Jombang-(satujurnal.com)
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) biasanya penuh semangat. Di banyak sekolah, ini menjadi ajang mengenalkan suasana kelas, bertemu teman baru, atau menjelajah fasilitas sekolah. Tapi di SD Negeri Jabon 02, Kecamatan Jombang, Jawa Timur, suasana itu berubah jadi ironi.
Hari pertama MPLS, empat siswa baru SDN Jabon 02 berdiri berbaris. Tak banyak keriuhan, hanya wajah-wajah polos yang mengikuti pengarahan guru. Di sekolah lain, siswa baru diajak mengenal ruang kelas, perpustakaan, atau taman bermain. Di sini, mereka justru diajak berkeliling menyaksikan gedung-gedung tua yang nyaris roboh.
Beberapa bangunan tampak lapuk, atap jebol, dan plafon nyaris runtuh. Dinding-dinding penuh retakan. Di bagian lain, perpustakaan tak terurus ditumbuhi semak belukar. Kondisi yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa prihatin.
“Mereka kami ajak berkeliling, bukan melihat fasilitas, tapi melihat kenyataan,” kata Puji Utami, Kepala SDN Jabon 02, sambil menahan senyum getir.
Bukan cuma soal jumlah siswa yang tak memenuhi pagu, hanya empat siswa tahun ini , tapi juga soal keterbatasan ruang belajar. Ruang kelas 1 dan 2 terpaksa dikosongkan karena kondisinya sangat membahayakan. Kayu-kayu atap lapuk, plafon jebol, dan beberapa bagian hampir runtuh.
“Kelas 1 dan 2 kami jadikan satu di ruang kelas 3. Kelas 3 kami geser ke kantor kepala sekolah. Ruang guru juga kami pakai,” ujar Puji.
Semua ruangan yang tersedia diakali jadi kelas darurat. Bahkan ruang guru, tempat seharusnya para pengajar berdiskusi, berubah jadi ruang belajar. Sementara itu, beberapa kelas lain tidak memiliki lantai layak, hanya tanah berdebu yang rawan memicu masalah kesehatan.
“Kalau saya biarkan belajar di kelas yang rusak, saya takut. Kalau ada apa-apa, siapa yang tanggung jawab?” tambah Puji.
Saat ini, karena masih MPLS, siswa-siswa digabung dalam satu ruangan. Namun setelah MPLS selesai, pihak sekolah harus memutar otak lagi agar pembelajaran tetap berjalan sesuai jenjang.
“Besok sudah mulai pembelajaran, jadi harus saya pisah. Tapi ruangan ya itu-itu saja. Mau bagaimana lagi?” kata Puji.
Lebih dari sekadar cerita soal gedung, kisah ini menggambarkan potret buram pendidikan di sebagian wilayah Jombang. SDN Jabon 02 tidak hanya berjuang melawan keterbatasan fasilitas, tapi juga menghadapi tantangan minimnya siswa baru. Sebuah realitas yang tak bisa ditutup-tutupi dengan jargon pendidikan. (wie)



