Mojokerto-(satujurnal.com)
Pemerintah Kota Mojokerto terus memperkuat industri batik lokal dengan mendorong perempuan menjadi pelaku ekonomi kreatif berbasis wastra. Upaya itu diwujudkan melalui pelatihan membatik bagi pengurus dan anggota TP PKK se-Kota Mojokerto di Sentra IKM Batik Maja Bharama Wastra, Selasa (19/5).
Pelatihan dibuka langsung Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari bersama Ketua TP PKK Kota Mojokerto Lina Desriana Arisandi. Kegiatan tersebut diikuti anggota PKK dari berbagai wilayah di Kota Mojokerto.
Dalam pelatihan itu, peserta tidak hanya mempelajari teknik membatik, tetapi juga dibekali pemahaman tentang potensi batik sebagai sektor usaha yang terus berkembang di tengah tren fashion berbasis wastra.
“Batik sudah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Berarti ibu-ibu yang hari ini belajar membatik ikut menjadi bagian dari pelestarian budaya,” kata Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota Mojokerto.
Menurutnya, batik memiliki kekuatan budaya sekaligus nilai ekonomi yang besar. Karena itu, pelatihan tersebut diharapkan mampu melahirkan pembatik-pembatik baru di Kota Mojokerto.
“Batik tidak hanya memiliki nilai sejarah atau budaya, tetapi juga ada nilai ekonomi. Melalui batik bisa tercipta banyak produk ekonomi kreatif,” ujarnya.
Saat ini, Kota Mojokerto telah memiliki 134 motif batik yang terdaftar Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Sejumlah motif terinspirasi dari filosofi budaya Majapahit, di antaranya Batik Bunga Matahari dan Gapuro Surya yang kini menjadi identitas wastra khas daerah.
Pemkot Mojokerto juga aktif mempromosikan batik lokal di berbagai ajang fashion nasional. Dalam tiga tahun terakhir, batik Kota Mojokerto rutin tampil di Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) bersama karya para desainer dari berbagai daerah di Indonesia.
Ning Ita menilai tren penggunaan batik di kalangan generasi muda turut membuka peluang besar bagi pertumbuhan industri kreatif lokal. Wastra tradisional kini semakin diterima dalam desain fashion modern.
“Saya melihat anak-anak muda sekarang sudah berani menggunakan batik dalam karya fashion mereka. Ini menunjukkan batik punya potensi ekonomi yang sangat luas dan sangat layak dikembangkan,” ungkapnya.
Melalui pelatihan tersebut, Pemkot Mojokerto berharap semakin banyak perempuan terlibat dalam pengembangan industri batik lokal, baik sebagai pelaku UMKM maupun pembatik profesional di Kota Mojokerto.(one/hms)



