Friday, October 9, 2026
spot_img
HomeRegionalKota SurabayaDirektur ArtSubs: Pasar Bukan Satu-satunya Ukuran Keberhasilan Pameran

Direktur ArtSubs: Pasar Bukan Satu-satunya Ukuran Keberhasilan Pameran

Surabaya-(satujurnal.com)
Surabaya kembali menjadi ruang pertemuan seniman, publik dan pasar seni melalui ARTSUBS 2026 yang berlangsung di kompleks Balai Pemuda Surabaya, 19 September hingga 8 November 2026. Direktur ARTSUBS, Rambat, menegaskan kekuatan pasar lukisan tetap penting, tetapi keberhasilan pameran tidak cukup diukur dari transaksi karya.

Pernyataan itu disampaikan Rambat dalam konferensi pers ARTSUBS di Kokoon Hotel, Kamis (17/9/2026) siang. Acara yang dipandu Humas ARTSUBS Henri Nurcahyo tersebut turut menghadirkan dua kurator, Nirwan Dewanto dan Asmujo J. Irianto.

Dalam perspektif pasar seni, painting masih menjadi salah satu komoditas yang relatif kuat. Medium lukis dinilai lebih mudah diapresiasi dan dimaknai berbagai kalangan serta memiliki tingkat universalitas yang membuatnya relatif mudah diterima sebagai objek koleksi.

Namun, Rambat melihat pasar hanya salah satu bagian dari perjalanan ARTSUBS. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pameran secara bertahap menciptakan pertemuan antara seni dan masyarakat.

Dari pertemuan tersebut, menurut Rambat, dapat muncul berbagai kemungkinan baru. Masyarakat yang awalnya datang untuk melihat pameran dapat mulai mengenal seniman, kemudian tertarik mengoleksi karya, sementara profesi pendukung seni dan jaringan antarpelaku seni ikut berkembang.

Karena itu, tiga kali penyelenggaraan ARTSUBS diposisikan sebagai bagian dari proses panjang untuk menguji sekaligus membangun ekosistem seni rupa di Surabaya dan Jawa Timur.

Jika pada tahap awal tantangannya adalah memperlihatkan keberadaan publik seni di Surabaya, tahap berikutnya diarahkan untuk memperluas pertemuan antara publik, seniman, kolektor, institusi dan pasar. Proses tersebut menjadi bagian dari upaya menumbuhkan ekosistem seni rupa secara bertahap.

Sementara itu, kurator ARTSUBS 2026, Nirwan Dewanto, menjelaskan pameran tahun ini tidak dibangun melalui tema yang terlalu ketat. ARTSUBS tetap membuka ruang bagi beragam praktik seni rupa kontemporer dari berbagai latar belakang.

“Tema berfungsi sebagai pintu masuk untuk membaca pameran, bukan sebagai pagar yang membatasi kemungkinan karya,” ujar Nirwan.

Pendekatan tersebut membuat keberagaman menjadi salah satu kekuatan ARTSUBS. Pada penyelenggaraan 2026, gagasan itu diterjemahkan melalui tema “Border, Thresholds and Beyond” yang membuka pembicaraan mengenai batas, ambang dan kemungkinan untuk melampauinya.

Para seniman tidak hanya diajak melihat batas dalam praktik artistiknya sendiri, tetapi juga membuka kemungkinan kolaborasi dengan berbagai pihak dan bidang lain. Ketika batas tersebut dilampaui, karya dapat membawa pengalaman, persoalan dan peristiwa yang terekam di dalamnya untuk direnungkan kembali oleh publik.

Kurator lainnya, Asmujo J. Irianto, melihat seni rupa kontemporer memiliki arti penting bagi kehidupan sebuah kota. Seni rupa tidak hanya berkaitan dengan karya dan seniman, tetapi juga dapat menjadi bagian dari dinamika ekonomi serta mempertemukan seniman dengan kolektor dan berbagai lapisan publik.

Menurut Asmujo, kota membutuhkan ruang dan peristiwa seni yang memungkinkan karya tidak berhenti sebagai objek yang dipamerkan. Karya juga dapat menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat.

ARTSUBS 2026 menjadi penyelenggaraan ketiga setelah sebelumnya digelar di Pos Bloc pada 2024 dan Balai Pemuda pada 2025. Tahun ini, pameran menghadirkan 113 seniman, termasuk tujuh karya kolaborasi kelompok, dengan Nirwan Dewanto dan Asmujo J. Irianto sebagai kurator.

Melalui perpaduan antara pameran, pasar, diskusi dan pertemuan publik, ARTSUBS kembali membawa satu agenda besar: memperluas ruang tumbuh seni rupa kontemporer di Surabaya sekaligus mempertemukan karya dengan masyarakat yang lebih luas.(one/sst)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular