Mojokerto-(satujurnal.com)
Transformasi digital dinilai menjadi peluang baru bagi para seniman dan pelaku ekonomi kreatif untuk memperluas jangkauan pasar. Pandangan tersebut disampaikan jurnalis senior dan sastrawan Sasetya Wilutama saat berkunjung ke kantor MajaCraft di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, guna menjajaki peluang kolaborasi dalam pengembangan ekosistem digital bagi para perupa dan pekerja kreatif, Kamis (16/7/2026).
Sasetya bukan nama baru di dunia jurnalistik. Alumni STIKOSA-AWS Surabaya itu pernah menjadi redaktur Penyebar Semangat, majalah berbahasa Jawa legendaris, kemudian berkarier di stasiun televisi nasional SCTV di Jakarta sebelum melanjutkan kiprahnya di Bojonegoro TV dan Matrix TV Digital. Kini, selain aktif menulis opini dan esai di Kompasiana, ia juga dikenal sebagai sastrawan yang menulis dalam bahasa Indonesia maupun Sastra Jawa Modern.
Pada 2025, Sasetya menerbitkan buku autobiografi Wong Katrok Merambah Media yang mengisahkan perjalanan panjangnya mengikuti perubahan dunia jurnalistik. Di tahun yang sama, ia bersama jurnalis senior Imung Mulyanto juga meluncurkan buku kumpulan cerpen dan cerkak berjudul Wali Katon.
Berbekal pengalaman panjang tersebut, Sasetya menilai pola pemasaran karya seni juga harus mengikuti perkembangan zaman.
“Kalau masih mengandalkan penjualan karya secara konvensional, tentu peluangnya semakin terbatas. Seniman harus adaptif terhadap perkembangan teknologi agar karya mereka bisa dikenal lebih luas,” ujarnya.
Dalam kunjungannya, Sasetya mendapat pemaparan langsung dari Founder MajaCraft, Angga Adrianto, mengenai konsep marketplace yang dikembangkan MajaCraft, mulai dari proses unggah karya, kurasi, penyajian karya dalam galeri digital, sistem transaksi yang aman melalui mekanisme escrow, hingga proses pengiriman karya kepada kolektor.
Meski mengaku belum terlalu akrab dengan teknologi digital, penjelasan yang disampaikan secara sederhana membuatnya semakin yakin terhadap konsep yang dibangun MajaCraft.
“Paparannya sangat praktis, lugas, jujur, dan transparan. Saya jadi memahami alur dari awal hingga karya diterima oleh pemilik barunya. Itu membuat saya semakin mantap untuk berkolaborasi,” katanya.
Menurut Sasetya, kehadiran galeri virtual menjadi nilai tambah bagi para seniman. Meski demikian, ia menilai galeri fisik dan studio tetap memiliki peran penting sebagai ruang kreatif dan tempat bertemunya seniman dengan masyarakat.
“Galeri virtual MajaCraft menjadi pelengkap. Seniman tetap berkarya di studio atau workshop, tetapi karyanya bisa dikenal tanpa dibatasi wilayah. Ini membuka peluang yang jauh lebih besar,” tuturnya.
Hal lain yang membuatnya optimistis adalah keberadaan perusahaan yang dinilai memiliki legalitas dan alamat operasional yang jelas.
“MajaCraft berkantor jelas di Trowulan dan legalitasnya lengkap. Bagi saya, itu penting karena menunjukkan keseriusan perusahaan dalam membangun ekosistem ini,” ungkapnya.
Ia juga melihat sejumlah keunggulan lain yang ditawarkan MajaCraft, mulai dari galeri digital, promosi karya, sistem transaksi yang aman, hingga perlindungan identitas karya melalui Sertifikat Kepemilikan Digital.
Menurut Sasetya, konsep tersebut menjadi peluang baru bagi para seniman untuk memperluas pasar tanpa harus meninggalkan cara berkarya yang selama ini telah mereka jalani.
Tak hanya itu, ia mengaku siap mengajak jaringan seniman yang dimilikinya untuk bergabung dengan MajaCraft.
“Saya tidak hanya memiliki banyak teman perupa di Surabaya, tetapi juga jaringan seniman di Yogyakarta. Saya optimistis mereka akan tertarik setelah melihat konsep yang dibangun MajaCraft,” ujarnya.
Sementara itu, Founder MajaCraft Angga Adrianto mengatakan pihaknya terus membuka ruang kolaborasi dengan para seniman, perupa, komunitas budaya, dan pelaku ekonomi kreatif dari berbagai daerah.
“Kami ingin MajaCraft menjadi rumah bersama bagi para kreator Indonesia. Teknologi kami hadir bukan untuk menggantikan cara berkarya, melainkan memperluas jangkauan karya agar dikenal lebih banyak orang, sekaligus memberikan perlindungan identitas dan sistem transaksi yang aman,” kata Angga.
Menurutnya, kolaborasi dengan komunitas seni menjadi bagian penting dalam membangun MajaCraft sebagai ekosistem digital yang menghubungkan karya kreatif Indonesia dengan masyarakat, kolektor, dan pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.(one)



