SORE ITU, saya duduk berhadapan dengan Choirul Anwar, biasa disapa Pak Anwar di sebuah warung rawon di jalur bypass. Tempat yang kami kenal bukan karena menunya, melainkan karena kebiasaannya: sepi, lapang, dan tidak tergesa.
Pak Anwar, teman ngobrol, narasumber setia, dan dalam beberapa hal, guru diam-diam tentang bagaimana kesabaran bisa disusun menjadi sistem, baru saja menyelesaikan hari-hari terakhirnya sebagai Kepala Dinas Sosial P3A Kota Mojokerto. Akhir Januari 2026 tinggal hitungan kalender. Atribut dinas akan dilipat.
Tak ada agenda. Hanya piring, cangkir, dan kebiasaan lama: berbincang tanpa jam.
Kami berbincang ringan tentang esai, tentang puisi, tentang blog pribadinya yang ingin ia isi kembali dengan suara yang lebih pelan dan jujur.
“Kalau sudah tidak pakai jabatan,” katanya, “barangkali kata-kata bisa lebih bebas berjalan.”
“Akhirnya,” katanya sambil tersenyum, “saya belajar juga cara pulang tanpa terburu-buru.”
Ia mengucapkannya ringan, seperti seseorang yang telah lama berlatih melepaskan.
Hampir empat puluh tahun di birokrasi, baginya, bukan garis lurus. Lebih menyerupai jalan setapak di ladang: berbelok, berlumpur, kadang sunyi, kadang ramai oleh jejak.
Ia menyebut dirinya dulu hanya pemuda pembawa benih di Trenggalek, datang dengan seragam tipis, gaji tipis, dan keyakinan yang belum benar-benar matang. Kini, di Kota Mojokerto, ia melihat pohon-pohon layanan tumbuh dengan tinggi yang berbeda-beda: ada yang rindang, ada yang masih rapuh, ada yang daunnya belum pandai meneduhkan.
“Birokrasi itu bukan labirin,” katanya pelan, “tapi ladang. Kita menanam. Orang lain yang memanen.”
Kalimat itu tidak ingin dikenang. Ia hanya ingin diletakkan.
Kami diam.
Senja memantulkan warna tembaga di kaca etalase.
Saya teringat masa ketika namanya berdiri di garis depan kamera: ia jadi juru bicara saat Pemkot Mojokerto diguncang OTT KPK, saat mikrofon berebut wajah, saat setiap kata bisa menjadi luka atau jembatan.
Ia menyebut masa itu sebagai musim jangkar.
“Kalau tidak menambatkan diri pada integritas,” katanya, “kita akan hanyut oleh marah, fitnah, dan lelah.”
Ia memilih menjadi air: tidak keras, tidak pecah, tetapi sabar mengikis batu.
Kejujuran, katanya, adalah logam paling mahal di tengah bising pernyataan pers.
“Kita ini kapal kecil,” katanya lagi. “Kalau tak berjangkar, akan karam di karang kehinaan.”
Kopi kami tinggal separuh.
Warung makin lengang.
Saya menyinggung staf-stafnya, yang memanggilnya bukan “Pak Kepala”, melainkan “Pak Anwar”.
Ia tertawa kecil.
“Kantor itu rumah kedua,” katanya. “Dan staf adalah napas kebijakan. Kalau memimpin dengan takut, kita hanya mendapat kepatuhan. Kalau memimpin dengan hati, kita mendapat kesetiaan.”
“Saya ingin dikenang sebagai teman.
Bukan sebagai atasan.”
Ia menyebut dirinya bukan komandan, melainkan orang tua yang berdiri di ambang pintu ketika anak-anaknya pulang larut dari kerja sosial yang tidak pernah rapi.
Langit menipis.
Warna jingga mengalah. Diganti abu-abu yang lembut.
Saya teringat esainya tentang air mata, tentang seorang wali kota yang menangis di hadapan lansia, tentang roti, susu, jarik, dan kelembutan yang jarang masuk laporan.
Ia tidak mengelak.
“Air mata itu bukan kelemahan,” katanya. “Itu tanda kita belum berubah jadi mesin.”
Ia berhenti sebentar, seperti menimbang sesuatu yang rapuh di ujung lidah.
Lalu kalimat itu jatuh, perlahan, nyaris seperti doa yang dilepas ke meja kayu:
“Angka kemiskinan bisa kita tekan dengan anggaran, tapi penderitaan rakyat hanya bisa divalidasi dengan empati.”
Kalimat itu terasa datar.
Namun jatuhnya seperti batu kecil ke air tenang, membuat riak yang merambat jauh ke dalam.
Kalimat ini memiliki resonansi yang sangat dalam. Ia memisahkan antara tugas teknokratis dengan tugas kemanusiaan.
Antara angka yang bisa dipindahkan dari kolom ke kolom,
dan luka yang menolak pindah dari dada ke laporan bulanan.
Antara APBD yang bisa disahkan dalam rapat,
dan rasa takut seorang anak yang tak bisa disahkan oleh siapa pun.
Pak Anwar menatap dasar cangkirnya, seolah di sana berdiam ribuan wajah: lansia yang menunggu tanpa kalender, anak-anak yang hafal bunyi pintu bantuan lebih dari bunyi mainan.
“Kalau empati mati,” katanya lirih, “kebijakan tinggal kerangka. Berdiri, tapi dingin.”
Saya tidak mencatat.
Beberapa kalimat memang tidak ingin disimpan di buku, melainkan di dada.
Senja benar-benar menjadi senja.
Cahaya beringsut seperti orang tua yang menutup pintu kamar anaknya pelan-pelan.
Kami berbicara tentang jabatan yang akan ditanggalkan.
“Kursi, papan nama, ruangan… itu hanya pinjaman,” katanya. “Kita ini cuma singgah.”
Purnatugas, baginya, bukan kehilangan panggung.
Hanya bergeser tempat berdiri:
dari depan meja ke tepi jalan,
dari penanda tangan ke pendengar,
dari pengatur ke penyerta.
Ia menyebut dirinya abdi.
Bukan pemilik.
“Abdi tidak selesai ketika kantor tutup.”
Kami tersenyum.
Lalu diam lama.
Saya membayangkan sebuah halaman kosong di akhir buku hidupnya.
Kalimat apa yang akan ia tinggalkan?
“Jadilah teman bagi rakyat sebelum jadi atasan,” katanya.
“Dan jika harus memilih antara benar di laporan atau adil di lapangan, pilihlah yang membuatmu masih bisa bercermin tanpa menunduk.”
Ia tersenyum kecil.
“Pangkat bisa menua. Tapi martabat harus tetap muda.”
Kami berdiri.
Berjabat tangan.
Tidak seperti pejabat.
Seperti dua orang yang sama-sama belajar menua dengan tenang.
Di belakang kami, senja menutup bukunya.
Dan malam membuka halaman baru. (ridwan)



