Wednesday, October 28, 2026
spot_img
HomeRegionalTulis Aksara Jawa Sepanjang 600 Meter, SD Antawirya Sidoarjo Pecahkan Rekor MURI

Tulis Aksara Jawa Sepanjang 600 Meter, SD Antawirya Sidoarjo Pecahkan Rekor MURI

Sidoarjo-(satujurnal.com)
SD Antawirya Islamic Javanese School, Junwangi, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui penulisan aksara Jawa sepanjang 600 meter. Kegiatan yang melibatkan sekitar 600 peserta itu menjadi upaya sekolah memperkuat pelestarian budaya Jawa sekaligus menanamkan karakter luhur kepada generasi muda.

Rekor tersebut dicapai pada Minggu (11/10/2026) dengan melibatkan siswa kelas I hingga VI, guru, wali murid, dan sejumlah tamu undangan. Sebanyak 3.000 orang menghadiri kegiatan yang digelar di lingkungan sekolah tersebut.

Kepala SD Antawirya Islamic Javanese School, Ustaz Air Langga Budi Prasetya, Lc, M.Pd, mengungkapkan kegembiraannya atas pencapaian tersebut saat ditemui di kantornya, Selasa (27/10/2026).

Menurut dia, penulisan aksara Jawa secara massal itu menjadi momentum untuk mengenalkan kembali kekayaan bahasa dan filosofi Jawa kepada generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi.

Bentangan kain sepanjang 600 meter yang dipenuhi tulisan aksara Jawa atau hanacaraka tampak melingkari Pendapa Giri Kedaton di area sekolah seluas 2.500 meter persegi. Seluruh peserta mengenakan busana tradisional Jawa, termasuk baju lurik dan blangkon bagi peserta pria.

Tanamkan Filosofi Jawa Sejak Kelas I

Tulisan yang memenuhi bentangan kain tersebut memuat ungkapan dan peribahasa Jawa yang sarat nilai filosofis. Di antaranya becik ketitik ala ketara, yang mengandung pesan bahwa perbuatan baik maupun buruk pada akhirnya akan terlihat.

Ada pula ungkapan adigang adigung adiguna, yang mengingatkan manusia agar tidak sombong karena kekuatan, kedudukan, atau kekayaan yang dimiliki.

Peserta juga menuliskan peribahasa bathok bolu isi madu, yang menggambarkan seseorang dengan penampilan sederhana, tetapi menyimpan kecerdasan atau kelebihan luar biasa.

Air Langga menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam menjaga eksistensi budaya dan bahasa Jawa. SD Antawirya berada di bawah naungan Pesantren Modern Al Amanah, Junwangi, Kecamatan Krian, yang menjadikan budaya Jawa sebagai salah satu landasan pembentukan karakter.

“Pendiri pesantren, KH Nurcholis Misbah, memberikan mandat kepada kami untuk menjadikan sekolah ini sekolah berbasis Islam dan budaya Jawa. Oleh karena itu, setelah penanaman akidah, keimanan, dan ketakwaan, anak-anak langsung dikenalkan dengan budaya Jawa yang pada intinya adalah pembentukan karakter,” ujarnya.

Komitmen tersebut diterapkan sejak siswa duduk di kelas I. Selain pembelajaran bahasa Jawa dalam kurikulum sekolah, para siswa dibiasakan menerapkan unggah-ungguh atau tata krama dalam pergaulan sehari-hari.

Penggunaan bahasa Jawa krama sebagai bentuk penghormatan kepada orang lain juga menjadi bagian dari pembiasaan tersebut. Sekolah turut mewajibkan guru dan siswa mengenakan baju lurik setiap Selasa. Tradisi ini telah berlangsung selama enam tahun.

Terinspirasi Semangat Pangeran Diponegoro

Nama Antawirya sendiri merujuk pada nama kecil Pangeran Diponegoro, yakni Bendoro Raden Mas Ontowiryo. Sosok tersebut dikenal sebagai pejuang nasional yang memiliki latar belakang santri dan berperan dalam perjuangan melawan penjajahan.

Air Langga menuturkan, semangat perjuangan, kedisiplinan, dan tanggung jawab Pangeran Diponegoro menjadi nilai yang ingin diwariskan kepada seluruh siswa.

“Nilai-nilai dan semangat perjuangan Raden Ontowiryo inilah yang akan kami tularkan kepada para murid. Bukan hanya mencetak anak yang pandai menjawab soal ujian, tetapi juga anak yang mempunyai karakter baik, disiplin, tanggung jawab, dan jujur,” tambahnya.

Sebagai sekolah berakreditasi A, SD Antawirya Islamic Javanese School memadukan kurikulum nasional, pendidikan pesantren, dan nilai-nilai budaya Jawa dalam proses pembelajaran.

Perpaduan tersebut diarahkan untuk membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesantunan, tata krama, dan karakter luhur. Melalui pemecahan rekor MURI ini, sekolah berharap kecintaan terhadap aksara dan budaya Jawa terus tumbuh di kalangan generasi muda. (one/sst)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular