Saturday, October 10, 2026
spot_img
HomeCatatan dari TepiCatatan dari Tepi: Jurnalisme Etis Masih Mungkin

Catatan dari Tepi: Jurnalisme Etis Masih Mungkin

Ada sosok yang saya sebut sahabat, bukan semata karena sering bersua, apalagi sekadar bersalaman dalam forum. Ia saya maknai sebagai sahabat dalam arti yang lebih dalam: seseorang yang jujur dalam pikiran, cermat dalam menyusun kata, dan ringan tangan dalam membagikan ilmu tanpa merasa lebih tinggi dari siapa pun.

Di tengah dunia yang kian riuh dan tergesa, ia tetap berjalan dengan langkah tenang, membawa percakapan pada substansi, bukan sorot kamera. Bukan pencari sorak, tapi penyala makna. Saya respek padanya, bukan karena kedekatan personal atau selera diskusi, melainkan karena konsistensinya sebagai jurnalis, pengajar, sekaligus pemikir komunikasi yang mampu mengurai keruwetan wacana media dengan bahasa yang lugas dan menyentuh. Ia terus membuktikan bahwa integritas bisa hidup berdampingan dengan keramahan.

Saya membacanya pelan-pelan, seperti biasa saya membaca tulisannya yang sejak lama saya hormati: berisi, jujur, dan memantik perenungan. Dalam satu unggahan singkatnya di media sosial, yang terasa lebih seperti secarik memo dari ruang batin, ia menulis:

“Tidak ada media yang independen. Media punya kepentingan. Selama media punya kepentingan, selama itu pula tidak ada media independen.”

Saya membaca kalimat itu seperti mendengar ketukan jari di kaca. Halus tapi menggetarkan sesuatu.

Sebagai pelaku media digital yang berada jauh dari ruang akademik, saya menyimaknya bukan untuk mengoreksi, apalagi membantah. Justru karena saya menganggap beliau sebagai sahabat dalam arti yang substansial, saya terdorong untuk menyambung suara, meski dari tepi. Bukan dari tengah ruang debat, melainkan dari ruang kecil refleksi.

Karena saya percaya: percakapan yang baik tidak lahir dari siapa yang paling benar, tapi dari siapa yang paling bersedia mendengarkan.

Media, Kepentingan, dan Kejujuran yang Masih Bertahan

Saya tidak menyangkal kenyataan bahwa media tidak pernah benar-benar steril dari kepentingan. Entah itu kepentingan pemilik modal, afiliasi politik, atau dorongan algoritma demi keterjangkauan konten. Dalam konteks ini, algoritma bekerja seperti gerbang digital: ia menentukan mana yang layak tampil di hadapan audiens, dan mana yang harus tersingkir karena dianggap kurang menarik secara angka. . Bahkan media yang disebut “alternatif” pun tak luput dari bias. Karena setiap redaksi terdiri dari manusia, dan manusia membawa nilai.

Namun dari ruang kecil pengalaman saya sebagai pelaku media digital, saya melihat sendiri bahwa jurnalisme etis masih diperjuangkan, meski mungkin tak banyak yang melihatnya. Saya mengenal beberapa media kecil yang bertahan tanpa iklan korporasi, dengan pendanaan terbuka dari publik, atau setidaknya menjaga batas tegas antara dapur bisnis dan ruang redaksi. Mereka tidak sempurna. Tapi mereka sadar diri. Dan kesadaran itu cukup untuk menjadi fondasi kejujuran.

Saya percaya, independensi bukan perkara mutlak, melainkan komitmen yang terus-menerus diuji. Dan selama komitmen itu masih ada, meski dalam bentuk paling sederhana, maka kepercayaan publik tetap bisa dijalin.

Saya setuju bahwa media tidak pernah steril dari kepentingan. Kepentingan pemilik, kepentingan pasar, bahkan kepentingan audiens yang—secara tak langsung—menentukan arah algoritma. Sebab algoritma bukan hanya dikendalikan oleh sistem, melainkan juga dibentuk dari kebiasaan klik, durasi tonton, dan ritme konsumsi publik yang tak henti-hentinya berubah. Di titik ini, selera khalayak ikut menciptakan tekanan bagi redaksi.

Tidak ada media yang benar-benar lepas dari semua itu. Bahkan ketika media menolak intervensi eksternal, ia tetap membawa nilai-nilai internal yang tidak selalu netral.

Namun saya juga percaya: di tengah kepentingan, masih ada upaya untuk menjaga kejujuran. Dan mungkin dari situlah lahir apa yang kita sebut jurnalisme etis—yakni cara bertahan untuk tetap menyuarakan kebenaran, kendati tidak dalam kondisi yang ideal.

Bagi saya, jurnalisme etis adalah ruang kecil yang layak dirawat. Ia tidak menjanjikan kesempurnaan, tapi setidaknya tidak bersekutu dengan ketidakjujuran. Ia tidak mengaku bebas dari bias, tapi tetap berusaha adil dan transparan. Dan selama masih ada jurnalis yang memegang teguh prinsip ini, di media besar, kecil, daring, atau komunitas, maka harapan itu belum padam.

Istilah jurnalisme etis mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Bahkan beberapa jurnalis muda pun bisa jadi lebih akrab dengan istilah jurnalisme damai, jurnalisme solusi, atau jurnalisme sastrawi, yang terdengar lebih populis dan menjanjikan pendekatan segar.

Namun jurnalisme etis justru adalah fondasi dasar dari semua pendekatan itu. Ia adalah cara pandang yang menempatkan kebenaran, keadilan, keberimbangan, dan tanggung jawab publik sebagai pijakan utama dalam proses jurnalistik. Bukan sekadar soal gaya menulis atau tema liputan, tapi soal bagaimana berita disusun dengan akurasi, tanpa manipulasi, dan dengan kesadaran penuh akan dampaknya bagi masyarakat.

Jurnalisme etis menolak untuk menjadi sekadar alat kekuasaan, tapi juga tidak tenggelam dalam dramatisasi atau klik semata. Ia memilih jalur yang tidak selalu nyaman, tapi bisa dipercaya.

Bagi saya, jurnalisme etis bukan sesuatu yang agung dan elitis. Ia justru bisa tumbuh dari keputusan-keputusan kecil sehari-hari: memverifikasi ulang kutipan, menghindari framing yang menyesatkan, memberi ruang suara kepada yang tak terdengar, dan menahan diri dari godaan viralitas.

Dari Relasi ke Dialog: Media Tak Perlu Dikuasai

Dalam catatan itu, sahabat saya juga menyinggung kekuatan media:

“Siapa menguasai media, dia menguasai dunia. Tapi media tidak bisa dikendalikan. Maka bangunlah relasi dengan media secara elegan.”

Saya sepakat. Tapi saya juga percaya bahwa relasi yang sehat bukan soal kuasa, melainkan ruang tumbuhnya saling percaya. Media tak perlu dijinakkan. Ia cukup diajak bicara, dihormati, dan dikritisi dengan adab.

Sebab pada akhirnya, kekuatan media bukan hanya karena ia mampu menggiring opini, melainkan karena ia dipercaya untuk menyampaikan kebenaran, betapapun getir, betapapun tak menguntungkan.

Menjaga Api Kecil Itu Masih Mungkin

Mungkin benar, kita tidak bisa berharap media sepenuhnya bersih dari bias dan kepentingan. Tapi dari sekian banyak keraguan yang mengitari, masih ada ruang kecil yang terang tempat beberapa jurnalis berjalan perlahan, membawa senter kebenaran di genggamannya. Meski kadang nyalanya redup, diterpa angin deras algoritma dan tekanan finansial yang tak kalah mengguncang. Dalam arti ini, algoritma bukan sekadar sistem teknis, melainkan kekuatan besar yang bisa menyesap habis semangat idealis bila tak disikapi dengan sadar.

Saya tidak sedang meromantisasi jurnalisme. Saya tahu betul lika-likunya. Tapi saya ingin tetap percaya bahwa ada yang masih menjaga garis batasnya, ada yang memilih jujur meski tak ramai, ada yang tetap menulis bukan demi pujian, tapi karena meyakini bahwa publik layak tahu.

Saya tidak sedang menggurui siapa pun. Tidak juga berdiri lebih tinggi dari apa pun. Saya hanya seseorang yang duduk di pinggir, menyimak percakapan tentang media dan masa depannya, lalu mencatat dengan pelan. Karena saya percaya, kadang yang datang dari tepi justru bisa melihat sesuatu yang terlewat oleh yang berdiri di tengah.

Dan dalam catatan ini, saya menyisipkan satu pesan kecil, bukan hanya untuk sahabat yang tulisannya memantik renung, tapi juga untuk diri sendiri: bahwa jurnalisme etis bukan kemewahan yang punah, tapi komitmen sederhana yang perlu terus disulam. Pelan-pelan. Tapi sungguh-sungguh.

Dan jurnalisme yang baik, seperti catatan kecil di buku harian kita, akan selalu menjadi guru yang mengingatkan: bahwa kebenaran boleh diperdebatkan, tapi tidak untuk dikubur. (Ridwan)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular