Sunday, October 11, 2026
spot_img
HomeJejak Seorang Pengembara Media: Kisah di Balik Buku Wong Katrok Merambah Media

Jejak Seorang Pengembara Media: Kisah di Balik Buku Wong Katrok Merambah Media

DI USIA yang tak lagi muda, Sasetya Wilutama berdiri di depan ruang ujian, bukan untuk mengulang kisah mahasiswa kebanyakan, melainkan untuk merayakan hidup yang sudah ia isi dengan perjalanan panjang di dunia media.

Buku Wong Katrok Merambah Media bukan sekadar tugas akhir, melainkan skripsi yang menjelma menjadi buku, buku yang akhirnya menjelma menjadi perayaan.

Ia menuliskannya seperti seorang pengembara yang menyusuri jejaknya sendiri: dari ruang redaksi majalah berbahasa Jawa Penyebar Semangat, ke sorot lampu SCTV, hingga layar kaca lokal dan digital yang ia rintis bersama rekan-rekannya. Semua pengalaman itu ia rangkai menjadi cerita, seakan ingin berkata—“inilah saya, wong katrok, yang tak pernah berhenti merambah.”

Jum’at (3/10/2025), di Kampus Stikosa-AWS Surabaya, buku itu lahir dengan cara yang unik sekaligus sebagai ujian skripsi dan peluncuran karya. Salah satu ruang di kampus itu menjadi panggung yang hangat; tempat dosen, jurnalis, mahasiswa, dan sahabat lama ikut menyaksikan bagaimana perjalanan panjang seorang pengembara media berpuncak pada sebuah buku.

Acara dimulai dengan penyerahan buku kepada Wakil Ketua Stikosa-AWS, Yunita Indinabila. Simbol kecil, tapi sarat makna buku itu bukan lagi milik pribadi melainkan bagian dari sejarah kampus. Setelah itu, diskusi terbuka pun berlangsung, menghadirkan tiga sosok dengan lintasan hidup yang berbeda namun saling berkelindan. Sasetya Wilutama, Imung Mulyanto, dan Doddy Hernanto yang karib disapa Mr. D, seniman digital pencipta aliran baru dunia lukis yang disebutnya sebagai aliran Codeisme.

Namun ada satu yang membuat acara ini lebih dari sekadar launching buku. Karya Sasetya juga menjadi tugas akhir pengganti skripsi, dipertanggungjawabkan langsung di depan para dosen penguji, disaksikan jurnalis, sastrawan, dan mahasiswa.

Di antara sambutan, Yunita menuturkan kalimat yang membuat audiens hening sejenak. “Saya salut,” katanya, “Pak Sasetya tetap bersemangat belajar, meski pengalaman dan karyanya sudah banyak.” Kata-kata itu terasa lebih dalam dari sekadar formalitas. Seolah ada penghormatan untuk seorang yang tak menyerah pada usia, dan memilih menjadikan buku sebagai mahkota terakhir dalam perjalanan akademiknya.

Semangat yang Tak Kenal Usia

Ada semacam paradoks yang menyentuh di hadapan audiens. Di usia yang tidak lagi muda, Sasetya justru berdiri dengan semangat seorang mahasiswa baru. Tak ada gugup yang kentara, yang ada hanyalah ketulusan menjawab pertanyaan, menyampaikan ide, sekaligus menertawakan dirinya sendiri sebagai wong katrok yang nekat merambah dunia media.

Buku Wong Katrok Merambah Media sendiri adalah jejak panjang yang ditulis ulang. Dari meja redaksi majalah berbahasa Jawa Penyebar Semangat, ke studio SCTV dengan lampu sorot yang panas, hingga layar kaca lokal seperti Arek TV, Bojonegoro TV, sampai Jetset Channel dan Matrix TV Digital. Semua itu adalah jejak langkah seorang pengembara yang berpindah-pindah, tapi tak pernah benar-benar berhenti.

“Semula saya beri judul Wong Katrok Masuk Tipi,” ucapnya sambil tersenyum, seolah mengenang masa mudanya di televisi nasional. “Tapi saya sadar, dunia ini bergerak terlalu cepat. Ada masa cetak, lalu elektronik, dan kini digital. Jadi judulnya saya ubah menjadi Wong Katrok Merambah Media.” Kalimatnya sederhana, tapi mencerminkan kesadaran: bahwa hidup adalah perubahan, dan hanya dengan menulis, perubahan itu bisa ditangkap.

Di bangku audiens, para jurnalis dan sastrawan menyimak dengan rasa campur aduk: hormat, kagum, juga sedikit iri. Tidak banyak yang mampu melahirkan buku di tengah kesibukan mengejar berita harian. Apalagi menjadikannya skripsi yang layak diuji. Sasetya, dengan caranya yang tenang dan katrok itu, justru membuktikan: usia bukan batas, melainkan penanda bahwa perjalanan masih bisa dilanjutkan.

Dorongan Sahabat dan Mahkota Penulis

Tak ada buku yang lahir sendirian. Begitu pula Wong Katrok Merambah Media. Di balik halaman-halamannya, ada suara-suara sahabat yang tak henti menagih dan mendorong. Imung Mulyanto, jurnalis senior sekaligus editor buku ini, bahkan sering berseloroh dengan nada serius: “Sampeyan ini sudah saatnya menerbitkan buku. Sudah menulis berita, esai, cerpen, puisi, geguritan, bahkan naskah sinetron—masak tidak ada satu pun yang dibukukan? Ayolah!”

Ada pula Adriono, mantan wartawan Surabaya Post, yang menambahkan kalimat menohok: “Buku itu ibarat mahkota bagi penulis, Mas Sas.” Sementara itu, Amang Mawardi, seniornya di Stikosa-AWS, sudah menulis 17 buku—sebuah teladan yang nyaris tak memberi ruang untuk menunda lagi. Semua dorongan itu mengalir seperti arus yang akhirnya mendorong perahu tua berlayar kembali.

Dan Sasetya menanggapinya dengan cara yang khas: bukunya tak hanya hadir dalam bentuk cetakan, tapi juga dalam rupa kaos, bookmark, hingga lagu berjudul Wong Katrok. Semua diberi sentuhan teknologi QR Art karya sahabatnya, Doddy Hernanto alias Mr D. Hanya dengan memindai gambar di kaos atau pembatas buku, seluruh isi e-book akan terbuka. Ada semacam kelakar serius di situ: bahwa wong katrok pun bisa menembus batas, memadukan tradisi buku dengan permainan digital.

Yang tampak sederhana itu sejatinya adalah perayaan: perayaan persahabatan, perayaan karya, dan perayaan hidup. Seakan Sasetya ingin menegaskan bahwa menulis tidak pernah sendirian. Ada sahabat yang mengingatkan, ada rekan yang menguatkan, ada generasi yang akan membaca. Dan pada akhirnya, buku itu sendiri menjadi mahkota—bukan hanya untuk penulisnya, tetapi juga untuk perjalanan panjang yang tak ingin hilang begitu saja.

Puisi sebagai Catatan Gelisah

Setelah esai-esai Sasetya dibacakan, giliran Imung Mulyanto yang memperkenalkan bukunya. Tuhan, Plis Deh… terdengar seperti judul yang bersenda gurau, tetapi di baliknya terkandung kegelisahan yang dalam. “Menulis puisi adalah kemerdekaan. Di situ saya menulis tanpa titipan pesan, tanpa deadline, murni dari hati nurani,” cetusnya.

Buku antologi ini memuat lima puluh puisi, terbagi dalam empat bagian: cinta semesta, cinta pertiwi, cinta sesama, dan cinta Tuhan. Proses kreatifnya pun unik—seperti menulis berita. Ada riset, ada observasi, ada wawancara. Semua disiplin jurnalistik yang dulu menjadi kesehariannya, kini berpindah ke dalam ruang puisi. Hasilnya: larik-larik yang lahir dari pengamatan, sekaligus dari kegelisahan pribadi.

Imung bukan nama baru di dunia kata. Hampir lima belas tahun ia menjadi wartawan Surabaya Post, lalu mengawal Jatim Newsroom, dan lebih dari satu dekade memimpin redaksi Arek TV. Sebelum itu, ia menulis skenario pendidikan di Pustekkom, bahkan ikut bersama almarhum Arswendo Atmowiloto menulis serial legendaris ACI (Aku Cinta Indonesia) di era 80-an. Kini, semua pengalaman panjang itu menemukan rumah baru: puisi yang jujur, personal, dan tak lagi terikat oleh aturan redaksi.

Di hadapan audiens, Imung seakan menunjukkan bahwa seorang jurnalis tak harus berhenti di berita harian. Ada ruang lain, ruang sunyi, yang menampung keresahan dan doa. Dan sore itu, puisinya seakan berkelindan dengan esai-esai Sasetya: dua cara berbeda, satu niat yang sama—menulis karena ada yang mengusik hati, menulis karena tidak bisa diam. (one/sst)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular