Jombang-(satujurnal.com)
Lonjakan harga kedelai impor memukul pelaku usaha tahu di Kabupaten Jombang. Para perajin kini tak lagi mampu menyiasati ukuran produk.
Beban biaya produksi yang membengkak signifikan memaksa para perajin mengambil langkah berat dengan menaikkan harga jual ke konsumen.
Di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, sentra industri tahu terbesar di wilayah ini, para pelaku usaha kini berada di persimpangan jalan antara mempertahankan kualitas atau gulung tikar di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik.
Tekanan itu dirasakan Nuryatin, salah satu pemilik usaha tahu di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto. Setiap harinya, dapur produksinya membutuhkan lebih dari dua ton kedelai untuk memenuhi permintaan pasar.
“Ya otomatis sangat berpengaruh, karena bahan baku utamanya tahu itu kedelai,” ujar Nuryatin saat ditemui di lokasi produksinya, Rabu (29/4/2026).
Ia menuturkan, harga kedelai impor kini telah menyentuh angka Rp 10.600 per kilogram, melonjak drastis dari posisi sebelumnya di kisaran Rp 9.600 per kilogram.
Dampak langsung dari kenaikan seribu rupiah per kilogram ini terasa sangat nyata pada neraca keuangan harian. Nuryatin merinci, biaya operasional untuk satu kali proses memasak (per masak) kini membengkak menjadi Rp 240.000, naik dari sebelumnya yang hanya Rp 220.000. Mengingat rumah produksinya melakukan proses memasak hingga 145 kali dalam sehari, akumulasi kenaikan biaya ini menciptakan defisit anggaran yang menggerus margin keuntungan tipis para pengrajin.
Upaya lama seperti mengecilkan ukuran tahu tidak lagi dipilih. Ia menyebut cara itu sudah tidak lagi efektif dan bisa merusak kepercayaan pelanggan.
“Untuk saat ini kami sudah tidak bisa lagi main di ukuran, melainkan harus menaikkan harga jual ke konsumen,” tegasnya dengan nada prihatin.
Keputusan iitu diambil sebagai jalan terakhir agar roda usaha tetap berputar tanpa mengorbankan kualitas produk yang selama ini menjadi andalan.
Meski terpaksa menaikkan harga dan menghadapi sedikit penurunan volume produksi, Nuryatin tetap berupaya menjaga target produksi di angka dua ton lebih per hari demi memenuhi kebutuhan pasar yang terus mengalir.
Namun, ketidakpastian harga komoditas global ini menimbulkan kecemasan mendalam bagi seluruh ekosistem usaha tahu di Desa Sumbermulyo. Mereka mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret menstabilkan harga kedelai impor. Tanpa intervensi cepat, ancaman kebangkrutan massal bagi usaha mikro di sektor pangan ini bukan lagi sekadar isu, melainkan realitas yang menghantui setiap dapur produksi di Jombang.(rial)



