Ia menjadi orang pertama yang naik ke panggung. Bukan wali kota. Bukan bupati. Bukan pula pelukis dan fotografer yang karyanya memenuhi dinding pameran.
Seorang bocah perempuan bertubuh mungil melangkah mantap ke tengah panggung. Musik pengiring mulai bertalu. Di hadapannya telah duduk Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari, Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra, Wakil Wali Kota, Wakil Bupati, jajaran Forkopimda, pimpinan instansi vertikal, hingga para pelaku usaha yang memenuhi kursi tamu undangan.
Tak tampak sedikit pun rasa gugup.
Begitu irama kendang mengalun, kedua tangannya terangkat tinggi. Tubuh kecilnya bergerak lincah mengikuti setiap ketukan. Tatapannya tajam. Sesekali kepalanya menghentak, lalu berayun cepat ke kanan dan kiri. Rias wajah merah menyala dengan guratan hitam khas Barong membuat ekspresinya terasa hidup. Penonton seolah tidak sedang menyaksikan seorang bocah kelas satu sekolah dasar, melainkan seorang penari yang telah lama akrab dengan panggung.
Decak kagum terdengar dari deretan kursi tamu.
Namanya Nafisa Mahira Sakhi. Biasa dipanggil Saza.
Bocah yang baru saja naik ke kelas II SDN Pagerluyung 1, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto itu tampil membuka rangkaian Opening Ceremony Pameran Lukisan dan Fotografi bertajuk “Merekam Realitas, Merawat Budaya” yang diinisiasi Media Centre – Ruang Jurnalis Mojokerto di Sunrise Mall Mojokerto, Rabu (8/7/2026).
Saza membawakan Tari Gebyar Barong, sebuah tari kreasi yang berakar dari kesenian rakyat. Berbeda dengan Barong tradisional yang dimainkan dua penari, versi gebyar dipentaskan seorang diri. Seluruh karakter Barong dipadatkan ke dalam gerak satu penari tanpa meninggalkan ruh keberanian, kewibawaan, dan semangat pelindung yang menjadi cirinya.
Di situlah letak tantangannya.
Seorang penari tunggal harus menghadirkan tenaga, ketegasan, sekaligus keluwesan melalui tubuhnya sendiri. Getaran bahu, ayunan kepala, hentakan kaki, hingga sorot mata harus menyatu dengan irama kendang dan gong.
Saza melakukannya dengan meyakinkan.
Kostum merah menyala berpadu ornamen emas membingkai setiap gerakannya. Bordir, manik-manik, dan rumbai-rumbai yang menghiasi bahu, dada, hingga pinggang memantulkan cahaya lampu panggung. Rias wajah teatrikal dengan dominasi merah, guratan hitam di sekitar mata dan bibir, serta titik-titik putih di dahi menghadirkan karakter Barong yang gagah sekaligus ekspresif.
Ia seolah mengenakan topeng, padahal seluruh ekspresi lahir dari wajahnya sendiri.
Di balik penampilan itu berdiri Sanggar Sangra Laksita, tempat Saza belajar mengenal tari tradisi sejak usia dini. Bersama kedua orang tuanya, Fendi dan Eka, ia tumbuh dalam lingkungan yang memberi ruang bagi kecintaannya pada seni.
Penampilannya hanya berlangsung beberapa menit.
Namun, pesan yang dibawanya terasa jauh lebih panjang.
Pameran dengan tagline Merekam Realitas, Merawat Budaya tidak hanya menghadirkan lukisan dan fotografi karya para jurnalis. Sebelum para tamu diajak menyusuri puluhan karya visual yang merekam jejak budaya Nusantara, mereka terlebih dahulu disuguhi budaya yang hidup melalui gerak seorang bocah.
Sesaat setelah turun dari panggung, saya menemuinya.
Rias wajah Barong masih melekat utuh. Keringat belum sempat menghapus guratan hitam di sekitar matanya. Napasnya masih sedikit memburu setelah menuntaskan seluruh rangkaian tari.
“Senang,” jawabnya singkat ketika saya bertanya bagaimana perasaannya seusai tampil.
Ia mengaku menyukai tari tradisi.
“Lalu, kalau sudah besar ingin menjadi penari?” tanya saya lagi.
Saza tidak menjawab.
Bocah kecil itu hanya tersenyum.
Senyum yang mungkin lebih jujur daripada jawaban panjang.
Di sampingnya duduk seorang pelatih muda berhijab yang mendampingi Saza. Ia ikut tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dari sorot matanya tampak kebanggaan melihat murid kecilnya mampu tampil percaya diri di hadapan ratusan tamu undangan.
Ia tak banyak berkata. Hanya mengangguk pelan.
Barangkali, bagi seorang pelatih, melihat bakat bertumbuh sering kali lebih membahagiakan daripada menceritakannya.
Percakapan kami tak sampai lima menit.
Panitia mulai kembali sibuk. Para tamu bergerak menuju prosesi pembukaan pameran. Musik berganti. Kamera-kamera kembali menyala. Saya pun beringsut, larut dalam keramaian acara.
Namun senyum Saza masih tertinggal dalam ingatan.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, kebudayaan ternyata tidak selalu bertahan karena gedung yang megah atau panggung yang mewah. Ia kerap hidup melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan ketulusan.
Siang kemarin, sebelum para tamu menyaksikan lukisan dan fotografi yang merekam realitas, mereka lebih dahulu menyaksikan seorang bocah yang sedang merawat budaya.
Dan mungkin, tanpa benar-benar ia sadari, Saza telah mengajarkan satu hal sederhana: tradisi akan terus hidup selama masih ada anak-anak yang mencintainya, lalu berani menari di hadapan dunia.(ridwan)



