Jombang-(satujurnal.com)
Sebanyak 26 santri terindikasi mengidap Tuberkulosis (TBC) setelah menjalani pemeriksaan kesehatan massal di SMA A. Wahid Hasyim, Kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang. Temuan ini terungkap dalam pelaksanaan skrining penyakit menular yang ditinjau langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Kamis (20/8/2026).
Skrining maraton yang berlangsung selama tiga hari, sejak 18 hingga 20 Agustus 2026, menyasar total 2.678 warga sekolah dan pesantren. Dari jumlah tersebut, petugas medis memeriksa 2.481 siswa serta 197 guru dan ustad.
Langkah deteksi dini ini memetakan persebaran TBC di area pemukiman padat santri untuk mencegah penularan yang lebih luas.
Rangkaian pemeriksaan dimulai sejak Selasa (18/8/2026) dengan menyisir seluruh elemen sekolah dan asrama. Petugas memanfaatkan alat rontgen portabel berbasis teknologi terkini untuk melakukan pemindaian dada secara cepat di lokasi.
Hingga hari terakhir pemeriksaan pada Kamis (20/8/2026), hasil pemindaian mendeteksi indikasi TBC pada 26 santri, yang langsung ditindaklanjuti untuk mendapatkan perawatan medis.
Menanggapi hasil pemeriksaan tersebut, Menkes Budi Gunadi Sadikin meminta para santri dan pengelola pesantren tidak panik. Ia menegaskan, penemuan kasus sejak dini merupakan kunci utama penyembuhan total sekaligus pemutusan rantai penularan di lingkungan asrama.
“Padahal obatnya ada. Kok kenapa obatnya ada, meninggalnya banyak? Karena memang skriningnya, ketauannya sering sangat terlambat-lambat karena susah. Mesti pakai rontgen, kadang-kadang mesti pakai tes kayak PCR dulu. Nah, sekarang dengan teknologi baru, rontgen itu bisa dibawa ke mana-mana,” ujar Menkes.
Penggunaan perangkat rontgen portabel menjadi strategi baru Kementerian Kesehatan dalam menjangkau kawasan rentan seperti sekolah, pesantren, dan asrama.
Teknologi tersebut memungkinkan pemeriksaan dilakukan lebih dekat dengan kelompok masyarakat yang menjadi sasaran skrining. Pendekatan ini dinilai penting untuk menemukan kasus lebih awal sehingga penderita yang terindikasi dapat segera mendapatkan pemeriksaan lanjutan dan pengobatan sesuai ketentuan medis.
Selain persoalan TBC, Menkes juga mengingatkan lingkungan pendidikan untuk memperkuat upaya pencegahan penyakit yang berkaitan dengan kebiasaan merokok. Rokok dinilai meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit pada sistem pernapasan dan kanker paru.
Pemerintah mendorong lingkungan sekolah dan pesantren lebih aktif dalam upaya pencegahan, deteksi dini serta pemanfaatan layanan kesehatan. Langkah tersebut diharapkan membantu menemukan kasus penyakit lebih cepat dan mengurangi risiko penularan di lingkungan dengan aktivitas serta interaksi masyarakat yang tinggi. (rial)



