Friday, October 9, 2026
spot_img
HomeSosial BudayaFestival Perempuan Penyair Indonesia, Luncurkan Antologi Susur Sisir Tengger

Festival Perempuan Penyair Indonesia, Luncurkan Antologi Susur Sisir Tengger

Jakarta-(satujurnal.com)
Hanya empat bulan setelah gegap-gempita Pulang Kampung Tradisi (PKT) ke-5 meresonansi dari lereng Tengger hingga ruang-ruang sastra nasional, Perempuan Penyair Indonesia (PPI) kembali menorehkan jejak penting. Sabtu, 15 November 2025, Ruang Serbaguna Lantai 4 Perpustakaan Nasional RI berubah menjadi panggung perayaan kata, sebuah festival perdana yang diniatkan menjadi tradisi tahunan: Festival Perempuan Penyair Indonesia (PPI).

Dibuka secara resmi oleh Kepala Perpustakaan Nasional Prof. E. Aminudin Aziz, M.A., Ph.D., melalui perwakilannya Juli Nainggolan, festival ini menghadirkan atmosfer yang berbeda. Lebih intim, lebih naratif, dan lebih menekankan kedalaman proses kreatif penyair perempuan Indonesia.

Tiga agenda utama merangkai festival sehari itu: diskusi dan peluncuran antologi puisi Susur Sisir Tengger, pameran karya PPI, serta pertunjukan puisi.

Dalam sesi pertama, sorotan tertuju pada Susur Sisir Tengger , sebuah buku yang tumbuh dari perjalanan riset para anggota PPI di Ngadas, Poncokusumo, Kabupaten Malang, salah satu dari 36 desa Suku Tengger. Di desa itu, 25 peserta PKT menapaki jalur yang sama. Tinggal bersama warga, menggali tradisi, menafsir ulang lanskap budaya, lalu menuliskannya menjadi puisi.

Rangkaian PKT Juli 2025 itu menyulam ingatan kolektif, dari workshop puisi tradisi di Rumah Cengger Ayam, menyaksikan Padhang Bulan di Mesem Cafe, menginap di Padepokan Seni Mangun Dharmo, hingga ziarah budaya ke Candi Kidal, Jago, dan Singosari. Di penghujung perjalanan, sebuah pergelaran seni memberi ruang bagi tradisi topeng, warisan Ki Soleh Adi Pramono menyatu dengan puisi.

Hasil dari perjalanan penuh napas tradisi itulah yang akhirnya dibahas dalam forum diskusi bersama Annisa Rengganis (Staf Khusus Menteri Kebudayaan), Dr. Sastri Sunarti (BRIN), antropolog Muhammad Ade Putra, dan jurnalis Heti Palestina Yunani.

Ketua PPI Kunni Masrohanti menegaskan, peluncuran buku ini bukan hanya soal selebrasi, tetapi penanda komitmen. “Puisi adalah ruang kejujuran dan keberanian menuturkan batin manusia. Melalui puisi, perempuan menorehkan kisahnya tentang cinta, luka, perjuangan, dan kebijaksanaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penyair perempuan Indonesia terus menembus batas sosial dan geografis, menjaga bahasa, menjaga nurani. Festival ini menjadi ruang bertemu, merayakan, sekaligus menguatkan posisi perempuan dalam lanskap sastra nasional.

Bagi PPI, Susur Sisir Tengger bukan hanya antologi. Ia adalah dokumentasi perjalanan kreatif yang berbasis riset, lahir dari perjumpaan langsung dengan masyarakat dan tradisi. “Ini ciri PPI: merawat tradisi untuk merawat Indonesia,” lanjut Kunni.

Selain peluncuran buku, festival menghadirkan pameran karya dan pertunjukan puisi dari para penyair perempuan berbagai daerah. Ruang serbaguna Perpusnas berubah menjadi semacam galeri hidup, di mana suara, warna, dan interpretasi budaya saling bersahutan.

Ketua Panitia Devie Matahari menyebut festival ini dirancang sebagai momentum memperluas apresiasi terhadap karya sastra perempuan.

“Kami ingin festival ini menjadi ruang berekspresi, berdialog lintas generasi, dan memperkuat jejaring komunitas sastra perempuan di Indonesia,” ujarnya.

Festival turut dihadiri akademisi, komunitas sastra-budaya, mahasiswa, pelajar, serta masyarakat pecinta seni. Harapannya sederhana namun kuat, yakni agar festival ini bertumbuh menjadi agenda tahunan yang memberi dampak luas, meneguhkan peran perempuan penyair dalam merawat tradisi, sastra, dan Indonesia itu sendiri.(one/sst)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular