Oleh : I Gede Joni Suhartawan
Dewi Uma, praktisi sekaligus ahli Wariga asal Bali, kini tengah mengembangkan penerapan ilmu wariga untuk skala individu, bukan hanya untuk urusan komunal seperti di masa lalu.
Buat yang belum familier, Wariga adalah sistem perhitungan waktu tradisional yang lazim digunakan di Jawa dan Bali. Tujuannya? Menentukan momen yang pas untuk memulai atau menghadapi sesuatu. Dalam budaya Jawa-Bali, waktu bukan cuma soal jam dan hari, tapi juga momentum.
Cara pandangnya luas. Waktu dilihat sebagai bagian dari perputaran bumi, tata surya, dan galaksi, lengkap dengan efeknya pada kehidupan di bumi. Semua itu dirangkum dalam sistem wewaran yakni pengelompokan hari dan siklus waktu. Selain 7 hari seperti yang kita kenal (Minggu–Sabtu, disebut Sapta Wara), ada juga siklus 5 hari atau Panca Wara (Umanis/Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Bahkan, di Bali siklus ini bisa sampai 10 putaran, dari Eka Wara sampai Dasa Wara.
Nah, Wariga bekerja dengan “mengiris” berbagai siklus ini, menghasilkan momen yang cocok atau kurang cocok bagi seseorang atau sebuah lembaga untuk melakukan sesuatu. Bahasa awamnya sering disebut “hari baik–hari buruk”, tapi sebenarnya lebih tepat kalau dibilang “hari harmonis–tidak harmonis” dengan alam.
Di masa lalu, Wariga lebih sering dipakai untuk hal-hal besar yang melibatkan banyak orang, misalnya kapan mulai bercocok tanam atau membangun rumah. Sekarang, Wariga juga bisa diterapkan ke level pribadi. Ibaratnya, seperti menentukan waktu yang pas untuk “menanam benih” niat baik dalam diri, atau membangun tekad pada momen yang seirama dengan alam.
Itulah yang sedang digarap Dewi Uma. Berbekal bakat alam dan didikan langsung dari gurunya, Ida Peranda Nyoman Temuku, ulama sekaligus ilmuwan karismatik Bali, Dewi Uma konsisten mengabarkan manfaat Wariga untuk individu, baik di forum nasional maupun internasional.
Bulan Mei lalu, misalnya, ia menjadi pembicara utama di seminar Universitas Indonesia bertema “Melestarikan dan Menginternasionalisasikan Warisan Budaya Nusantara untuk Perdamaian Dunia” yang digelar BEM FIB UI bersama Kementerian Kebudayaan dan Yayasan Sanjeev Lentera Indonesia. Acara ini sekaligus bagian dari kurasi warisan budaya tak benda Nusantara menuju daftar UNESCO.
Selain forum resmi, Dewi Uma juga aktif di komunitas—mulai dari diskusi di Eco Tebet Park, forum persahabatan Indonesia–Rusia, hingga pendampingan pribadi untuk kesehatan (wellness) dan bisnis berbasis prinsip Wariga.
Putu Suasta, aktivis kebudayaan, menyebut Dewi Uma sebagai fenomena generasi muda Bali yang berani speak out ke publik luas. “Wariga itu ilmu Timur yang nggak kalah ilmiahnya dari Barat. Generasi seperti ini patut kita dukung,” ujarnya.(*)



