Wednesday, October 7, 2026
spot_img
HomeRegionalKabupaten JombangKasus Pneumonia di RSUD Jombang Tembus 617, Keterlambatan Berobat Picu Fatalitas Pasien...

Kasus Pneumonia di RSUD Jombang Tembus 617, Keterlambatan Berobat Picu Fatalitas Pasien Komorbid

Jombang-(satujurnal.com)
RSUD Jombang mencatat lonjakan penanganan kasus infeksi saluran pernapasan yang didiagnosis sebagai pneumonia sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dalam kurun waktu tujuh bulan tersebut, rumah sakit rujukan daerah ini telah merawat sebanyak 617 pasien infeksi paru dengan tingkat kematian mencapai 9,2 persen atau setara 52 orang.

Tingginya angka fatalitas tersebut didominasi oleh pasien yang terlambat mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan. Sebagian besar warga baru datang ke rumah sakit saat kondisi peradangan paru sudah parah dan diperberat oleh penyakit penyerta atau komorbid.

Setiap hari, RSUD Jombang rata-rata menerima dua hingga tiga pasien baru dengan gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) berat. Jika ditotal, penanganan kasus pneumonia di rumah sakit ini mencapai 75 hingga 80 pasien dalam satu bulan.

Direktur RSUD Jombang, dr. Puji Umbaran, menjelaskan, mayoritas pasien datang ke instalasi gawat darurat dengan kondisi keluhan fisik yang tergolong berat, mulai dari demam tinggi, batuk parah, hingga mengalami sesak napas.
Pemeriksaan medis lanjutan menunjukkan tingginya komplikasi pada pasien pneumonia akibat serangan penyakit kronis.

“Beberapa jenis komorbid utama yang paling sering memperberat kondisi pasien meliputi diabetes, hipertensi, gangguan jantung, serta asma,” katanya, Selasa (21/7/2026).

Berdasarkan sebaran data medis RSUD Jombang, kata dr. Umbaran lebih lanjut, kelompok usia dewasa saat ini mendominasi temuan kasus pneumonia ketimbang anak-anak. Data pemantauan harian mencatat dari 27 pasien pneumonia yang menjalani rawat inap, seluruhnya merupakan warga usia dewasa.

“Rendahnya kesadaran masyarakat dalam melakukan deteksi dini terhadap penyakit pernapasan menjadi pemicu utama masuknya pasien dalam kondisi kritis. Banyak warga mengabaikan gejala awal batuk pilek biasa hingga akhirnya berkembang menjadi pneumonia dan memicu kekambuhan komorbid,” ungkapnya.

Masyarakat pun diimbau tidak menunda pengobatan apabila mengalami keluhan pernapasan. Pemeriksaan awal dapat dilakukan melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama terdekat, seperti puskesmas, dokter praktik mandiri, atau klinik mitra BPJS Kesehatan untuk mencegah komplikasi infeksi paru yang fatal.(rial)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular