Wednesday, October 7, 2026
spot_img
HomeRegionalPemkot MojokertoHAN 2025, Ning Ita: Tidak Ada Tempat untuk Bullying dan Eksploitasi Anak

HAN 2025, Ning Ita: Tidak Ada Tempat untuk Bullying dan Eksploitasi Anak

Mojokerto-(satujurnal.com)
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menegaskan komitmennya dalam melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan, perundungan, dan eksploitasi. Pesan tegas itu disampaikan saat peringatan Gebyar Hari Anak Nasional (HAN) 2025 yang digelar di Hall Lantai 4 Mal Pelayanan Publik (MPP) Gajah Mada, Rabu (30/7/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota, menerima Piagam Maklumat Suara Anak Indonesia dari Forum Anak Kota Mojokerto. Penyerahan piagam ini menjadi simbol bahwa suara anak-anak tidak boleh diabaikan dan harus menjadi pertimbangan dalam setiap pengambilan kebijakan publik.

“Maklumat ini adalah amanah. Pemerintah harus membuka telinga dan hati terhadap apa yang menjadi suara dan kebutuhan anak-anak. Karena mereka adalah generasi penerus yang akan melanjutkan pembangunan bangsa,” ujarnya.

Ning Ita menyampaikan, anak bukan hanya amanah bagi keluarga, tapi juga investasi berharga bagi masa depan kota dan bangsa. Karena itu, mereka harus dilindungi dan dipenuhi hak-haknya agar tumbuh optimal dalam lingkungan yang aman, sehat, dan penuh kasih sayang.

“Tidak boleh ada bullying, kekerasan fisik maupun psikis, eksploitasi, atau perlakuan diskriminatif. Setiap anak berhak mendapatkan perlindungan dan kesempatan yang sama untuk berkembang jadi pribadi yang berkualitas,” tegasnya.

Wali kota perempuan pertama di Kota Mojokerto ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi anak-anak di era digital. Menurutnya, meskipun teknologi membawa banyak manfaat, namun di sisi lain juga membuka celah terhadap konten negatif yang berisiko merusak mental dan karakter anak.

“Media sosial dan internet bisa menjadi ruang belajar yang luar biasa, tapi jika tanpa pendampingan dan kontrol, justru bisa berbahaya. Anak bisa terpapar konten kekerasan, pornografi, ujaran kebencian, hingga informasi yang menyesatkan,” tuturnya.

Untuk itu, ia mengajak semua pihak yakni orang tua, pendidik, komunitas, dan pemerintah, untuk bersinergi membentuk ekosistem yang ramah anak, termasuk menciptakan ruang digital yang aman dan sehat bagi mereka.

Dalam sambutannya, Ning Ita juga menekankan peran penting satuan pendidikan sebagai “rumah kedua” bagi anak-anak. Ia berharap sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tapi juga ruang aman dan inklusif bagi anak untuk menyampaikan ide dan keluh kesahnya.

“Anak-anak harus merasa didengarkan dan diperhatikan. Guru dan tenaga pendidik perlu memberi ruang yang sehat agar mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, kritis, dan empatik,” tambahnya.

Pemerintah Kota Mojokerto sendiri terus menunjukkan komitmennya dalam pemenuhan hak-hak anak. Saat ini, kota telah meraih predikat Kota Layak Anak kategori Nindya dan terus mendorong pengembangan fasilitas yang ramah anak, seperti sekolah ramah anak, ruang bermain publik, dan tempat ibadah yang inklusif.

Gebyar HAN 2025 diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto dan diisi dengan beragam kegiatan edukatif, kreatif, serta partisipatif dari anak-anak dan remaja. Acara ini menjadi momentum refleksi sekaligus pengingat bahwa pembangunan kota yang baik harus berpihak pada masa depan generasi mudanya.

“Kalau kita ingin Indonesia maju, maka hari ini adalah saat yang tepat untuk memperkuat pondasinya, yaitu anak-anak. Mari jadikan Hari Anak Nasional bukan sekadar seremoni, tapi pijakan untuk mewujudkan Kota Mojokerto yang benar-benar ramah dan layak bagi tumbuh kembang mereka,” pungkas Ning Ita.(ant/hms)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular