Friday, October 9, 2026
spot_img
HomeRegionalKabupaten JombangRamadan Tanpa Libur, Santri Ponpes Attah Tahdzib Jombang Ditempa Ngaji Kilatan dan...

Ramadan Tanpa Libur, Santri Ponpes Attah Tahdzib Jombang Ditempa Ngaji Kilatan dan Budidaya Ikan

Jombang-(satujurnal.com)
Musim libur sekolah di bulan Ramadan justru menjadi masa tempaan bagi ratusan santri Pondok Pesantren Attah Tahdzib, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Sejak Subuh hingga hampir tengah malam, para santri menjalani “ngaji kilatan” 52 kitab kuning, diselingi kerja nyata merawat kolam ikan, bertani, hingga belajar pertukangan sebagai bekal hidup mandiri.

Saat pelajar lain menikmati liburan, santri dan santriwati di lereng perbatasan Jombang–Malang–Kediri ini justru menjalani jadwal padat tanpa hari libur. Seluruh santri, putra dan putri, terlibat dalam rangkaian kegiatan pondok di bawah bimbingan para asatidz dan pengasuh.

Kegiatan dipusatkan di lingkungan ponpes yang berada di kawasan lereng Pegunungan Anjasmoro dan Gunung Kelud. Selama Ramadan, aktivitas berlangsung dari selepas Subuh hingga sekitar pukul 23.00 WIB.

Pimpinan ponpes, KH Ahmad Masruh, menegaskan Ramadan menjadi momentum terbaik untuk memperdalam ilmu agama sekaligus membentuk kemandirian.

“Ngaji kitab kuning istilahnya kilatan. Sehari penuh, mulai setelah Subuh sampai jam 11 malam. Ada 52 kitab yang dikaji, santri boleh memilih sesuai minatnya,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).

Pada siang hari, sebagian santri turun ke kolam. Mereka membersihkan kolam, memilah indukan, melakukan pemijahan, merawat benih hingga masa panen. Ikan yang dibudidayakan antara lain nila, patin, bawal, tombro, dan koi.

Abdul Latif, santri asal Banten, menyebut seluruh proses dikelola mandiri oleh para santri. “Dari pembibitan sampai panen kami urus sendiri. Ada yang panen dua bulan, ada yang sampai enam bulan, tergantung jenis ikannya,” katanya.

Selain perikanan, santri juga belajar pertanian, berkebun, dan pertukangan. Aktivitas tersebut tetap berjalan meski berpuasa, terutama perawatan benih ikan dan tanaman yang tidak bisa ditinggalkan.

KH Ahmad Masruh berharap pola pendidikan ini membentuk karakter santri yang tangguh. Ketika kembali ke masyarakat, mereka membawa bekal keilmuan agama sekaligus keterampilan usaha.

“Mereka pulang tidak bingung mencari pekerjaan. Sudah punya pengalaman bertani, perikanan, atau keterampilan lain. Bisa langsung terjun di masyarakat,” tegasnya.

Di Ponpes Attah Tahdzib, Ramadan menjelma madrasah kehidupan—memperdalam ilmu, mengasah etos kerja, dan menanamkan kemandirian dalam satu tarikan ibadah.(rial)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular