Saturday, October 10, 2026
spot_img
HomeCatatan dari TepiGraffiti, Ludruk, dan Ingatan Kecil tentang Cak Supali

Graffiti, Ludruk, dan Ingatan Kecil tentang Cak Supali

Catatan dari Tepi

Melihat wajah Cak Supali, maestro ludruk Mojokerto, dalam bentuk graffiti yang tergurat di bawah beton penyanggah Tol Jombang–Mojokerto (Jomo) di kawasan Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, hasil jepretan Sofanka, wartawan Radar Mojokerto berjudul Cak Supali Dalam Bingkai Graffiti yang tayang tiga hari lalu, saya pun teringat satu pertemuan tak sengaja dengan Cak Supali di Warung Ngatari, warung di ujung timur Jalan Gunung Gedangan, Magersari, Kota Mojokerto, sekitar tahun 2010 silam.

Saat saya masuk warung, pemilik nama lahir Bambang Supali – yang juga populer dengan nama panggung Cak Alex Supali – tampak duduk bercengkerama bersama beberapa orang dari rombongan kecilnya.

Ekspresi Cak Supali dalam foto graffiti karya Sofanka, terlihat serius tetapi tenang. Kumis tebalnya masih khas. Sorot matanya masih seperti yang saya ingat kala di warung itu.

Tetapi yang paling melekat justru cara bicaranya.

Kendati baru kali itu kami benar-benar berbincang “empat mata”, sosok jenaka itu membuka obrolan ringan yang mengalir begitu saja. Dari nasib ludruk hingga kehidupan pribadinya, semua ia ceritakan dengan cara yang membuat percakapan terasa hidup.

Ludruk seperti tidak pernah lepas dari dirinya. Bahkan ketika sedang tidak berada di panggung, cara ia menyapa, melontarkan kalimat, hingga memberi jeda dalam percakapan tetap terasa seperti pertunjukan kecil.

Cara ia bercerita membuat meja warung seperti berubah menjadi panggung kecil. Orang-orang yang semula sibuk makan mulai melirik.

Cak Supali tahu dirinya diperhatikan. Dan seperti kebanyakan pelawak ludruk generasinya, ia paham betul bagaimana mengubah perhatian menjadi suasana.

Warung Ngatari siang itu memang ramai. Selain kopi dan teh panas, tempat itu dikenal karena kudapan ekstremnya: kodok goreng, nyambek, dan menu-menu yang membuat sebagian orang penasaran, sementara yang lain memilih menyerah sebelum mencoba.

Di tengah keramaian itu, tiba-tiba Cak Supali beringsut sedikit dari duduknya lalu berseru kepada pemilik warung:

“Cak Ngatari, itungen kabeh!”

Jari telunjuknya mengarah ke seluruh meja dan lesehan yang dipenuhi pengunjung.

Warung langsung riuh.

Cak Ngatari mengambil kalkulator, menghitung cepat, lalu menyebut angka total yang harus dibayar.

Dan mendadak, Cak Supali tampak kaget.

“Lho, aku lak mung ngombeh teh sak gelas, kok larang ngunu?” katanya dengan nada protes yang dibuat-buat.

Beberapa pengunjung ikut bingung.

“Lho, jarene dibayari kabeh…” sahut seseorang.

Dan di situlah jebakan kecil itu pecah.

“Iki jenenge salah urat. Aku cuma ngelengno, ojok sampek lali wong-wong iku durung bayar kabeh.”

Tawa langsung meledak.

Cak Ngatari tersipu. Pengunjung bertepuk meja. Dan Cak Supali hanya tersenyum kecil sambil melambaikan tangan, seolah baru saja menyelesaikan satu adegan.

Saat itulah saya sadar: ludruk bagi seniman seperti Cak Supali bukan profesi yang bisa dilepas setelah turun panggung.
Ia sudah menjadi cara hidup.

Cara bicara.

Cara melihat dunia.

Nama Cak Supali mungkin tidak dibesarkan lewat industri rekaman kaset komersial seperti beberapa pelawak ludruk lain di zamannya. Tetapi di kalangan ludruk tobong, ia adalah nama besar.

Hidupnya benar-benar dihabiskan di dunia panggung rakyat. Ia dikenal sebagai bagian penting dari Ludruk Karya Budaya Mojokerto, kelompok ludruk yang pernah menjadi salah satu denyut kesenian rakyat Mojokerto.

Bersama nama-nama seperti Cak Trubus dan Cak Slamet, ia membangun lawakan khas ludruk yang dekat dengan keseharian wong cilik: spontan, cerdas, dan terasa akrab.

Namun Cak Supali tidak hanya dikenal sebagai pelawak.
Ia juga musikus dan komposer yang melahirkan puluhan lagu campursari dan komposisi gamelan ludruk, seperti disebut Aris Setiawan, Etnomusikolog Institut Seni Indonesia (lSI) Surakarta dalam artikelnya “Bambang Supali, Cak Alex Supali: Sang Maestro Ludruk Itu Telah Pergi” yang dimuat Pusaka Jawatimuran (2012).

Salah satu karya yang paling dikenal adalah Sambel Kemangi, lagu yang hingga kini masih akrab di telinga penikmat gamelan Jawa Timuran.


Sebelum dikenal luas sebagai pelawak ludruk, ia bahkan sempat terlibat dalam pertunjukan ketoprak tobongan.

Lantaran itu pula, ketika ia wafat pada Januari 2012 silam, banyak orang merasa kehilangan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Bukan hanya senimannya.
Tetapi juga suasana yang ia bawa.

Kini, ketika wajahnya muncul dalam graffiti besar di beton penyanggah Tol Jomo, yang masuk dalam lensa kamera Sofanka – nama artistik Sofan Kurniawan – fotografer yang sebelumnya menggelar pameran foto bertajuk “Travesti: Dialektika Tubuh dan Perlawanan” di Jombang, saya merasa mural itu seperti penanda bahwa Mojokerto pernah memiliki orang-orang yang membuat ruang terasa lebih hidup.

Graffiti itu, kata seorang warga dalam tulisan Sofanka, tak berhenti pada vandalisme semata. Ia menjadi cara menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang ludruk dan orang-orang yang pernah menghidupinya.

Dan memang, beberapa seniman ludruk tidak benar-benar pergi.
Mereka hanya berpindah medium.

Mungkin benar seperti yang ditulis Clifford Geertz dalam The Interpretation of Cultures (1973), kebudayaan hidup melalui simbol-simbol yang terus diwariskan. Dan kadang, simbol itu muncul bukan di museum atau gedung pertunjukan, melainkan di tembok kusam pinggir jalan.

Cak Supali telah lama pergi.

Tetapi namanya masih terasa akrab ketika disebut. Seolah Mojokerto diam-diam masih menyimpan suara tawa itu di sudut tertentu.

Apalagi kini, rekaman lawakannya masih bisa dinikmati melalui berbagai platform digital, membuat suaranya seperti belum benar-benar selesai meninggalkan panggung.(ridwan)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular