Friday, October 30, 2026
spot_img
HomeRegionalKabupaten JombangTerus Bertumbuh Bersama Dukungan BRI, Usaha Kerupuk Samiler Luliza Kini Tembus Pasar...

Terus Bertumbuh Bersama Dukungan BRI, Usaha Kerupuk Samiler Luliza Kini Tembus Pasar Jawa Timur

Jombang-(satujurnal.com)
Aroma singkong yang diolah menjadi kerupuk samiler menjadi bagian dari keseharian Titik Martianah (55), warga Desa Kayangan, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Dari usaha rumahan yang semula hanya mengolah 10 kilogram singkong per hari, kini ia mampu mengembangkan produksi hingga 200 kilogram setiap hari.

Perjalanan itu tidak berlangsung dalam semalam. Ada tekad meneruskan usaha orang tua, ketekunan menjaga produksi, serta keberanian mengembangkan usaha melalui dukungan permodalan.

Titik mulai merintis kembali usaha kerupuk samiler pada 2011. Ia memilih melanjutkan usaha keluarga yang sebelumnya dibangun oleh orang tuanya. Dengan peralatan sederhana dan modal terbatas, produksi awalnya masih berkisar 10 kilogram singkong per hari.

Kerupuk samiler merupakan camilan tradisional berbahan dasar singkong. Proses pembuatannya cukup panjang, mulai dari mengupas dan mencuci singkong, menggiling hingga halus, mencampurkan bumbu, kemudian mengukus adonan sampai matang.

Adonan selanjutnya dibentuk dan dijemur hingga kering sebelum siap dipasarkan. Dari proses tersebut, Titik menghadirkan dua pilihan rasa, yakni original dan pedas, dengan merek dagang Luliza.

Seiring meningkatnya permintaan, kapasitas produksi mulai menjadi tantangan. Peralatan sederhana yang selama ini digunakan membuat Titik harus mencari cara agar usahanya bisa berkembang.

Kesempatan itu datang pada 2018. Titik mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui BRI Unit Kecamatan Diwek dan memperoleh pinjaman sebesar Rp25 juta.

Dana tersebut langsung dimanfaatkan untuk membeli mesin penggiling singkong dan sejumlah peralatan produksi. Hasilnya mulai terlihat. Kapasitas pengolahan meningkat dari 10 kilogram menjadi 50 hingga 60 kilogram singkong per hari.

“Awalnya produksi saya masih sedikit, sekitar 10 kilogram singkong sehari. Setelah mendapatkan pinjaman dari BRI, uangnya saya gunakan untuk membeli mesin giling dan peralatan produksi. Alhamdulillah, produksi bisa meningkat menjadi 50 sampai 60 kilogram sehari,” ungkap Titik.

Menariknya, peningkatan usaha tersebut diikuti kemampuan Titik melunasi pinjaman pertamanya dalam waktu sekitar satu tahun.

Namun, permintaan pasar yang terus berkembang kembali menghadirkan kebutuhan baru. Jumlah pekerja yang semula terbatas bertambah hingga mencapai 25 orang. Ruang produksi di rumah pun membutuhkan pengembangan agar aktivitas pengolahan berjalan lebih leluasa.

Pada 2020, Titik kembali mengakses KUR BRI dengan nilai pembiayaan Rp160 juta. Kali ini, modal tersebut digunakan untuk membangun gedung produksi di belakang rumahnya.

Bangunan baru itu menjadi titik penting dalam perjalanan usaha Luliza. Dengan fasilitas yang lebih memadai, kapasitas pengolahan singkong meningkat hingga 200 kilogram per hari.

Pasarnya pun semakin luas. Kerupuk samiler produksi Titik kini dipasarkan ke sejumlah daerah di Jawa Timur, antara lain Blitar, Sidoarjo, Tuban, Pasuruan, dan Surabaya.

Untuk menjaga daya saing produk, Titik menawarkan dua varian dengan harga berbeda. Kerupuk samiler original dijual Rp35 ribu per kilogram, sedangkan varian pedas dibanderol Rp38 ribu per kilogram.

Meski kapasitas produksi sudah meningkat, Titik tidak berhenti mencari peluang untuk menekan biaya operasional. Kali ini, perhatiannya tertuju pada pengadaan bahan baku singkong.

Selama ini, ia memperoleh singkong melalui tengkulak dengan harga sekitar Rp3.200 per kilogram. Padahal, pembelian langsung dari petani berpotensi mendapatkan harga lebih rendah, yakni sekitar Rp2.500 per kilogram.

Selisih harga tersebut menjadi pertimbangan penting bagi keberlanjutan usahanya. Karena itu, pada 2024 Titik kembali mengajukan KUR BRI dan memperoleh pembiayaan Rp110 juta.

Dana tersebut digunakan untuk membeli mobil pikap yang direncanakan menjadi kendaraan operasional pengangkutan singkong langsung dari petani.

“Selama ini saya membeli singkong dari tengkulak dengan harga sekitar Rp3.200 per kilogram. Kalau bisa membeli langsung dari petani, harganya sekitar Rp2.500 per kilogram. Karena itu, saya membutuhkan mobil pikap agar lebih mudah mengambil singkong langsung dari petani,” jelasnya.

Langkah tersebut memperlihatkan bagaimana Titik terus menyesuaikan kebutuhan modal dengan tahapan perkembangan usahanya. Jika sebelumnya berfokus pada peningkatan kapasitas produksi dan pembangunan tempat usaha, kini ia mulai mengarahkan perhatian pada efisiensi rantai pasok bahan baku.

Bagi Titik, dukungan pembiayaan dari BRI memiliki peran dalam setiap tahapan perjalanan usahanya. Ia mengaku sejak pertama kali mengakses pinjaman untuk mengembangkan Luliza, belum pernah mengajukan pembiayaan ke bank lain.

“Alhamdulillah, usaha saya bisa berkembang seperti sekarang berkat bantuan pinjaman dari BRI. Saya merasa terbantu karena proses pengajuannya mudah, cepat, dan pelayanannya juga baik. Bunganya juga terjangkau sehingga tidak terlalu memberatkan,” tuturnya.

Kini, Luliza telah tumbuh dari usaha rumahan berskala kecil menjadi usaha produksi kerupuk samiler yang mampu mengolah 200 kilogram singkong setiap hari dan melibatkan 25 pekerja.

Di balik setiap kemasan kerupuk samiler yang dipasarkan ke berbagai daerah, tersimpan perjalanan panjang seorang perempuan yang memilih meneruskan usaha keluarga. Titik membuktikan, usaha tradisional berbasis potensi lokal memiliki ruang untuk berkembang ketika ketekunan bertemu dengan kesempatan dan pengelolaan modal yang tepat.

Dari Kayangan, Jombang, kerupuk samiler Luliza terus menapaki pasar Jawa Timur. Sebuah perjalanan usaha yang berawal dari 10 kilogram singkong per hari, dengan harapan terus tumbuh bersama para pekerja dan petani yang menopang produksinya.(rial)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular