DI SUDUT PASAR LOAK MOJOTRISNO, Kecamatan Mojoagung, Jombang, deretan lampu bekas, kabel kusut, dan perkakas rumah tangga seadanya tergelar di atas lapak sederhana milik Saifuddin (64). Tak ada papan nama, tak ada etalase mencolok. Hanya seorang lelaki renta dengan satu tangan tersisa, duduk menunggu pembeli sambil sesekali merapikan barang dagangannya yang tak selalu laku.
Panas pasar siang kemarin terasa menempel di kulit. Orang-orang berlalu-lalang tanpa banyak menoleh. Namun bagi Saifuddin, pasar kecil itulah ruang terakhir tempat ia menegosiasikan hidup.
“Kadang dapat Rp 30 ribu, kadang Rp 10 ribu. Pernah juga cuma Rp 5 ribu sehari,” ujarnya pelan.
Warga Dusun Bulu, Desa Bakalan, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang itu sudah sekitar tiga tahun terakhir bertahan hidup dengan berjualan lampu dan perkakas bekas. Sebelumnya, ia sempat menjajakan mainan anak-anak dan gambar tempel dari sekolah ke sekolah. Apa saja dikerjakan, selama tubuhnya masih mampu bergerak.
Di rumah, istrinya, Wamisla (60), ikut membantu menghitung recehan hasil jualan yang tak pernah pasti. Dari uang itulah mereka membeli kebutuhan dapur, membayar listrik, hingga menyicil iuran BPJS Kesehatan kelas 3 sebesar Rp 35 ribu per bulan.
Bagi banyak orang, angka itu mungkin kecil. Namun bagi pasangan lansia tersebut, Rp 35 ribu adalah hasil menabung receh demi receh dari hari-hari yang sering kali tak berpihak.
Padahal, tubuh Saifuddin sudah lama tak utuh.
Puluhan tahun silam, tepatnya pada 1985, hidupnya berubah dalam sekejap. Saat masih bekerja sebagai instalatur listrik, ia mengalami kecelakaan kerja akibat tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Luka bakar parah merusak sebagian besar tubuhnya. Tangan kanannya harus diamputasi. Beberapa bagian tubuh lain ikut rusak.
“Waktu itu hancur semua. Perut juga sampai ditambal,” kenangnya sembari menunjukkan bekas luka yang masih membekas di tubuhnya.
Kalimat itu meluncur datar, nyaris tanpa dramatik. Seolah rasa sakit telah terlalu lama tinggal dalam hidupnya hingga berubah menjadi sesuatu yang biasa.
Sejak kecelakaan itu, kemampuan fisiknya menurun drastis. Ia tak lagi bisa bekerja normal seperti dulu. Namun hidup terus berjalan, sementara kebutuhan tak pernah mau menunggu.
Dua anaknya sesekali membantu. Tetapi kondisi ekonomi mereka juga belum mapan. Bahkan hingga kini, anak-anaknya belum memiliki rumah sendiri.
Di tengah keterbatasan fisik dan himpitan ekonomi, ada satu hal yang paling membuat Saifuddin merasa asing di negerinya sendiri: ia belum pernah merasakan bantuan sosial dari pemerintah.
Tak pernah menerima bansos sembako. Tak pernah mendapatkan BLT. Bantuan disabilitas pun tak pernah singgah atas namanya.
Padahal, keluarganya sudah beberapa kali mencoba mengajukan melalui perangkat desa maupun mudin setempat. Namun hasilnya tetap sama. Namanya tak pernah muncul dalam daftar penerima.
Ironi itu terasa semakin pahit ketika ia melihat orang-orang yang dinilainya lebih mampu justru tercatat sebagai penerima bantuan.
“Ada yang punya mobil, punya toko, punya sawah, tapi tetap dapat bantuan,” katanya lirih.
Saifuddin tak terdengar marah. Nada suaranya lebih menyerupai kelelahan panjang yang dipendam bertahun-tahun. Barangkali karena terlalu sering berharap, lalu terlalu sering pula kecewa.
Di lapaknya yang sederhana, ia tetap menunggu pembeli datang. Sesekali ada orang berhenti menawar lampu bekas atau obeng karatan. Selebihnya, ia hanya ditemani suara pasar dan waktu yang berjalan lambat.
Bagi Saifuddin, hidup tampaknya bukan lagi soal mengejar kesejahteraan. Ia hanya ingin dipandang sebagai warga yang benar-benar ada, bukan semata angka yang tercecer dari pendataan.
“Harapan saya pemerintah bisa lebih adil dan merata. Kasihan yang benar-benar butuh seperti saya malah tidak pernah dapat bantuan,” ucapnya.
Kalimat itu melayang pelan di antara hiruk-pikuk pasar loak. Sederhana, tetapi menyimpan luka panjang tentang seseorang yang bertahun-tahun bertahan hidup di pinggir perhatian. (Safrial)



