Jombang-(satujurnal.com)
Pemerintah Kabupaten Jombang meningkatkan upaya penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) melalui program skrining massal secara aktif di berbagai lokasi strategis di tengah masyarakat.
Hingga kini, capaian skrining telah mencapai 133 persen dari target minimal Kementerian Kesehatan sekitar 20.490 orang, sementara hampir 1.500 kasus TBC telah ditemukan dan masuk proses pengobatan.
Langkah masif ini dilakukan di seluruh wilayah hukum Kabupaten Jombang, dengan sasaran populasi yang luas dan beragam. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk mendeteksi secara dini penderita TBC, memutus rantai penularan, dan memastikan setiap kasus mendapatkan penanganan medis segera guna mencapai kesembuhan total dan meminimalisir risiko komplikasi serta kematian.
Pelaksanaan skrining massal diawali dengan pendekatan ‘jemput bola’ oleh tim medis, petugas kesehatan, serta kader masyarakat yang turun langsung ke lapangan. Warga tidak perlu datang ke fasilitas kesehatan, karena pelayanan pemeriksaan dibawa ke tengah-tengah pemukiman dan tempat aktivitas masyarakat. Proses skrining komprehensif, dimulai dari pemeriksaan gejala fisik hingga pemeriksaan penunjang lanjutan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menjelaskan, kemudahan akses bagi warga dengan penggunaan Mobile Rontgen.
“Foto rontgen itu langsung dilakukan di tempat tanpa perlu warga harus keliling ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain, sehingga ini terbukti sangat mempermudah masyarakat,” ujarnya.
Upaya skrining yang gencar ini didasari oleh pemahaman bahwa TBC di tengah masyarakat seringkali merupakan fenomena gunung es.
Strategi jemput bola yang diterapkan bertujuan mengatasi kendala geografis dan biaya transportasi yang kerap menjadi hambatan warga dalam melakukan pemeriksaan dini.
Skrining tidak hanya berfokus pada individu bergejala, namun juga diperluas untuk menemukan kasus yang belum terlihat.
Meskipun capaian penemuan kasus sekitar 50 persen dari total target Kemenkes sebanyak 3.695, Pemkab Jombang terus meluaskan jangkauan skrining.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang menunjukkan, kasus TBC banyak ditemukan pada usia produktif hingga lansia. Kewaspadaan ditingkatkan khususnya pada anak-anak, mengingat risiko tinggi tertular dari anggota keluarga serumah, seperti kakek atau nenek yang mungkin beraktivitas dekat dengan mereka.
“Jika kakek atau neneknya yang serumah terdeteksi TBC, maka anak-anak berisiko tinggi tertular. Hal inilah yang terus kita antisipasi bersama secara ketat agar generasi muda terlindungi,” tegas dr. Hexawan.
Keberhasilan program ini terwujud berkat kolaborasi erat berbagai elemen, termasuk Dinas Kesehatan di tingkat provinsi dan kabupaten, para dokter spesialis melalui Ikatan Dokter Spesialis Pulmonologi Indonesia (STPI), serta yayasan pendamping pengobatan TBC seperti YABISA. Dukungan penuh dari puskesmas-puskesmas di seluruh kecamatan, termasuk Puskesmas Ploso, menjadi garda terdepan dalam pelaksanaan langsung di lapangan.(rial)



