridwan)



