Friday, October 9, 2026
spot_img
HomeCatatan dari TepiTravesti, Ludruk, dan Tubuh yang Terlalu Cepat Diberi Nama

Travesti, Ludruk, dan Tubuh yang Terlalu Cepat Diberi Nama

Catatan dari Tepi

Sebuah kata kadang lebih gaduh daripada gambar.
Itulah yang tertinggal setelah membaca katalog Photo Exhibition bertajuk “Travesti: Dialektika Tubuh dan Perlawanan” karya Sofanka yang dihelat pada ujung Maret hingga awal April 2026 di Jombang.

Di ruang yang sama, Luhur Wijaya menghadirkan “Wayang Topeng Jatiduwur: Nafas Lama dalam Tubuh Baru”. Dua pendekatan, dua cara melihat tubuh. Yang satu seperti membongkar, yang lain merawat.

Namun justru satu kata yang terus menetap: travesti.
Kata itu terasa datang dari jauh, dari luar pengalaman keseharian kita, lalu menempel begitu saja pada tubuh-tubuh yang sebenarnya sudah lama kita kenal di panggung ludruk. Tubuh tandhak. Tubuh yang sejak dulu hadir tanpa merasa perlu dijelaskan.

Di situlah kegelisahan ini bermula.

Sofanka, nama artistik dari Sofan Kurniawan, tidak sekadar memotret. Ia seperti ingin membaca tubuh. Dalam karyanya, rias tidak berhenti sebagai estetika, melainkan tanda; gestur menjadi bahasa; bahkan jeda bisa menjadi makna.

Cara pandang ini terasa akrab dengan pendekatan Clifford Geertz dalam The Interpretation of Cultures (1973), yang melihat kebudayaan sebagai jaringan makna yang harus ditafsirkan. Bahwa yang tampak di permukaan sering kali hanyalah pintu masuk.

Dan memang, tubuh ludruk tidak pernah benar-benar sederhana.
Namun ketika istilah travesti digunakan, pembacaan itu seperti bergeser menjadi lebih konseptual, lebih global, tetapi sekaligus berisiko menjauh dari konteks yang membentuknya.
Mungkin kita perlu mundur sejenak.

Dalam catatan James L. Peacock melalui Rites of Modernization: Symbolic and Social Aspects of Indonesian Proletarian Drama (1968), praktik laki-laki memerankan perempuan dalam ludruk berangkat dari kebutuhan yang sangat konkret: perempuan tidak diizinkan tampil di panggung. Maka laki-laki mengambil alih.
Mereka berdandan, bersanggul, melenturkan tubuh, memainkan suara.

Tidak ada pernyataan identitas di sana.

Yang ada adalah kebutuhan pentas.
Tubuh dalam ludruk, pada mulanya, adalah tubuh yang bekerja—alat, medium, sekaligus bahasa.

Jika meminjam istilah Judith Butler dalam Gender Trouble (1990), yang terjadi lebih dekat pada performativity: sesuatu yang dilakukan, diulang, dan dibentuk oleh konteks, bukan identitas yang selesai dan menetap.

Namun seperti semua yang hidup, ludruk tidak tinggal di masa lalu.

Hari ini, sebagian tandhak tidak lagi sekadar memainkan perempuan. Mereka menjalani kehidupan yang lebih dekat dengan identitas feminin di luar panggung. Dalam konteks ini, ludruk menjadi ruang yang lebih dari sekadar pertunjukan. Ia menjadi ruang penerimaan.

Di titik ini, istilah travesti terasa menemukan pijakannya. Ia memberi kesan bahwa tubuh di panggung bukan hanya representasi, tetapi juga pernyataan.

Namun apakah ludruk selalu bekerja dalam kerangka perlawanan seperti itu?

Barangkali tidak sesederhana itu.

Kita pernah memiliki fase ketika tubuh-tubuh di panggung justru kehilangan daya liarnya.
Pada masa Orde Baru, setelah Gerakan 30 September 1965, ludruk tidak hanya dicurigai, ia juga ditata ulang. Negara melihat potensinya, lalu mengarahkannya.

Panggung tetap hidup, tetapi dengan pesan yang berbeda.
Ludruk menjadi medium pembangunan. Lawakan, kidungan, hingga lakon disusupi pesan tentang keluarga berencana, kebersihan, dan ketertiban. Tubuh-tubuh di atas panggung – termasuk tandhak – tidak lagi sepenuhnya bebas. Mereka menjadi bagian dari narasi yang diinginkan negara.


Dalam bayangan Antonio Gramsci, ini bisa dibaca sebagai kerja hegemoni: kekuasaan yang tidak selalu memaksa, tetapi mengarahkan secara halus.
Namun ludruk tidak pernah sepenuhnya tunduk.

Selalu ada celah.
Lelucon yang terasa terlalu jujur.
Sindiran yang lolos tanpa disadari.

Tubuh itu tetap menyimpan kebebasannya, sekecil apa pun.
Di sinilah mungkin kita bisa memahami ulang gagasan “dialektika tubuh” yang ditawarkan Sofanka.

Tubuh dalam ludruk memang berada dalam tarik-menarik: antara peran dan identitas, antara hiburan dan kritik, antara kekuasaan dan kebebasan.
Namun dialektika itu tidak selalu berupa perlawanan yang lantang.

Kadang ia hadir sebagai negosiasi.

Kadang sebagai kompromi.

Kadang sekadar cara untuk bertahan.

Menyebutnya travesti mungkin membantu kita melihat satu sisi. Tetapi jika terlalu cepat dilekatkan, ada risiko kita kehilangan sisi lain yang lebih cair, lebih kontekstual, dan justru lebih khas.

Perbandingan dengan Kabuki kerap muncul. Onnagata di Jepang dan tandhak di Jawa Timur sama-sama laki-laki yang memerankan perempuan.

Namun di Kabuki, peran itu dibakukan, dilatih dengan disiplin ketat, diwariskan secara sistematis, dan dijaga sebagai bentuk estetika yang nyaris tak berubah.

Ludruk tidak demikian.
Ia tumbuh dari rakyat, untuk rakyat, dan bersama rakyat. Ia berubah mengikuti penontonnya. Ia tidak terlalu sibuk menjaga kemurnian bentuk, tetapi menjaga kedekatan.

Di situlah ia tetap hidup.
Maka, mungkin persoalannya bukan pada benar atau salahnya istilah travesti. Melainkan pada cara kita menggunakannya.

Apakah ia membantu kita memahami,
atau justru membuat kita merasa sudah memahami?
Karena setiap istilah membawa dunia di belakangnya, sejarah, pengalaman, dan cara pandang yang tidak selalu sejalan dengan konteks lokal.

Dalam semangat antropologi simbolik, memahami kebudayaan berarti berusaha masuk ke dalam logika yang hidup di dalamnya, bukan sekadar menempelkan kategori dari luar.

Barangkali ini yang perlu dijaga.
Di sisi lain, karya Luhur Wijaya seperti menawarkan jalan yang berbeda. Ia tidak terlalu sibuk memberi istilah. Ia lebih seperti merawat ingatan.
Wayang Topeng Jatiduwur dalam fotonya tidak tampil sebagai objek analisis, melainkan sebagai sesuatu yang masih bernafas, yang hidup dalam tubuh-tubuh baru tanpa kehilangan jejak lama.

Di antara Sofanka yang mencoba membaca dan Luhur yang memilih merawat, kita seperti dihadapkan pada dua cara berhadapan dengan tradisi.

Yang satu bertanya.
Yang lain mengingat.

Dan mungkin, keduanya memang perlu berjalan bersama.

Pada akhirnya, tubuh tandhak dalam ludruk tidak pernah benar-benar meminta untuk didefinisikan.

Ia sudah hidup dengan caranya sendiri, di panggung, di antara penonton, di dalam lelucon yang kadang terasa ringan, kadang justru terlalu jujur.
Ia bisa menjadi perempuan malam ini,
kembali menjadi laki-laki esok pagi,
dan di antaranya, menjadi manusia yang terus menyesuaikan diri dengan dunia yang berubah.

Maka mungkin, yang perlu kita lakukan bukanlah memberi nama terlalu cepat.
Melainkan belajar mendengar lebih lama.
Sebab bisa jadi, di balik rias, tawa, dan gerak yang tampak sederhana itu, tubuh ludruk sedang mengatakan sesuatu, yang tidak selalu membutuhkan istilah, tetapi selalu membutuhkan perhatian.(ridwan)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular